Di Balik Idul Kurban, Ada Nasib Wayang Kulit yang Jarang Dibicarakan

Pendidikan pernah kuliah Pengamat & pemerhati kebijakan Publik. Tulisan menjadi warisan yg abadi dibandingkan dg harta benda, memungkinkan generasi mendatang (cucu/cicit) untk mengenal pemikiran penulisnya "Menulis adalah bekerja untuk keabadian"
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah antrean pembagian daging kurban, sedikit orang menyadari bahwa kulit hewan kurban bisa menentukan hidup-matinya salah satu warisan budaya Indonesia: wayang kulit.
Bagi Sukardi, pengrajin tatah sungging asal Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Idul Adha bukan hanya momentum ibadah tahunan. Ada harapan lain yang ikut menunggu datangnya musim kurban: tersedianya bahan baku kulit berkualitas untuk membuat wayang.
“Tidak semua kulit bisa dipakai untuk wayang pentas,” ujarnya.
Kulit yang baik harus kuat, lentur, dan mampu bertahan saat ditatah dalam detail rumit. Proses pengolahannya pun panjang. Sedikit saja salah penanganan atau terkena hujan saat pengeringan, kualitas bahan bisa langsung menurun.
Di tengah zaman yang memuja kecepatan, pekerjaan seperti itu mulai terlihat asing. Hari ini hampir semua hal diukur dari efisiensi. Barang harus cepat diproduksi, murah dijual, dan mudah dipasarkan. Akibatnya, masyarakat perlahan kehilangan kedekatan dengan proses panjang di balik lahirnya sebuah karya budaya.
Wayang akhirnya sering dipandang sekadar produk seni atau hiasan tradisional, bukan lagi hasil peradaban yang lahir dari ketelatenan lintas generasi.
Padahal bagi para pengrajin tatah sungging, kualitas bukan hanya soal hasil akhir. Ada nilai kesabaran, ketelitian, pengalaman, hingga penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Budayawan Nurcholish Madjid pernah menegaskan bahwa tradisi bukan beban masa lalu, melainkan jembatan menuju masa depan. Pandangan itu terasa relevan ketika melihat nasib kerajinan wayang kulit hari ini.
Momentum Idul Kurban sebenarnya membuka peluang tersedianya bahan baku kulit. Namun realitas di lapangan tidak sesederhana romantisme pelestarian budaya.
Di banyak desa, kulit kambing lebih mudah ditemukan dibanding kulit sapi. Itu pun umumnya hanya cukup untuk kerajinan hias, bukan wayang pentas berkualitas tinggi. Belum lagi faktor cuaca di daerah pegunungan yang sangat memengaruhi proses pengeringan kulit.
Masalah-masalah semacam ini jarang terdengar di ruang publik. Orang menikmati indahnya wayang di atas panggung, tetapi sedikit yang memahami betapa rumit proses menjaga kualitas sebuah karya tradisional.
Dalam buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, antropolog Koentjaraningrat menjelaskan bahwa kebudayaan hidup melalui pewarisan keterampilan, pengetahuan, dan nilai dari generasi ke generasi. Ketika keterampilan tradisional mulai ditinggalkan, yang hilang sebenarnya bukan hanya profesi pengrajin, tetapi juga identitas budaya masyarakat.
Teknologi memang memberi kemudahan produksi. Mesin dapat membantu kebutuhan bazar dan pasar suvenir dalam jumlah besar. Namun untuk wayang pentas yang sarat nilai filosofis dan spiritual, sentuhan tangan manusia tetap sulit digantikan.
Wayang bukan sekadar benda. Ia lahir dari rasa, ketekunan, dan pengalaman panjang.
Karena itu, sebagian pengrajin percaya bahwa wayang tatah sungging memiliki “nyawa”. Setiap detail dikerjakan dengan tangan dan kesabaran, bukan sekadar dicetak berulang oleh mesin produksi.
Yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya bukan hanya menurunnya jumlah pengrajin, tetapi juga menurunnya kesabaran generasi muda untuk mencintai proses panjang sebuah karya budaya. Budaya instan perlahan membuat masyarakat hanya tertarik pada hasil akhir, bukan perjalanan penciptaannya.
Kebudayaan tidak hidup karena slogan. Ia bertahan karena masih ada orang yang rela merawatnya dengan tangan, waktu, dan ketulusan.
Beruntung, masih ada anak-anak muda yang memilih bertahan menjadi pelaku tatah sungging. Sebagian mulai mengenalkan wayang kepada anak-anak usia dini sebagai bentuk pelestarian budaya.
Langkah kecil semacam itu jauh lebih penting dibanding sekadar seremoni budaya yang berhenti di panggung formalitas.
Idul Kurban seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ritual berbagi daging, tetapi juga momentum merawat nilai, tradisi, dan keberlanjutan kebudayaan.
