Desa Kehilangan Anak Muda, Indonesia Kehilangan Pewaris
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu hari, Indonesia mungkin tidak kekurangan jalan desa, tidak kekurangan balai desa, bahkan tidak kekurangan jaringan internet. Yang justru langka adalah anak muda yang bersedia tinggal, bertani, berwirausaha, dan memimpin desanya sendiri.
Inilah krisis yang datang tanpa suara.
Setiap tahun, ribuan pemuda meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan di kota. Tidak ada yang salah dengan merantau. Sejak dahulu, mobilitas adalah bagian dari sejarah bangsa ini. Persoalannya muncul ketika arus itu hanya berjalan ke satu arah. Mereka pergi, tetapi semakin sedikit yang pulang.
Akibatnya mulai terlihat. Desa perlahan menua. Sawah masih terbentang, tetapi petaninya semakin renta. Karang taruna kehilangan anggota. Regenerasi perangkat desa semakin sulit. Bahkan beberapa usaha keluarga berhenti bukan karena bangkrut, melainkan karena tidak ada lagi anak yang bersedia melanjutkannya.
Data Sensus Pertanian 2023 memberi sinyal yang patut direnungkan. Jumlah usaha pertanian perorangan turun 7,45 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya. Di saat yang sama, petani berusia 19–39 tahun hanya sekitar 6,18 juta orang, atau 21,93 persen dari seluruh petani Indonesia. Artinya, hampir delapan dari sepuluh petani bukan berasal dari kelompok usia muda.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah alarm.
Kita sering membahas ketahanan pangan, swasembada, hilirisasi, hingga modernisasi pertanian. Namun semua agenda besar itu akan kehilangan pijakan apabila tidak ada generasi yang bersedia mengerjakannya. Traktor secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia yang mau mengoperasikannya.
Sosiolog Robert D. Putnam pernah menulis, “Social capital refers to connections among individuals.” Kemajuan sebuah komunitas bukan hanya ditentukan oleh uang atau infrastruktur, melainkan oleh manusianya. Ketika generasi muda pergi, yang ikut hilang bukan hanya tenaga kerja. Desa kehilangan modal sosial, kepemimpinan, inovasi, dan harapan.
Krisis terbesar desa hari ini bukan berkurangnya anggaran, melainkan berkurangnya pewaris. Kita terlalu sibuk menghitung berapa dana yang masuk ke desa, tetapi lupa menghitung berapa anak muda yang keluar dan tidak pernah kembali. Padahal masa depan desa tidak diwariskan melalui APBDes, melainkan melalui manusianya.
Ironisnya, desa justru menghadapi paradoks pembangunan. Jalan semakin baik, listrik semakin merata, internet mulai menjangkau banyak wilayah, tetapi kesempatan kerja yang berkualitas belum tumbuh secepat harapan generasi muda. Bagi banyak lulusan SMA maupun perguruan tinggi, kota masih dianggap sebagai satu-satunya tempat untuk membangun masa depan.
Cara pandang inilah yang perlu diubah.
Desa tidak boleh lagi diposisikan hanya sebagai ruang produksi bahan mentah atau tempat menghabiskan masa pensiun. Desa harus menjadi ruang tumbuh bagi talenta muda. Pertanian presisi, ekonomi digital, industri kreatif berbasis lokal, wisata desa, energi terbarukan, hingga usaha mikro berbasis teknologi adalah peluang yang bisa membuat anak muda melihat masa depan tanpa harus meninggalkan akar mereka.
Negara juga perlu mengubah ukuran keberhasilan pembangunan desa. Selama ini, keberhasilan sering diukur dari panjang jalan yang dibangun, jumlah proyek yang selesai, atau besarnya anggaran yang terserap. Semua itu penting, tetapi belum cukup.
Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah desa mampu mempertahankan generasi mudanya. Apakah semakin banyak pemuda yang memilih kembali setelah kuliah. Apakah semakin banyak anak petani yang bangga menjadi petani modern. Apakah desa mampu melahirkan wirausahawan, inovator, dan pemimpin baru.
Indonesia sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Namun emas tidak lahir dari beton, aspal, atau gedung yang megah. Emas lahir dari manusia yang diberi alasan untuk tinggal, berkarya, dan membangun.
Jika desa terus kehilangan anak mudanya, yang sesungguhnya tidak sedang kita saksikan adalah perpindahan penduduk. Kita sedang menyaksikan perpindahan masa depan.
Dan ketika suatu hari desa kehilangan pewarisnya, yang terlambat bukan hanya desa. Indonesia pun akan ikut terlambat.

