Konten dari Pengguna

Indonesia Emas 2045 atau Sekadar Slogan?

Rudi Yahya

Rudi Yahya

Pendidikan pernah kuliah Pengamat & pemerhati kebijakan Publik. Tulisan menjadi warisan yg abadi dibandingkan dg harta benda, memungkinkan generasi mendatang (cucu/cicit) untk mengenal pemikiran penulisnya "Menulis adalah bekerja untuk keabadian"

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Generated by AI

Setiap kali 1 Juni diperingati sebagai momentum refleksi hak anak, kita selalu mendengar narasi yang sama: masa depan bangsa ada di tangan anak-anak.

Namun ada pertanyaan yang lebih jujur, dan mungkin lebih tidak nyaman: anak-anak yang mana, dan masa depan yang seperti apa?

Karena di balik narasi besar “Indonesia Emas 2045”, realitasnya masih jauh dari ideal. Anak-anak Indonesia hari ini masih hidup di tengah kekerasan, ketidakamanan, stunting, dan sistem perlindungan yang sering kali hanya kuat di atas kertas.

Indonesia sudah memiliki UU Perlindungan Anak yang cukup lengkap dan progresif. Tetapi pertanyaan paling mendasar tetap tidak berubah: mengapa kekerasan terhadap anak masih terus terjadi?

Perundungan di sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, hingga eksploitasi anak di ruang digital bukan lagi kasus luar biasa. Itu sudah menjadi realitas yang berulang.

Namun yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya kasusnya, tetapi normalisasi diam-diam terhadap situasi ini.

Anak-anak tidak kekurangan aturan. Mereka kekurangan perlindungan yang benar-benar bekerja.

Di sisi lain, stunting masih menjadi persoalan serius yang belum sepenuhnya tertangani. Artinya sederhana namun keras: kita berbicara tentang Generasi Emas, tetapi sebagian dari mereka bahkan tidak mendapatkan awal kehidupan yang layak secara gizi.

Ketika bencana terjadi, anak-anak kembali menjadi kelompok paling rentan. Mereka kehilangan rumah, sekolah, dan rasa aman. Namun setelah sorotan publik hilang, pemulihan psikologis dan pendampingan jangka panjang sering ikut menghilang dari perhatian.

Ini menunjukkan satu hal yang sulit dibantah: perlindungan anak di Indonesia masih bersifat reaktif, bukan sistemik.

Kita hadir saat kasus viral, bukan saat pencegahan bisa dilakukan.

Kita bergerak saat tragedi terjadi, bukan saat risiko masih bisa dihentikan.

Dunia telah lama mengingatkan pentingnya pendidikan sebagai fondasi perubahan. Seperti yang disampaikan aktivis pendidikan Malala Yousafzai:

“One child, one teacher, one book, one pen can change the world.”

Namun di Indonesia, pertanyaannya menjadi lebih sederhana sekaligus lebih pahit: berapa banyak anak yang benar-benar punya kesempatan itu tanpa rasa takut?

Karena tanpa rasa aman, pendidikan hanya menjadi rutinitas, bukan pembebasan.

Momentum 1 Juni seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi alarm keras bahwa ada jarak besar antara narasi dan kenyataan.

Sebuah bangsa tidak gagal karena tidak punya visi. Ia gagal ketika visinya tidak pernah benar-benar menyentuh anak-anaknya.

Indonesia Emas 2045 bisa menjadi masa depan nyata. Tapi ia juga bisa berubah menjadi slogan besar yang terus diulang, sementara anak-anak hari ini tumbuh dalam ketidakamanan yang dianggap normal.

Pertanyaannya kini sederhana, tapi tajam: kita sedang membangun masa depan, atau sekadar menunda masalah hari ini?