Konten dari Pengguna

Di Balik Sewajan Jenang, Ada Gotong Royong Warga Purbalingga

Di tengah gawe Purbalingga, sewajan jenang menjadi ruang rewang. Kaum Adam bergantian mengaduk sambil guyon. Sederhana, tetapi gotong royong terasa nyata. Foto Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Di tengah gawe Purbalingga, sewajan jenang menjadi ruang rewang. Kaum Adam bergantian mengaduk sambil guyon. Sederhana, tetapi gotong royong terasa nyata. Foto Istimewa

Di sebuah hajatan di Purbalingga, perhatian tamu biasanya tertuju ke depan rumah. Kursi tertata, tamu berdatangan, hidangan disiapkan, dan tuan rumah sibuk menyambut orang-orang yang datang. Namun, suasana berbeda bisa ditemukan di bagian belakang rumah. Di sana, sebuah sewajan besar berada di atas tungku. Beberapa orang mengerumuninya sambil bergantian mengaduk adonan jenang yang semakin lama semakin berat.

Pemandangan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi masyarakat yang masih mengenal tradisi rewang, membuat jenang bukan sekadar urusan memasak. Ada tenaga yang dicurahkan, ada waktu yang diberikan, ada canda yang mengiringi pekerjaan, dan ada kebiasaan saling membantu yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jenang memang akan menjadi makanan manis setelah matang, tetapi proses membuatnya menyimpan cerita yang jauh lebih besar tentang kehidupan sosial masyarakat desa.

Membuat jenang untuk hajatan bukan pekerjaan ringan. Adonan harus terus diaduk agar tidak menggumpal dan tidak gosong. Semakin matang, adonan semakin kental sehingga tenaga yang dibutuhkan juga semakin besar. Karena itu, kaum Adam biasanya ikut mengambil bagian. Mereka bergantian memegang alat pengaduk. Seseorang mengaduk beberapa saat, lalu berganti dengan yang lain setelah lengannya mulai terasa pegal. Tidak ada yang merasa paling berjasa. Tidak pula ada pembagian tugas yang terlalu formal. Yang penting, jenang terus diaduk sampai matang.

Di sela pekerjaan itu, guyon dan obrolan kampung biasanya ikut mengalir. Orang-orang yang mungkin jarang bertemu kembali memiliki ruang untuk bercengkerama. Ada yang datang sejak awal, ada yang hanya berniat membantu sebentar, tetapi akhirnya bertahan karena pekerjaan belum selesai. Tangan boleh bergantian, tetapi pekerjaan tetap berjalan. Dari situ terlihat bahwa rewang bukan sekadar membantu menyelesaikan pekerjaan tuan rumah. Rewang juga menjadi cara masyarakat menjaga hubungan sosial.

Dalam hajatan masyarakat Purbalingga, tradisi seperti ini mempunyai tempat tersendiri. Hajatan atau gawe bukan hanya acara keluarga, melainkan juga ruang perjumpaan warga. Tetangga datang membawa tenaga dan waktu. Ada yang membantu menyiapkan makanan, mengangkat perlengkapan, menata tempat, menerima tamu, mengurus parkir, hingga menyelesaikan pekerjaan setelah acara selesai. Semua dilakukan dengan kesadaran sederhana bahwa saat seseorang punya gawe, tetangga tidak seharusnya hanya menjadi penonton.

Gagasan Robert D. Putnam tentang modal sosial terasa dekat dengan tradisi semacam ini. Putnam menjelaskan pentingnya hubungan, kepercayaan, dan kebiasaan bekerja bersama sebagai kekuatan dalam kehidupan masyarakat. Modal sosial tidak selalu lahir dari forum resmi atau pertemuan yang penuh agenda. Ia bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang-ulang: datang membantu tetangga, berbagi pekerjaan, bergantian mengaduk sewajan jenang, dan tetap hadir sampai pekerjaan selesai.

Barangkali karena itulah tradisi rewang memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar tenaga gratis. Di dalamnya ada kepercayaan. Orang percaya bahwa saat dirinya membutuhkan bantuan, tetangga akan datang. Begitu pula sebaliknya. Hubungan semacam ini tidak dibangun dalam sehari. Ia tumbuh dari perjumpaan yang berulang, dari saling membantu, dan dari kesediaan hadir dalam berbagai keadaan.

Namun, zaman tentu berubah. Hajatan sekarang semakin praktis. Makanan bisa dipesan melalui katering. Kursi dan meja bisa disewa. Tenda tinggal memesan. Peralatan hajatan tersedia dalam berbagai paket. Pekerjaan yang dulu membutuhkan banyak orang kini dapat diselesaikan oleh penyedia jasa profesional. Perubahan tersebut tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang salah. Masyarakat memiliki kebutuhan dan kesibukan yang berbeda. Praktis bukan dosa, dan menggunakan jasa profesional juga bukan berarti tidak peduli kepada tradisi.

Yang patut direnungkan adalah jangan sampai kemudahan itu membuat ruang perjumpaan sosial ikut menghilang. Sebab, dulu orang memiliki alasan untuk datang bukan hanya karena ingin menghadiri acara, tetapi juga karena ada pekerjaan yang harus dikerjakan bersama. Dari dapur hingga halaman rumah, selalu ada tangan yang bergerak. Dari pekerjaan itulah orang saling mengenal, saling berbicara, bahkan mengetahui kabar kehidupan tetangganya.

Hari ini, sebagian pekerjaan memang dapat digantikan oleh jasa. Namun, hubungan antarmanusia tidak selalu bisa digantikan dengan uang. Sebuah hajatan boleh menggunakan katering, tetapi bukan berarti tetangga tidak perlu dilibatkan. Tenda boleh disewa, tetapi bukan berarti anak-anak muda kampung tidak memiliki ruang untuk membantu. Sebagian pekerjaan boleh dikerjakan tenaga profesional, tetapi semangat rewang tetap bisa dipelihara.

Di sinilah jenang menjadi semacam pengingat. Ada pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan keinginan untuk serba cepat. Adonan harus diaduk terus. Tenaga harus bergantian. Orang harus bersabar menunggu sampai matang. Prosesnya panjang, melelahkan, tetapi justru di situlah kebersamaan tumbuh.

Menariknya, pekerjaan berat seperti mengaduk jenang sering kali justru menjadi ruang pergaulan yang cair. Tidak ada meja rapat, tidak ada moderator, dan tidak ada susunan acara. Orang berbicara sambil bekerja. Persoalan sehari-hari bisa dibahas sambil tangan terus mengaduk. Candaan muncul di tengah rasa pegal. Sesekali seseorang menggoda temannya yang mulai kelelahan. Suasana menjadi hidup bukan karena dibuat-buat, melainkan karena orang memang sedang bekerja bersama.

Kita sering berbicara tentang pembangunan desa dalam ukuran yang mudah dihitung: jalan yang dibangun, jembatan yang diperbaiki, irigasi yang tersedia, bantuan yang disalurkan, atau anggaran yang terserap. Semua itu penting. Tetapi ada pembangunan lain yang tidak mudah dimasukkan ke dalam tabel, yaitu tumbuhnya kepercayaan antarwarga.

Jalan bisa dibangun dengan anggaran. Gedung bisa dibangun dengan proyek. Fasilitas umum bisa dibangun dengan program pemerintah. Namun, rasa saling percaya tidak bisa begitu saja dibangun dengan anggaran. Ia tumbuh dari kebiasaan manusia untuk saling hadir dan membantu.

Karena itu, menjaga tradisi rewang bukan berarti menolak modernisasi. Justru kita perlu mencari cara agar keduanya dapat berjalan bersama. Hajatan boleh semakin praktis, tetapi jangan kehilangan ruang untuk mempertemukan warga. Teknologi boleh semakin maju, tetapi jangan membuat manusia semakin jauh dari tetangganya.

Sewajan jenang mungkin hanya berada di bagian belakang rumah dan tidak banyak dilihat tamu. Namun, dari sanalah kita bisa melihat sesuatu yang sering luput dari perhatian. Ada beberapa orang yang rela berkeringat, bergantian mengaduk adonan yang semakin berat, sambil tetap bercanda dan berbincang. Mereka tidak sedang mengikuti seminar tentang gotong royong. Mereka sedang mempraktikkannya.

Dan mungkin itulah keindahan tradisi Purbalingga yang sederhana. Gotong royong tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang ia hanya berupa seseorang yang datang membawa tenaganya. Kadang berupa tangan yang menggantikan tangan lain yang mulai lelah. Kadang berupa orang yang sebenarnya tidak diminta, tetapi tetap datang karena tahu tetangganya sedang punya gawe.

Jenang memang manis karena bahan-bahannya. Tetapi ada rasa lain yang membuatnya lebih berkesan. Ada keringat orang yang mengaduknya, ada guyon yang mengiringinya, ada tangan yang bergantian bekerja, dan ada kebersamaan yang tumbuh sepanjang prosesnya.

Hajatan boleh berubah. Cara memasak boleh berubah. Peralatan boleh semakin modern. Namun, jangan sampai yang ikut berubah adalah kemauan untuk hadir saat tetangga membutuhkan.

Sebab di balik sewajan jenang, sesungguhnya ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar makanan: ada gotong royong, ada rewang, dan ada cara sederhana masyarakat Purbalingga merawat kebersamaan.