Konten dari Pengguna

Dunia Tidak Kekurangan Minyak, Dunia Kekurangan Kepastian

Ilustrasi generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generated by AI

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pengembalian blokade terhadap pelayaran Iran di Teluk Persia serta mengancam serangan lanjutan setelah kedua negara saling meluncurkan rudal dan drone, perhatian dunia kembali tertuju pada Selat Hormuz. Jalur laut sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu sekali lagi menjadi pusat ketegangan geopolitik global.

Bagi banyak orang Indonesia, Selat Hormuz mungkin hanya sebuah nama dalam peta. Namun bagi ekonomi dunia, kawasan tersebut adalah salah satu titik paling vital yang menentukan stabilitas energi global. Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur ini. Dalam bahasa yang lebih sederhana, satu gangguan di Hormuz dapat memengaruhi harga energi di hampir seluruh penjuru planet.

Karena itu, setiap kali ketegangan meningkat di kawasan tersebut, pasar langsung bereaksi. Harga minyak bergerak, investor mencari aset yang lebih aman, dan negara-negara mulai menghitung ulang risiko ekonominya. Menariknya, reaksi itu sering muncul bahkan sebelum pasokan energi benar-benar terganggu.

Di sinilah persoalan sesungguhnya berada.

Dunia saat ini tidak sedang menghadapi ancaman kehabisan minyak. Cadangan energi masih tersedia. Negara-negara produsen utama masih beroperasi. Teknologi eksplorasi terus berkembang. Energi terbarukan juga semakin tumbuh sebagai alternatif.

Yang semakin sulit ditemukan justru sesuatu yang tidak dapat ditambang, dipompa, atau diproduksi oleh teknologi mana pun: kepastian.

Dalam ekonomi global modern, yang paling mahal bukan minyak, emas, atau gas alam. Yang paling mahal adalah kepastian tentang masa depan.

Pasar tidak bekerja hanya berdasarkan fakta. Pasar bekerja berdasarkan harapan. Ketika pelaku usaha yakin kondisi akan stabil, investasi mengalir. Ketika konsumen percaya masa depan akan lebih baik, konsumsi meningkat. Ketika negara merasa risiko terkendali, pembangunan dapat berjalan dengan percaya diri.

Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, seluruh mesin ekonomi mulai melambat.

Peraih Nobel Ekonomi Robert Shiller melalui teori Narrative Economics menjelaskan bahwa cerita, persepsi, dan ekspektasi dapat memengaruhi perilaku ekonomi secara masif. Dalam banyak kasus, ketakutan terhadap sebuah peristiwa dapat menghasilkan dampak ekonomi yang hampir sama besar dengan peristiwa itu sendiri.

Kita menyaksikannya saat pandemi COVID-19. Sebelum banyak sektor benar-benar lumpuh, kepanikan lebih dahulu menyebar. Kita juga melihatnya ketika perang Rusia-Ukraina meletus. Bahkan sebelum dampak energi terasa penuh, pasar global telah bereaksi karena kehilangan kepastian.

Kini pola yang sama muncul kembali di Selat Hormuz.

Ketika rudal meluncur di Timur Tengah, yang terguncang bukan hanya kawasan konflik. Bursa saham di berbagai negara ikut bergetar. Nilai tukar mata uang bergerak. Biaya logistik berubah. Harga komoditas menyesuaikan diri terhadap risiko yang belum tentu terjadi.

Thomas Friedman dalam The World Is Flat menggambarkan dunia yang semakin terkoneksi. Namun konektivitas itu ternyata memiliki sisi lain yang lebih rapuh. Risiko juga ikut terkoneksi. Sebuah konflik regional dapat berubah menjadi kekhawatiran global hanya dalam hitungan jam.

Indonesia tidak berada di kawasan perang. Namun Indonesia tidak berada di luar jangkauan dampaknya. Ketergantungan terhadap impor energi membuat setiap lonjakan harga minyak dunia berpotensi memengaruhi inflasi, subsidi energi, biaya transportasi, hingga daya beli masyarakat.

Karena itu, peristiwa di Selat Hormuz seharusnya tidak hanya dibaca sebagai berita luar negeri. Ia adalah pengingat bahwa ketahanan ekonomi nasional tidak cukup dibangun melalui pertumbuhan angka-angka makro. Ketahanan ekonomi juga dibangun melalui kemampuan menghadapi dunia yang semakin sulit diprediksi.

Dana Moneter Internasional (IMF) berulang kali mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu risiko utama bagi pertumbuhan ekonomi global dalam dekade ini. Ancamannya bukan hanya perang itu sendiri, melainkan efek berantai yang ditimbulkan terhadap perdagangan, investasi, energi, dan kepercayaan pasar.

Pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa manusia selalu mampu menemukan sumber energi baru. Dunia pernah beralih dari kayu ke batu bara, dari batu bara ke minyak, dan kini mulai bergerak menuju energi terbarukan. Kelangkaan sumber daya sering kali dapat diatasi oleh inovasi.

Namun ada satu hal yang jauh lebih sulit digantikan: kepercayaan.

Peradaban modern sesungguhnya tidak dibangun di atas sumur-sumur minyak. Ia dibangun di atas keyakinan bahwa kapal-kapal akan tetap berlayar, perdagangan akan tetap berjalan, dan hari esok masih bisa direncanakan.

Ketika keyakinan itu mulai retak, yang pertama kali langka bukan energi. Yang pertama kali langka adalah rasa aman. Dan ketika rasa aman menghilang, harga yang harus dibayar dunia sering kali jauh lebih mahal daripada harga satu barel minyak.