Konten dari Pengguna

Dengki: Ketika Kebahagiaan Orang Lain Terasa Seperti Kekalahan Diri Sendiri

Ilustrasi Generated By AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Generated By AI

Ada orang yang tampak baik-baik saja melihat orang lain mengalami kesulitan, tetapi justru merasa gelisah saat orang itu berhasil. Keberhasilan yang semestinya bisa menjadi kabar baik malah dipandang sebagai ancaman. Bukan karena keberhasilan tersebut merugikan dirinya, melainkan karena ia merasa tertinggal dalam perlombaan yang sebenarnya tidak pernah harus diikuti.

Perasaan semacam ini dekat dengan apa yang kita sebut dengki. Dengki bukan sekadar keinginan memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Di dalamnya terdapat ketidakrelaan melihat orang lain memperoleh kebahagiaan, penghargaan, kedudukan, atau keberhasilan. Seseorang bukan hanya ingin mencapai hal serupa, tetapi juga bisa berharap agar kelebihan orang lain berkurang. Di sinilah dengki menjadi persoalan, sebab perhatian yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki diri justru habis untuk memikirkan kehidupan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, dengki tidak selalu muncul dalam bentuk permusuhan terbuka. Ia bisa hadir melalui sindiran, komentar yang meremehkan, atau pujian yang disertai kalimat menyakitkan. Seseorang mengucapkan selamat atas keberhasilan tetangganya, tetapi kemudian menambahkan bahwa keberhasilan itu mungkin hanya karena bantuan orang dalam. Teman yang mendapat pekerjaan baru dianggap beruntung semata, sedangkan orang yang merintis usaha dituduh memiliki modal besar tanpa pernah diketahui bagaimana ia memulainya. Tanpa bukti yang memadai, pencapaian orang lain diperkecil agar tidak terlihat terlalu istimewa.

Tentu, tidak semua kritik terhadap keberhasilan seseorang merupakan bentuk dengki. Ada kalanya kritik memang diperlukan, terutama jika berkaitan dengan ketidakjujuran, penyalahgunaan wewenang, atau tindakan yang merugikan orang lain. Perbedaan mendasar terletak pada tujuan dan dasar penilaiannya. Kritik yang sehat bertumpu pada alasan yang dapat diperiksa dan diarahkan untuk memperbaiki keadaan, sedangkan dengki cenderung berangkat dari ketidakrelaan melihat orang lain memperoleh sesuatu yang baik. Kita perlu membedakan kritik yang beralasan dari penilaian yang sekadar ingin mengecilkan pencapaian orang lain.

Dengki juga mudah tumbuh di tengah kebiasaan membandingkan kehidupan. Rumah orang lain terlihat lebih bagus, usahanya lebih maju, anaknya dianggap lebih berhasil, atau kedudukannya lebih dihormati. Semua itu kemudian dijadikan ukuran untuk menilai diri sendiri. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan, kesempatan, tanggung jawab, dan tantangan yang berbeda. Membandingkan hasil akhir tanpa memahami prosesnya hanya akan melahirkan penilaian yang tidak utuh.

Media sosial dapat memperkuat kebiasaan tersebut. Orang melihat potongan kehidupan orang lain yang tampak menyenangkan, lalu membandingkannya dengan persoalan yang sedang dihadapi sendiri. Liburan, usaha yang berkembang, penghargaan, dan kabar keberhasilan lebih mudah terlihat daripada kegagalan, kerja keras, atau pengorbanan di baliknya. Jika tidak disikapi dengan bijak, apa yang semula bisa menjadi inspirasi justru berubah menjadi sumber kecemasan dan rasa tidak puas.

Dalam tradisi Jawa, ada ungkapan yang patut direnungkan: “Aja seneng yen wong liya susah, lan aja susah yen wong liya seneng.” Artinya, jangan bergembira ketika orang lain mengalami kesusahan dan jangan bersedih ketika orang lain memperoleh kebahagiaan. Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa hubungan antarmanusia tidak seharusnya dibangun di atas kegembiraan atas kegagalan orang lain atau kesedihan melihat keberhasilan mereka. Kebahagiaan orang lain tidak harus mengurangi kebahagiaan kita sendiri.

Lalu, bagaimana menghadapi dengki, baik yang muncul dalam diri sendiri maupun yang kita rasakan dari orang lain? Langkah pertama adalah berani memeriksa perasaan sendiri. Saat mendengar kabar baik tentang seseorang, tanyakan kepada diri sendiri: apakah kita ikut senang, biasa saja, atau justru merasa tidak nyaman? Jika muncul rasa iri, kita tidak harus langsung menganggap diri sebagai orang buruk. Perasaan manusia bisa beragam. Yang penting ialah mengenali perasaan itu dan tidak membiarkannya berubah menjadi tindakan yang merugikan orang lain.

Rasa iri bahkan bisa menjadi pengingat tentang sesuatu yang ingin kita capai. Jika melihat orang lain berhasil membangun usaha, misalnya, kita dapat mempelajari kedisiplinan, cara kerja, atau ketekunan yang mungkin berperan dalam keberhasilannya. Jika seseorang memperoleh kepercayaan karena kemampuannya, kita dapat memperbaiki keterampilan dan tanggung jawab sendiri. Dengan cara itu, perhatian beralih dari keinginan menjatuhkan orang lain menjadi usaha memperbaiki kualitas diri.

Sementara itu, jika menghadapi orang yang terus-menerus meremehkan atau menyebarkan penilaian buruk tanpa dasar, kita tidak perlu membalas dengan perilaku serupa. Jika ada tuduhan yang keliru dan merugikan, luruskan berdasarkan fakta. Jika hubungan tersebut terus menimbulkan masalah, menjaga jarak dapat menjadi pilihan yang wajar. Bersikap baik bukan berarti harus membiarkan diri diperlakukan semena-mena, sebagaimana menjaga harga diri tidak mengharuskan kita membalas setiap sindiran.

Kedewasaan juga terlihat dari kemampuan mengakui kelebihan orang lain tanpa merasa harga diri sendiri terancam. Kita bisa berbeda pandangan, bersaing secara sehat, bahkan mengkritik keputusan seseorang, tetapi tetap mengakui hal baik yang memang telah ia lakukan. Menghargai pencapaian orang lain tidak berarti kita harus selalu setuju dengannya. Sikap tersebut justru menunjukkan bahwa penilaian kita tidak sepenuhnya dikendalikan oleh rasa suka, tidak suka, atau kepentingan pribadi.

Keberhasilan orang lain tidak mengurangi nilai diri kita, kecuali jika kita menjadikan kehidupan mereka sebagai satu-satunya ukuran harga diri. Setiap orang memiliki kesempatan untuk tumbuh melalui jalannya masing-masing. Ada yang berhasil lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan ada pula yang harus mengubah arah setelah menghadapi kegagalan. Perbedaan perjalanan itu bukan alasan untuk saling menjatuhkan.

Dalam ajaran Islam, larangan terhadap dengki juga disampaikan secara tegas. Dalam hadis riwayat Muslim nomor 2563, Nabi Muhammad saw. melarang umatnya saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Pesan ini mengingatkan bahwa menjaga hubungan baik tidak cukup hanya dengan menghindari pertengkaran terbuka. Kita juga perlu berusaha membersihkan hati dari keinginan agar orang lain kehilangan kebahagiaan atau nikmat yang dimilikinya.

Pada akhirnya, ukuran kedewasaan bukanlah seberapa jauh kita melampaui orang lain, melainkan seberapa mampu kita bertumbuh tanpa harus merendahkan mereka. Kita boleh memiliki ambisi, bekerja keras untuk mencapai kedudukan yang lebih baik, dan berusaha meraih kehidupan yang lebih sejahtera. Namun, semua itu tidak perlu dibangun di atas kebencian terhadap keberhasilan orang lain.

Kita tidak harus menjadi orang yang paling berhasil untuk hidup dengan tenang. Terkadang, ketenangan justru tumbuh saat kita mampu mengucapkan selamat tanpa kepahitan, menerima perbedaan tanpa permusuhan, dan melihat keberhasilan orang lain sebagai sesuatu yang tidak mengancam harga diri sendiri. Sebab, hidup akan terasa lebih lapang jika energi kita digunakan untuk memperbaiki diri, bukan untuk berharap orang lain jatuh.