Banyu Mudal dan Pelajaran Tentang Air yang Tak Dijual
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada tanah yang dibeli untuk dibangun rumah, ada yang disimpan sebagai investasi, ada pula yang dijual ketika harganya dianggap sudah menguntungkan. Tetapi bagaimana jika di dalam tanah itu terdapat sumber air yang dibutuhkan banyak orang? Apakah air tersebut harus dihitung sebagai peluang bisnis, atau justru dijaga agar tetap menjadi sumber kehidupan bersama? Pertanyaan semacam itu muncul ketika melihat apa yang dilakukan Pak Bisri, atau yang lebih dikenal warga sebagai Kadus Bosor, di Desa Kembaran Wetan, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga. Di atas lahan pribadinya terdapat sumber mata air yang kemudian dikenal sebagai Banyu Mudal. Ia memiliki hak untuk memanfaatkan lahannya sendiri, tetapi memilih jalan yang berbeda: mempertahankan sumber air tersebut dan membiarkan warga yang membutuhkan mengambil air tanpa dipungut biaya.
Pilihan itu terlihat sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana untuk disebut sebagai sebuah gagasan besar. Tetapi justru dari hal-hal sederhana semacam inilah kita sering menemukan wajah kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Di tengah kebiasaan mengukur hampir segala sesuatu dengan nilai rupiah, masih ada orang yang memandang sebuah aset dari manfaat yang bisa diberikan. Tanah memiliki harga, tentu saja. Air juga memiliki nilai ekonomi. Namun bagi warga yang sedang kesulitan mendapatkan air bersih, nilai sebuah sumber mata air tidak berhenti pada harga jual per liter atau biaya satu tangki. Air adalah kebutuhan yang menentukan apakah sebuah keluarga dapat memasak, mandi, mencuci, membersihkan rumah, dan menjalani kehidupan sehari-hari secara layak.
Banyu Mudal mulai dibangun pada 2023 di atas lahan sekitar 2 × 4 meter. Menurut informasi yang disampaikan, sumber tersebut dikembangkan sebagai sumur PAMSIMAS dengan debit sekitar 4–5 liter per detik. Dengan debit itu, tangki berkapasitas 2.000 liter disebut dapat terisi sekitar empat menit. Air dari sumber tersebut kemudian dimanfaatkan secara rutin oleh sekitar 100 rumah di Desa Slining dan sekitar 100 rumah di wilayah dusun tempat Pak Bisri bertugas. Bagi saya, angka-angka tersebut menarik bukan semata karena menunjukkan besarnya debit air, tetapi karena di balik angka itu ada rumah-rumah yang kebutuhan airnya menjadi lebih mudah. Ketika musim hujan, keberadaan sumber air mungkin tidak terlalu terasa istimewa. Tetapi saat kemarau datang, ceritanya bisa berbeda. Warga dari Slining Atas, Arenan, Sidanegara, Bagrandong, Kesamen hingga Kemangkon disebut datang mengambil air ke Banyu Mudal. Mereka membawa jeriken, wadah air, atau kendaraan pengangkut. Air yang bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa, bagi keluarga lain bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Yang membuat cerita ini semakin menarik adalah pilihan ekonomi yang berada di belakangnya. Menurut informasi yang disampaikan, lahan tersebut pernah ditawar pihak PDAM dengan harga sekitar Rp15 juta per meter. Jika informasi itu benar, tentu nilai tersebut bukan angka kecil untuk sebuah lahan, terlebih jika dihitung berdasarkan luas tanah. Pemilik lahan sebenarnya memiliki pilihan untuk menjual dan memperoleh keuntungan secara langsung. Namun Pak Bisri memilih mempertahankannya. Saya tidak melihat keputusan itu sebagai sesuatu yang harus dijadikan ukuran moral bagi semua orang. Menjual tanah milik sendiri bukan sebuah kesalahan, dan setiap orang mempunyai hak menentukan apa yang akan dilakukan terhadap asetnya. Tetapi keputusan Pak Bisri memperlihatkan sesuatu yang menarik: kadang-kadang nilai sebuah aset tidak selesai ketika harga pasarnya sudah ditemukan. Ada nilai lain yang baru terlihat setelah aset tersebut memberi manfaat kepada orang lain.
Di sinilah saya kira Banyu Mudal layak dibicarakan lebih jauh. Kita sering menganggap pembangunan sebagai urusan proyek, anggaran, beton, jaringan, dan angka-angka dalam laporan. Semua itu memang penting. Tetapi pembangunan pada akhirnya harus kembali kepada manusia. Jalan dibangun agar orang dapat bergerak. Jembatan dibangun agar masyarakat dapat terhubung. Sekolah dibangun agar anak-anak memperoleh pendidikan. Dan sumber air dijaga agar manusia tidak kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar dalam hidupnya. Dalam gagasan Amartya Sen tentang pembangunan, ukuran kesejahteraan tidak hanya berhenti pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan manusia menjalani kehidupan yang mereka nilai berharga. Dari sudut pandang itu, Banyu Mudal memberikan gambaran sederhana: air yang dapat diakses warga bukan sekadar benda yang berpindah dari sumber ke wadah, melainkan sesuatu yang memperluas kemampuan sebuah keluarga untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih layak.
Namun, ada satu hal yang menurut saya justru perlu ditegaskan: air gratis bukan berarti air tanpa biaya. Pak Bisri disebut mengeluarkan sekitar Rp12 juta pada awal pembangunan untuk kebutuhan buis beton dan kerikil. Biaya tersebut kemudian bertambah hingga sekitar Rp17 juta untuk pengecoran dan penutupan area sumur agar sumber air terlindungi serta terhindar dari kotoran. Jika terdapat operasional dari pihak luar atau kegiatan sosial yang menggunakan tangki air, dana tersebut menurut informasi yang disampaikan digunakan untuk bahan bakar dan uang lelah sopir pengangkut air. Fakta ini penting karena kebaikan tidak seharusnya dipahami secara romantis seolah-olah segala sesuatu dapat berjalan tanpa biaya. Ada sumber daya yang harus dirawat, ada lingkungan yang harus dijaga, ada biaya operasional yang harus dipenuhi, dan ada tanggung jawab agar sumber air tetap dapat digunakan dalam jangka panjang.
Karena itu, Banyu Mudal juga tidak boleh dipahami sebagai pengganti tanggung jawab pemerintah. Justru keberadaan sumber seperti ini semestinya memperkuat kesadaran bahwa persoalan air bersih membutuhkan kerja bersama. Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab menyediakan akses air bersih yang layak dan berkelanjutan. Masyarakat memiliki tanggung jawab menjaga sumber air dan lingkungan. Pemilik lahan mempunyai hak atas tanahnya, tetapi dalam kasus tertentu juga bisa memilih menghadirkan manfaat sosial dari apa yang dimilikinya. Jika ketiganya berjalan beriringan, sumber air tidak hanya menjadi tempat mengambil air, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem sosial yang lebih sehat.
Di situlah saya melihat sisi lain dari gotong royong. Gotong royong tidak selalu harus berbentuk kerja bakti, mengecat fasilitas umum, membersihkan jalan, atau memperbaiki saluran air. Ada gotong royong yang bentuknya jauh lebih sunyi: seseorang menyediakan ruang agar orang lain dapat bertahan. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak selalu ada kamera. Warga datang membawa jeriken, mengisi air, lalu pulang. Bagi orang yang tidak melihat dari dekat, mungkin tidak ada sesuatu yang istimewa. Tetapi bagi keluarga yang membutuhkan air, manfaatnya nyata. Kebaikan semacam ini memang tidak selalu terlihat besar karena ia bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Pak Bisri sendiri memandang air sebagai rezeki dan keberkahan dari Allah SWT. Keyakinan tersebut kemudian diterjemahkan dalam tindakan. Ia memilih mempertahankan sumber air dan membiarkan manfaatnya mengalir kepada masyarakat. Di sinilah saya kira makna sedekah air menjadi menarik untuk direnungkan. Sedekah tidak selalu berbentuk uang yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Kadang-kadang ia berbentuk akses, kesempatan, waktu, tenaga, atau sesuatu yang terus memberikan manfaat setelah kita selesai menggunakannya untuk diri sendiri. Air memiliki keistimewaan karena sekali sumbernya terjaga, manfaatnya dapat dirasakan berkali-kali oleh banyak orang.
Barangkali inilah perbedaan antara sekadar memiliki dan benar-benar memberi manfaat. Memiliki berbicara tentang apa yang ada di tangan kita. Kebermanfaatan berbicara tentang apa yang dapat dirasakan orang lain dari apa yang ada di tangan kita.
Tentu saja, saya tidak ingin menjadikan Pak Bisri sebagai sosok tanpa kekurangan atau menjadikan Banyu Mudal sebagai cerita yang seolah-olah menyelesaikan persoalan air bersih di wilayah sekitar. Tidak demikian. Sebuah sumber mata air tetap membutuhkan pengelolaan, pengawasan, dan perlindungan lingkungan. Debit air juga bukan sesuatu yang boleh dianggap tidak terbatas. Justru semakin besar manfaat sebuah sumber, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya. Di sinilah masyarakat dan pemerintah perlu hadir agar kebaikan yang sudah tumbuh secara personal dapat bertahan secara kelembagaan.
Tetapi di tengah banyaknya cerita tentang aset, transaksi, keuntungan, dan nilai tanah, kisah Banyu Mudal tetap layak mendapatkan tempat. Bukan karena kita harus menganggap menjual tanah sebagai sesuatu yang buruk, bukan pula karena semua orang harus meniru keputusan Pak Bisri. Yang menarik justru pilihan yang ia ambil ketika berhadapan dengan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Ia memilih mempertahankan sumber air dan membiarkan masyarakat mendapatkan manfaat darinya. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial masih ada ruang bagi pertimbangan yang tidak seluruhnya dihitung dengan uang.
Banyu Mudal mungkin hanya sebuah sumber air di Kembaran Wetan. Lahannya juga tidak luas. Tetapi dari tempat yang sederhana itu, kita bisa melihat persoalan yang lebih besar: bagaimana seharusnya manusia memperlakukan sesuatu yang menjadi kebutuhan bersama? Apakah semua yang memiliki nilai harus segera dijual? Apakah keuntungan pribadi selalu menjadi tujuan terakhir dari setiap aset? Atau masihkah kita memiliki ruang untuk berpikir bahwa sebagian kekayaan justru menjadi lebih bernilai ketika manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak orang?
Saya kira jawabannya tidak harus sama bagi setiap orang. Tetapi Banyu Mudal telah memberikan satu contoh yang konkret. Ketika warga datang membawa jeriken dan pulang membawa air, nilai sumber itu tidak lagi hanya berada di dalam tanah. Nilainya berpindah ke dapur-dapur rumah, ke kamar mandi, ke kebutuhan anak-anak, ke keluarga yang sedang menghadapi kemarau, dan ke kehidupan sehari-hari warga yang mungkin tidak pernah mengenal istilah investasi atau nilai aset.
Pada akhirnya, kita memang tidak bisa hidup tanpa menghitung. Ada harga tanah, biaya pembangunan, biaya pemeliharaan, kebutuhan operasional, dan berbagai urusan ekonomi yang harus diselesaikan. Tetapi manusia juga membutuhkan sesuatu yang tidak selalu bisa dihitung. Kepedulian, gotong royong, keikhlasan, dan kebermanfaatan adalah bagian dari kehidupan yang tidak selalu memiliki angka. Banyu Mudal mengingatkan kita pada hal sederhana itu. Sebuah sumber air tidak menjadi berarti hanya karena debitnya besar atau harga lahannya tinggi. Ia menjadi berarti ketika air yang mengalir darinya mampu membuat kehidupan orang lain menjadi sedikit lebih mudah. Dan mungkin, di situlah letak pelajaran paling sederhana dari Banyu Mudal: tidak semua yang berharga harus dijual, sebab ada sesuatu yang nilainya justru tumbuh ketika manfaatnya terus mengalir kepada orang lain.

