Konten dari Pengguna

Dunia Sedang Kehilangan Modal Termahalnya

Ilustrasi generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generated by AI

Pada 1995, ilmuwan politik Francis Fukuyama menerbitkan sebuah buku berjudul Trust. Gagasannya sederhana, tetapi terasa semakin relevan hari ini. Kemajuan sebuah bangsa, menurut Fukuyama, tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, kecanggihan teknologi, atau besarnya modal.

Ada satu unsur yang sering luput dari perhatian, padahal menjadi fondasi semuanya: kepercayaan. Tanpa kepercayaan, perdagangan menjadi mahal, investasi berjalan lambat, kerja sama berubah penuh kecurigaan, dan kemajuan akhirnya tersendat oleh tembok yang dibangun manusia sendiri.

Tiga puluh tahun berselang, dunia seperti sedang membuktikan tesis itu.

Keputusan Amerika Serikat memperketat penggunaan perangkat teknologi asal China pada infrastruktur digital strategis bukan sekadar kebijakan perdagangan. Yang berubah bukan daftar barang yang boleh atau tidak boleh dipakai, melainkan cara sebuah negara memandang teknologi.

Sebuah perangkat jaringan kini tidak lagi dinilai dari kualitasnya semata. Asal-usulnya dipersoalkan. Siapa pembuatnya ditelusuri. Hubungan perusahaan dengan negaranya ikut diperiksa. Dunia yang dahulu percaya bahwa teknologi mampu menyatukan manusia, kini mulai bertanya apakah teknologi justru bisa menjadi pintu masuk ancaman.

Perubahan cara berpikir itu menandai berakhirnya satu zaman. Selama puluhan tahun globalisasi dibangun di atas keyakinan bahwa saling berdagang akan melahirkan saling percaya. Barang diproduksi di satu negara, dirakit di negara lain, lalu dijual ke seluruh dunia tanpa banyak mempertanyakan bendera yang berada di belakangnya. Kini keyakinan itu perlahan memudar. Yang berpindah bukan hanya pabrik, melainkan juga rasa percaya.

Peradaban modern dibangun oleh teknologi, tetapi dipertahankan oleh kepercayaan. Begitu kepercayaan runtuh, teknologi tidak lagi menjadi jembatan. Ia berubah menjadi batas.

Inilah ironi zaman kita. Manusia berhasil menciptakan kecerdasan buatan yang mampu menulis, menerjemahkan, bahkan membantu menemukan obat. Kita sanggup mengirim data mengelilingi bumi dalam hitungan detik. Namun, pada saat yang sama, kita justru semakin sulit mempercayai siapa yang membuat semua itu. Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan rasa saling percaya.

Sejarah memberikan pelajaran yang menarik. Berabad-abad lalu bangsa-bangsa berlayar untuk menguasai rempah-rempah. Revolusi industri mengubah batu bara dan minyak menjadi sumber kekuatan. Kini pusat perebutan itu bergeser ke data. Bukan lagi karena data dapat dimakan atau dibakar, melainkan karena data mampu menggerakkan ekonomi, mengarahkan perilaku masyarakat, bahkan memengaruhi keputusan politik. Data telah menjadi sumber daya paling strategis abad ini.

Indonesia tidak mungkin menghindari gelombang tersebut. Persoalannya juga bukan memilih berdiri di belakang Washington atau Beijing. Politik luar negeri Indonesia sejak awal mengajarkan prinsip bebas dan aktif, bukan bebas untuk bingung ataupun aktif berpindah kubu. Tantangan yang sesungguhnya jauh lebih mendasar, yakni membangun kemampuan sendiri agar tidak selamanya bergantung pada teknologi yang lahir dari persaingan negara lain.

Sayangnya, kita masih terlalu sering berbangga sebagai pasar digital yang besar. Kebanggaan itu terasa hambar jika sebagian besar teknologi yang kita gunakan dirancang di luar negeri, patennya dimiliki perusahaan asing, dan nilai ekonominya mengalir ke tempat lain. Besar sebagai konsumen tidak otomatis berarti kuat sebagai bangsa.

Mungkin inilah saatnya Indonesia berhenti memandang teknologi sebatas urusan membeli perangkat, membangun pusat data, atau memperluas jaringan internet. Yang jauh lebih penting adalah membangun manusia yang mampu menciptakan teknologi, memperkuat riset, menumbuhkan industri strategis, dan melahirkan keberanian untuk berdiri di atas kemampuan sendiri. Sebab negara yang hanya mengimpor masa depan akan selalu hidup di bawah bayang-bayang keputusan bangsa lain.

Barangkali, berita tentang pembatasan satu jenis perangkat teknologi hanya akan bertahan sehari di halaman depan media. Namun, makna yang dikandungnya jauh lebih panjang. Dunia sedang memasuki babak baru, babak ketika kepercayaan menjadi komoditas yang lebih langka daripada minyak, lebih mahal daripada emas, dan mungkin lebih menentukan masa depan sebuah bangsa daripada kekuatan militernya sendiri.