Konten dari Pengguna

Doa Ibu, Kesuksesan, dan Hal yang Sering Kita Lupakan

Ilustrasi Generated By AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Generated By AI

Pukul empat pagi di Tlahab Lor, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, ketika sebagian rumah masih tertutup sunyi, banyak ibu mungkin sudah memulai hari dengan pekerjaan yang tidak pernah masuk berita. Ada yang menanak nasi, menyiapkan bekal, membangunkan anak untuk sekolah, sementara sebagian lainnya bersiap bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Beberapa jam kemudian, anak-anak berangkat sekolah atau orang tua berangkat mencari nafkah. Pemandangan semacam ini begitu biasa sehingga sering tidak dianggap sebagai sebuah cerita besar. Padahal dari rumah-rumah sederhana seperti itulah masa depan banyak keluarga dibangun. Purbalingga sendiri memiliki sejarah panjang dengan industri rambut palsu dan bulu mata yang menyerap banyak tenaga kerja perempuan. Industri itu memberi kesempatan ekonomi bagi masyarakat dan menjadi bagian penting dari kehidupan banyak keluarga. Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang ketangguhan ibu dan perjuangan keluarga. Jangan sampai kisah tentang orang tua yang bekerja keras justru berubah menjadi romantisasi kemiskinan: seolah-olah hidup dalam kekurangan adalah sesuatu yang indah, bekerja sampai lelah adalah ukuran kemuliaan, dan penderitaan merupakan harga yang memang harus dibayar seseorang sebelum disebut berhasil.

Dalam konteks itulah cerita Anies Baswedan tentang doa ibunya menjadi menarik untuk ditempatkan. Anies pernah menceritakan doa ibu sebagai bagian dari bekal dalam perjalanan hidupnya. Sebagai pengalaman personal, cerita itu tentu memiliki makna tersendiri. Tetapi ketika kisah tersebut dibaca dari sudut kehidupan masyarakat Purbalingga, maknanya menjadi lebih luas. Ada banyak anak yang berangkat dari rumah dengan doa yang hampir sama: semoga mendapat pekerjaan, semoga selamat di perjalanan, semoga cukup penghasilannya, semoga bisa membantu keluarga, dan semoga suatu hari memiliki kehidupan yang lebih baik. Seorang anak mungkin tidak memiliki perjalanan hidup yang sama dengan Anies, tetapi ia mengenal perasaan yang sama ketika meninggalkan rumah dan mendengar ibunya berpesan, “Hati-hati, Nak.” Karena itu, Anies dapat menjadi jembatan untuk memasuki tema yang jauh lebih besar: tentang ibu, doa, kerja keras, dan harapan sebuah keluarga untuk mengubah kehidupan.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lewatkan. Menghormati perjuangan orang miskin berbeda dengan meromantisasi kemiskinan. Menghormati berarti mengakui bahwa mereka memiliki keteguhan, kemampuan, cita-cita, dan martabat. Meromantisasi berarti mengambil penderitaan mereka, mengubahnya menjadi cerita inspiratif, lalu merasa cukup setelah mengatakan, “Lihat, mereka tetap kuat.” Padahal orang yang sedang kesulitan mungkin tidak membutuhkan pujian karena mampu bertahan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk tidak terus-menerus bertahan. Seorang ibu yang bekerja keras tentu layak dihargai, tetapi ia juga berhak mendapatkan penghasilan yang layak. Seorang ayah yang rela bekerja lebih lama demi anak tentu patut dihormati, tetapi ia juga berhak memiliki waktu untuk keluarganya. Anak yang mau membantu orang tua adalah sesuatu yang baik, tetapi ia seharusnya tidak dipaksa mengorbankan pendidikannya hanya karena keluarga tidak memiliki pilihan lain.

Di sinilah kisah para pekerja di Purbalingga seharusnya dibaca secara lebih dewasa. Ada kisah pekerja seperti Sumarti yang menggunakan penghasilannya dari industri rambut dan bulu mata untuk membantu membiayai pendidikan anaknya. Kisah tersebut menunjukkan tanggung jawab dan kasih sayang seorang ibu. Namun kita tidak boleh berhenti pada kalimat, “Betapa hebatnya seorang ibu mampu berjuang dalam keterbatasan.” Kita juga harus berani bertanya, “Mengapa sebuah keluarga harus bekerja sedemikian keras agar kebutuhan pendidikan anak dapat terpenuhi?” Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan pekerjaan atau menganggap kehidupan sederhana sebagai sesuatu yang buruk. Justru sebaliknya, pertanyaan ini menunjukkan penghormatan kepada pekerja karena kita tidak ingin ketabahan mereka dijadikan alasan untuk membiarkan keadaan tetap seperti itu.

Sebab ada perbedaan antara mengatakan, “Ibu itu hebat karena mampu bertahan,” dengan mengatakan, “Ibu itu hebat, dan karena itu kita harus memastikan ia tidak terus dipaksa hidup dalam keadaan yang membuatnya harus bertahan.” Kalimat kedua jauh lebih penting. Ia mengubah cara pandang kita dari sekadar mengagumi individu menuju keberanian melihat sistem dan kondisi yang mengelilinginya. Kalau lapangan pekerjaan tersedia tetapi pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, persoalannya tidak selesai hanya dengan mengatakan pekerjanya rajin. Kalau anak rajin belajar tetapi akses pendidikan berkualitas masih sulit dijangkau keluarga berpenghasilan rendah, persoalannya tidak selesai hanya dengan meminta mereka bekerja lebih keras. Kalau keluarga jatuh miskin karena kehilangan pekerjaan, solusi tidak cukup berupa nasihat agar mereka bersabar.

Doa memang memberi kekuatan, tetapi doa tidak menggantikan upah. Doa memberi harapan, tetapi doa tidak membayar uang sekolah. Doa memberi ketenangan, tetapi doa tidak menciptakan lapangan pekerjaan. Karena itu, menghormati doa ibu justru harus berjalan bersama ikhtiar memperbaiki keadaan yang dihadapi keluarga. Jangan sampai masyarakat miskin terus diminta bersyukur atas kemampuannya bertahan, sementara kita lupa bertanya apakah kesempatan yang tersedia bagi mereka memang cukup adil untuk membuat mereka naik kelas.

Kita sering menyukai kisah tentang orang yang berangkat dari keluarga sederhana, bekerja keras, pantang menyerah, lalu berhasil. Kisah seperti itu memang memberikan inspirasi. Tetapi ada bahaya ketika satu kisah keberhasilan digunakan untuk menjelaskan seluruh persoalan kemiskinan. Seolah-olah semua orang miskin hanya perlu bekerja lebih keras. Seolah-olah mereka yang belum berhasil kurang gigih. Seolah-olah mereka yang masih hidup pas-pasan belum cukup berusaha atau kurang kuat berdoa. Padahal titik awal setiap orang tidak sama. Ada anak yang sejak kecil memiliki akses pendidikan yang baik, lingkungan yang mendukung, makanan bergizi, buku, internet, dan kesempatan untuk mencoba berkali-kali. Ada pula anak yang harus membantu orang tua bekerja sebelum menyelesaikan sekolah. Ada yang boleh gagal berkali-kali karena keluarganya masih mampu menopang, sementara bagi keluarga lain satu kegagalan saja dapat membuat seluruh rumah tangga kehilangan penghasilan.

Karena itu, kisah tentang doa ibu seharusnya tidak dipakai untuk menyederhanakan jalan menuju kesuksesan. Doa bukan formula ajaib. Kerja keras juga bukan jaminan tunggal. Kesuksesan seseorang lahir dari pertemuan banyak hal: usaha pribadi, pendidikan, kesempatan, dukungan keluarga, lingkungan, kondisi ekonomi, kesehatan, kebijakan publik, dan terkadang momentum yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan manusia. Mengakui kenyataan itu bukan berarti meremehkan kerja keras. Justru dengan mengakuinya kita memberikan penghargaan yang lebih jujur kepada orang-orang yang berhasil maupun mereka yang masih berjuang.

Di Purbalingga, keberadaan industri rambut palsu dan bulu mata memperlihatkan bagaimana pekerjaan dapat mengubah kehidupan keluarga. Tetapi keberhasilan ekonomi tidak semestinya hanya dihitung dari berapa banyak tenaga kerja yang terserap. Kita juga perlu bertanya apa yang terjadi setelah seseorang bekerja bertahun-tahun. Apakah pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Apakah ia memiliki kesempatan meningkatkan keterampilan? Apakah anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih baik? Apakah keluarganya memiliki perlindungan ketika pekerjaan berhenti? Apakah generasi berikutnya benar-benar mempunyai peluang lebih besar untuk keluar dari kemiskinan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat pembicaraan tentang kesejahteraan menjadi lebih substantif daripada sekadar memuji angka penyerapan tenaga kerja.

Sebab ukuran kemajuan sebuah daerah bukan hanya berapa banyak orang yang bekerja, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut memungkinkan manusia hidup dengan martabat. Pekerjaan seharusnya menjadi jalan keluar dari kemiskinan, bukan sekadar cara untuk mempertahankan seseorang agar tetap berada sedikit di atas garis kebutuhan. Industri dibutuhkan karena membuka kesempatan. UMKM dibutuhkan karena memberi ruang bagi masyarakat untuk mandiri. Investasi dibutuhkan karena menciptakan kegiatan ekonomi. Tetapi semuanya pada akhirnya harus bermuara pada pertanyaan sederhana: apakah kehidupan keluarga menjadi lebih baik?

Di sinilah doa ibu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kalimat religius. Seorang ibu tidak berdoa agar anaknya selamanya kuat menghadapi kesulitan. Ia tentu berharap anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Ia tidak ingin anaknya hanya mewarisi ketabahannya. Ia ingin anaknya mewarisi kesempatan. Ia ingin anaknya memiliki pendidikan yang lebih baik, pekerjaan yang lebih baik, rumah yang lebih layak, kesehatan yang terjaga, dan kehidupan yang tidak terlalu berat. Barangkali doa ibu yang paling dalam bukanlah agar anaknya kuat menghadapi kemiskinan, melainkan agar anaknya tidak perlu mengalami kemiskinan yang sama.

Karena itu, cerita Anies tentang doa ibunya bisa kita tempatkan dalam ruang yang lebih luas. Kita tidak perlu menjadikannya kisah politik. Kita tidak perlu pula menjadikan pengalaman personal seseorang sebagai ukuran keberhasilan semua orang. Yang lebih penting adalah mengambil nilai kemanusiaannya: di belakang banyak perjalanan seorang anak terdapat doa seorang ibu. Tetapi setelah menyadari hal itu, tugas kita bukan hanya mengagumi doa tersebut. Tugas kita juga memastikan dunia yang diwariskan kepada anak-anak itu menjadi sedikit lebih baik daripada dunia yang diwarisi orang tuanya.

Seorang ibu yang bekerja sejak pagi tidak seharusnya hanya mendapatkan pujian karena kuat. Ia berhak mendapatkan kehidupan yang membuatnya tidak harus selalu kuat. Seorang anak yang bekerja keras demi keluarga tidak seharusnya hanya dipuji karena rela berkorban. Ia berhak mendapatkan kesempatan agar pengorbanannya menghasilkan mobilitas sosial. Dan sebuah keluarga yang hidup sederhana tidak seharusnya selalu dijadikan latar belakang cerita inspiratif. Mereka berhak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup tanpa harus terlebih dahulu melewati penderitaan yang panjang.

Maka, ketika kita melihat ibu-ibu pekerja di Purbalingga, jangan hanya melihat ketekunan mereka. Lihat pula harapan yang mereka titipkan kepada anak-anaknya. Ketika melihat seorang anak berangkat kerja, jangan hanya melihat bahwa ia sedang mencari uang. Lihat pula sebuah keluarga yang sedang mencoba mengubah masa depannya. Dan ketika mendengar cerita Anies tentang doa ibunya, jangan berhenti pada kalimat bahwa doa adalah bekal kesuksesan. Baca lebih jauh: bekal itu seharusnya membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar membuatnya lebih tahan terhadap kehidupan yang buruk.

Barangkali di situlah kita menemukan makna kesuksesan yang lebih manusiawi. Kesuksesan bukan hanya tentang siapa yang mampu keluar dari kesulitan, tetapi juga tentang apakah setelah seseorang keluar dari kesulitan ia membantu menciptakan keadaan agar orang lain tidak perlu mengalami kesulitan yang sama. Seorang anak yang berhasil bukan hanya anak yang memiliki jabatan tinggi atau penghasilan besar. Ia juga adalah anak yang mampu mengubah doa ibunya menjadi kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.

Dan akhirnya, mungkin pertanyaan paling penting bukanlah seberapa jauh kita telah pergi dari rumah. Pertanyaannya adalah apakah perjalanan itu benar-benar membuat kehidupan orang yang dulu mendoakan kita menjadi lebih baik.

Sebab waktu terus berjalan. Anak-anak tumbuh. Ibu bertambah tua. Pekerjaan berganti. Penghasilan naik turun. Rumah yang dahulu menjadi tempat keberangkatan perlahan berubah oleh usia. Kita boleh mengejar karier, membangun usaha, meraih pendidikan, memperoleh jabatan, atau mencari penghasilan sebanyak-banyaknya. Semua itu penting. Tetapi jangan sampai setelah berhasil, kita lupa bahwa tujuan terbesar dari sebuah perjalanan bukan sekadar meninggalkan kemiskinan di belakang, melainkan menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi bagi mereka yang pernah mendoakan keberangkatan kita.

Jika ibu masih ada, mungkin sesekali kita perlu pulang bukan karena sedang membutuhkan sesuatu. Duduklah di sampingnya. Tanyakan kabarnya. Dengarkan ceritanya. Dan jika ada kesempatan, katakan terima kasih.

Bukan karena kemiskinan harus dirayakan. Bukan karena penderitaan harus dimuliakan. Tetapi karena di balik banyak keberhasilan seorang anak memang ada orang tua yang pernah berjuang agar anaknya memiliki kesempatan yang lebih baik.

Doa ibu adalah bekal. Tetapi bekal itu seharusnya membawa kita berjalan menuju kehidupan yang lebih baik—bukan mengajarkan kita untuk menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang harus diterima selamanya.