Konten dari Pengguna

Dari Kracak ke Indonesia Mengajar: Jejak Pengalaman yang Menjadi Gagasan

Momen kebersamaan Anies Baswedan bersama rekan-rekan mahasiswa KKN berfoto bersama Bapak Haryanto, Kepala Desa Kracak. Dokumen istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Momen kebersamaan Anies Baswedan bersama rekan-rekan mahasiswa KKN berfoto bersama Bapak Haryanto, Kepala Desa Kracak. Dokumen istimewa.

Indonesia Mengajar tidak lahir dari ruang kosong. Salah satu keping pengalaman yang ikut membentuk munculnya gagasan itu berada di sebuah desa di Banyumas: Kracak. Pada 1994, Anies Baswedan datang ke Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, sebagai mahasiswa UGM untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di desa itu, ia berhadapan langsung dengan kehidupan masyarakat, persoalan sehari-hari, serta kenyataan bahwa pendidikan dan kesempatan berkembang tidak selalu hadir secara merata di setiap tempat. Pengalaman semacam ini tidak serta-merta berubah menjadi sebuah gerakan nasional pada saat itu. Namun, pengalaman hidup bersama masyarakat desa dapat meninggalkan pertanyaan yang panjang umurnya: bagaimana pendidikan dapat menjangkau anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang tumbuh jauh dari pusat-pusat pendidikan? Dari sinilah Kracak layak ditempatkan sebagai salah satu bagian dari perjalanan yang kemudian bermuara pada gagasan Indonesia Mengajar.

KKN sering dipahami hanya sebagai kewajiban akademik mahasiswa sebelum menyelesaikan pendidikan. Padahal, bagi sebagian mahasiswa, KKN justru menjadi perjumpaan pertama dengan Indonesia yang berbeda dari ruang kuliah. Mereka tidak lagi melihat masyarakat melalui buku, angka statistik, atau teori pembangunan, melainkan melalui rumah-rumah warga, sekolah, jalan desa, pekerjaan, persoalan ekonomi, dan percakapan sehari-hari. Kracak menjadi ruang semacam itu bagi Anies. Pengalaman tersebut penting bukan karena sebuah desa secara otomatis dapat melahirkan gagasan nasional, melainkan karena pengalaman langsung sering membuat seseorang melihat persoalan dengan cara yang berbeda. Sebuah gagasan besar kadang bermula dari kegelisahan sederhana setelah melihat kenyataan dari dekat.

Namun, perjalanan menuju Indonesia Mengajar tentu tidak berhenti di Kracak. Ada mata rantai sejarah yang lebih panjang dan turut membentuk gagasan tersebut. Di lingkungan UGM, Anies mengenal kisah Prof. Koesnadi Hardjasoemantri dan Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) pada era 1950-an. Program itu lahir dalam situasi Indonesia yang mengalami kekurangan tenaga guru, terutama di berbagai daerah di luar Jawa. Mahasiswa dikerahkan untuk mengajar di daerah yang membutuhkan. Koesnadi sendiri pernah ditugaskan ke Kupang dan dari sana membawa sejumlah murid berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke UGM. Kisah pengabdian mahasiswa tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi penting bagi gagasan Indonesia Mengajar.

Di sinilah hubungan antara Kracak dan Indonesia Mengajar menjadi menarik. Kracak memberikan pengalaman langsung mengenai kehidupan masyarakat desa, sementara sejarah PTM memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran lebih jauh dalam persoalan pendidikan. Dua pengalaman itu tentu tidak berdiri sendiri. Dalam berbagai catatan mengenai lahirnya Indonesia Mengajar, terdapat pula pengaruh pemikiran lain yang kemudian memperkaya gagasan tersebut. Badan Bahasa mencatat bahwa gagasan Indonesia Mengajar mulai tumbuh sejak masa Anies sebagai mahasiswa UGM pada dekade 1990-an, sementara kisah PTM menjadi salah satu sumber inspirasi yang kemudian ikut dirumuskan dalam konsep Indonesia Mengajar.

Ada pula pengaruh pemikiran Joseph Nye yang menarik untuk dicatat. Dalam catatan Badan Bahasa, Anies terinspirasi oleh gagasan “admit only the best”, yang kemudian berkaitan dengan konsep merekrut anak-anak muda terbaik untuk menjadi Pengajar Muda. Mereka bukan hanya diharapkan memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan organisasi. Dengan konsep itu, mengajar di daerah tidak ditempatkan semata sebagai kegiatan sosial, melainkan sebagai bentuk pengabdian yang membutuhkan kualitas sumber daya manusia. Gagasan tersebut kemudian bertemu dengan pengalaman dan sejarah pengabdian mahasiswa yang telah lebih dahulu hidup di lingkungan UGM.

Kalau seluruh kepingan itu disusun, kita bisa melihat bahwa Indonesia Mengajar merupakan hasil dari sebuah proses panjang. Ada pengalaman KKN di Kracak. Ada sejarah PTM. Ada sosok Koesnadi Hardjasoemantri. Ada pemikiran tentang pentingnya mengirim orang-orang terbaik untuk mengabdi. Ada pula pengalaman pendidikan dan perjalanan intelektual yang kemudian memperkaya cara pandang Anies. Jadi, mengatakan bahwa Kracak merupakan salah satu pengalaman yang ikut memunculkan gagasan Indonesia Mengajar tidak harus berarti menganggap Kracak sebagai satu-satunya sumber inspirasi. Justru posisi Kracak menjadi lebih kuat jika ditempatkan sebagai salah satu keping yang kemudian bertemu dengan keping-keping pengalaman lainnya.

Kracak bukan sekadar tempat KKN. Ia menjadi bagian dari perjalanan sebuah gagasan tentang pendidikan.

Ada sesuatu yang menarik dari cara sebuah pengalaman lokal dapat menemukan hubungan dengan persoalan nasional. Seorang mahasiswa mungkin datang ke sebuah desa hanya untuk beberapa waktu. Program KKN selesai, mahasiswa kembali ke kampus, kemudian melanjutkan perjalanan hidupnya. Tetapi pengalaman di desa tidak selalu ikut selesai. Ada kesan yang tertinggal, ada pertanyaan yang terus muncul, dan ada persoalan yang mungkin baru dipahami setelah seseorang memperoleh pengalaman yang lebih luas. Bertahun-tahun kemudian, berbagai pengalaman tersebut dapat bertemu dan menghasilkan gagasan yang sebelumnya belum memiliki bentuk.

Indonesia Mengajar kemudian hadir dengan gagasan mengirim anak-anak muda untuk mengajar di berbagai daerah. Gerakan itu secara resmi mulai dirumuskan pada 2009 dan kemudian berkembang dengan program Pengajar Muda. Para pengajar ditempatkan di daerah yang membutuhkan tenaga pendidikan sekaligus diharapkan menjadi bagian dari gerakan sosial yang lebih luas. Slogan “Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi” menggambarkan gagasan bahwa masa pengabdian yang relatif singkat dapat meninggalkan dampak yang panjang.

Bila dilihat dari perjalanan tersebut, desa memiliki posisi yang menarik dalam proses lahirnya sebuah gagasan. Desa bukan hanya tempat untuk menerima program pembangunan. Desa juga dapat menjadi tempat seseorang belajar memahami Indonesia. Di desa, persoalan pendidikan terlihat dalam bentuk yang konkret: anak-anak yang harus menempuh jarak tertentu untuk sekolah, keterbatasan tenaga pengajar, fasilitas yang tidak selalu memadai, atau orang tua yang harus berjuang keras agar anaknya tetap bersekolah. Semua itu tidak selalu tertangkap secara utuh oleh angka statistik. Perjumpaan langsung dengan masyarakat membuat persoalan tersebut memiliki wajah, suara, dan pengalaman manusia.

Karena itu, kisah Kracak dan Indonesia Mengajar sebenarnya lebih luas daripada sekadar hubungan antara satu desa dengan seorang tokoh. Ia adalah cerita tentang bagaimana pengalaman lokal dapat ikut memengaruhi cara seseorang memandang persoalan nasional. Kracak memberi ruang pengalaman. Tradisi PTM memberi contoh sejarah pengabdian. Koesnadi memberi teladan tentang peran mahasiswa dalam pendidikan. Pemikiran tentang kualitas manusia memberi kerangka. Semua kemudian bertemu dalam proses panjang hingga menjadi gagasan Indonesia Mengajar.

Ada pelajaran yang barangkali relevan bagi generasi mahasiswa sekarang. Jangan menganggap KKN hanya sebagai formalitas akademik yang harus diselesaikan agar bisa memperoleh gelar. Bisa jadi, pengalaman beberapa minggu atau bulan di desa justru meninggalkan pertanyaan yang akan dibawa sepanjang hidup. Tidak semua pengalaman akan berubah menjadi gerakan nasional, tentu saja. Tetapi setiap pengalaman dapat mengubah cara seseorang melihat masyarakat. Dari sanalah gagasan sering kali tumbuh: bukan dari keinginan untuk terlihat besar, melainkan dari kesediaan melihat persoalan kecil secara serius.

Kracak mungkin hanya sebuah desa di Banyumas. Namun dalam perjalanan gagasan Indonesia Mengajar, desa itu memiliki cerita yang layak dicatat. Bukan karena seluruh gagasan Indonesia Mengajar berasal dari Kracak, melainkan karena pengalaman di sana menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang yang mempertemukan pengalaman desa, tradisi pengabdian mahasiswa, pemikiran pendidikan, dan kegelisahan tentang pemerataan kesempatan. Sebuah gagasan nasional ternyata dapat memiliki jejak lokal. Dan jejak itu mengingatkan kita bahwa Indonesia yang besar sering kali dipahami justru dari tempat-tempat yang sederhana.