Anies dan Gagasan yang Bertahan Setelah Kekuasaan Berlalu
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam politik, banyak orang dikenang karena jabatan yang pernah mereka pegang. Namun sejarah sering memiliki cara penilaian yang berbeda. Ia tidak selalu mengingat siapa yang paling lama berkuasa atau siapa yang paling sering menjadi berita. Sejarah lebih sering mengingat gagasan yang tetap hidup setelah kekuasaan berlalu.
Dalam konteks itulah, kebijakan Hari Pertama Sekolah yang diperkenalkan Anies Baswedan pada 2016 layak dilihat kembali.
Saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies mengajak orang tua mengantar anak mereka pada hari pertama sekolah. Sekilas, kebijakan itu tampak sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk ukuran sebuah kebijakan nasional. Tidak ada proyek besar yang bisa diresmikan. Tidak ada angka anggaran yang bisa dipamerkan. Tidak ada pembangunan fisik yang mudah diukur keberhasilannya.
Yang ditawarkan Anies saat itu hanyalah sebuah gagasan: pendidikan membutuhkan kehadiran keluarga.
Di tengah berbagai persoalan pendidikan yang kompleks, mulai dari kualitas pembelajaran, pemerataan akses, hingga persoalan infrastruktur, gagasan tersebut terlihat nyaris sepele. Sebagian orang mempertanyakan urgensinya. Sebagian lainnya menganggap negara terlalu jauh memasuki wilayah privat keluarga.
Namun sering kali kekuatan sebuah ide justru terletak pada kesederhanaannya.
Anies tampaknya memahami bahwa pendidikan bukan semata-mata urusan kurikulum, ruang kelas, atau nilai rapor. Pendidikan adalah hubungan manusia. Pendidikan adalah proses panjang yang dimulai jauh sebelum seorang anak duduk di bangku sekolah. Dan hubungan pertama yang membentuk seorang anak adalah hubungan dengan keluarganya.
Karena itu, kebijakan Hari Pertama Sekolah sesungguhnya bukan tentang perjalanan dari rumah menuju gerbang sekolah. Kebijakan itu adalah simbol. Sebuah pengingat bahwa pendidikan tidak boleh seluruhnya diserahkan kepada guru dan sekolah.
Anak membutuhkan orang tua yang hadir.
Waktu membuktikan bahwa gagasan tersebut tidak berhenti sebagai simbol sesaat.
Hampir satu dekade setelah diperkenalkan, semangat yang sama justru terus hidup. Pemerintahan berganti. Menteri berganti. Prioritas nasional berubah. Namun gagasan tentang keterlibatan orang tua dalam pendidikan tetap dipertahankan. Bahkan berkembang menjadi Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah yang dijalankan pemerintah saat ini.
Di sinilah letak menariknya.
Tidak semua gagasan dari seorang pejabat mampu bertahan setelah ia meninggalkan jabatannya. Banyak program berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa kekuasaan. Ketika dukungan politik menghilang, program ikut menghilang. Ketika nama tokohnya tidak lagi berada di pusat perhatian, gagasannya perlahan dilupakan.
Namun yang terjadi pada kebijakan Hari Pertama Sekolah berbeda.
Gagasan yang diperkenalkan Anies tidak hanya bertahan, tetapi juga menemukan ruang baru untuk berkembang. Ia diterima oleh pemerintahan yang berbeda, dilanjutkan oleh tokoh yang berbeda, dan dijalankan dalam konteks yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa nilai sebuah ide tidak selalu ditentukan oleh siapa yang berkuasa, melainkan oleh manfaat yang dirasakan masyarakat.
Barangkali inilah ukuran keberhasilan tertinggi seorang pemimpin. Bukan ketika programnya ramai dibicarakan pada masanya, melainkan ketika gagasannya tetap hidup setelah dirinya tidak lagi memiliki kekuasaan untuk mempertahankannya.
Fenomena tersebut mengajarkan sesuatu yang penting tentang kepemimpinan. Terlalu sering kita menilai pemimpin dari proyek yang terlihat secara fisik. Kita menghitung jalan yang dibangun, gedung yang diresmikan, atau anggaran yang dibelanjakan. Semua itu memang penting. Namun ada warisan lain yang sering kali memiliki usia lebih panjang, yaitu cara berpikir yang ditanamkan kepada masyarakat.
Anies mungkin tidak membangun gedung sekolah melalui kebijakan itu. Namun ia memperkenalkan cara pandang bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah. Cara pandang inilah yang tampaknya mampu bertahan melewati perubahan politik.
Hari ini, ketika anak-anak tumbuh di tengah dunia digital yang semakin kompleks, gagasan tersebut justru terasa semakin relevan. Banyak orang tua bekerja lebih keras daripada sebelumnya. Waktu bersama keluarga semakin terbatas. Teknologi menghadirkan kemudahan, tetapi juga menciptakan jarak yang tidak selalu terlihat.
Dalam situasi seperti itu, kehadiran orang tua menjadi sesuatu yang semakin berharga.
Hannah Arendt pernah menulis, “Education is the point at which we decide whether we love the world enough to assume responsibility for it.” Pendidikan adalah titik ketika kita memutuskan apakah kita cukup mencintai dunia sehingga bersedia memikul tanggung jawab terhadapnya.
Jika kutipan itu diterapkan pada gagasan Anies, maka maknanya menjadi jelas. Mengantar anak ke sekolah bukanlah soal berjalan beberapa ratus meter dari rumah menuju ruang kelas. Ia adalah bentuk tanggung jawab. Ia adalah pesan bahwa seorang anak tidak sedang menghadapi dunia sendirian.
Karena itu, keberhasilan kebijakan tersebut tidak dapat diukur hanya dari berapa banyak orang tua yang datang pada hari pertama sekolah. Keberhasilannya terlihat dari kenyataan bahwa masyarakat semakin memahami pentingnya keterlibatan keluarga dalam pendidikan. Dan lebih dari itu, keberhasilannya terlihat dari kemampuan gagasan tersebut bertahan melampaui masa jabatan pencetusnya.
Pada akhirnya, jabatan selalu memiliki batas waktu. Kekuasaan juga memiliki masa akhir. Namun gagasan yang menyentuh kebutuhan manusia sering kali memiliki umur yang jauh lebih panjang.
Mungkin itulah yang terjadi pada kebijakan Hari Pertama Sekolah.
Apa yang diperkenalkan Anies Baswedan pada 2016 bukan lagi sekadar program. Ia telah berkembang menjadi bagian dari kesadaran publik tentang pentingnya kehadiran orang tua dalam pendidikan.
Dan ketika sebuah gagasan tetap hidup setelah pencetusnya pergi, di situlah sejarah mulai memberikan penilaiannya sendiri.

