Jangan Hanya Menjala Ikan, Rawat Sungai Klawing
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang menarik dari cara warga Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Puluhan warga turun ke Sungai Klawing mengikuti lomba menjala ikan, diiringi musik tek-tek yang membuat suasana semakin ramai. Ada tawa, sorak, jala yang dilempar ke air dan hadiah berupa uang pembinaan bagi peserta. Sekilas, ini hanyalah hiburan khas Agustusan, tetapi ada pesan yang lebih penting setelah perlombaan selesai.
Warga tidak langsung meninggalkan sungai. Kegiatan dilanjutkan dengan penebaran ribuan benih ikan melem. Kepala Desa Penaruban Siti Syarifah, S.Pd., bersama panitia PPHN dan warga turun langsung menebarkan benih ke Sungai Klawing. Ketua LPMD, Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga hadir dalam kegiatan tersebut. Dari sini terlihat bahwa sungai bukan sekadar tempat mencari ikan, tetapi bagian dari ruang hidup masyarakat yang perlu dipikirkan keberlangsungannya.
Ketua PPHN Desa Penaruban, Rudi Yahya, mengatakan kegiatan tersebut memang dimaksudkan untuk meramaikan HUT RI sekaligus menjadi hiburan bagi warga. "Kita sifatnya meramaikan HUT RI sebagai hiburan warga Desa Penaruban," katanya. Pernyataan yang sederhana itu justru menunjukkan kekuatan kegiatan di tingkat desa. Tidak semua kemeriahan harus dibangun dengan panggung besar dan biaya besar. Kadang, sebuah sungai, musik tek-tek, jala dan warga yang mau turun bersama sudah cukup untuk menciptakan perayaan yang hidup.
Namun, jangan berhenti pada keseruan lombanya. Bagian paling penting justru terjadi setelah musik berhenti dan peserta menyimpan jalanya. Ribuan benih ikan melem ditebar dengan harapan populasi ikan di Sungai Klawing kembali tumbuh. Ini bukan sekadar simbol dalam acara HUT RI. Ada persoalan lingkungan yang sedang disentuh: populasi ikan harus dipulihkan, ekosistem perairan harus dijaga dan keanekaragaman hayati harus dipertahankan.
"Penebaran benih ikan ini kami maksudkan untuk memulihkan populasi ikan, menjaga ekosistem perairan dan melestarikan keanekaragaman hayati. Kami juga ingin menjaga agar jenis-jenis ikan yang ada di sungai tidak semakin berkurang," ujar Siti Syarifah.
Pernyataan tersebut patut diberi perhatian lebih. Sebab, menjaga sungai tidak cukup dengan menebarkan ikan sekali dalam setahun. Benih yang dilepas membutuhkan air yang baik, habitat yang aman dan ekosistem yang memungkinkan ikan berkembang. Kalau sungainya kotor, habitatnya rusak dan ikan ditangkap tanpa kendali, ribuan benih yang ditebar bisa kehilangan kesempatan untuk tumbuh.
Di sinilah masyarakat memiliki pekerjaan yang tidak kalah penting dari pemerintah desa. Jangan sampai penebaran benih menjadi acara seremonial, difoto, diberitakan, lalu selesai. Ukuran keberhasilannya bukan berapa banyak benih yang dilepas ke sungai, melainkan apakah beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian populasi ikan benar-benar bertambah dan ekosistem Sungai Klawing menjadi lebih sehat.
"Jangan sampai ikan-ikan di sungai semakin berkurang bahkan punah. Kita ingin anak cucu nanti masih bisa melihat dan menikmati keanekaragaman ikan di Sungai Klawing," kata Siti.
Kalimat itu menyentuh persoalan yang lebih besar: warisan lingkungan. Generasi sekarang menikmati sungai yang ada, tetapi generasi berikutnya juga memiliki hak yang sama untuk menikmati air, ikan dan keanekaragaman hayati di dalamnya. Jangan sampai anak-anak Penaruban kelak hanya mengenal beberapa jenis ikan dari cerita orang tua karena sebagian lainnya sudah hilang dari sungai.
Karena itu, semangat menjaga Sungai Klawing harus berjalan setelah kegiatan HUT RI berakhir. Masyarakat perlu menjaga kebersihan sungai, tidak merusak habitat, tidak menangkap ikan dengan cara yang merusak dan memberi kesempatan kepada ikan untuk berkembang biak. Pemerintah desa juga dapat memperkuat kesadaran tersebut melalui edukasi dan aturan bersama yang mudah dipahami warga.
Kehadiran Ketua LPMD, Babinsa dan Bhabinkamtibmas bersama pemerintah desa, panitia dan masyarakat menunjukkan bahwa persoalan lingkungan sebenarnya bisa menjadi urusan bersama. Sungai tidak mengenal batas administrasi dalam aliran airnya. Karena itu, menjaga sungai juga membutuhkan kesadaran kolektif, bukan hanya mengandalkan satu pihak.
Menariknya, semua itu bermula dari sebuah lomba. Warga datang untuk bersenang-senang, membawa jala, mendengarkan musik tek-tek dan mengejar ikan. Tetapi dari kegiatan sederhana tersebut lahir sebuah pesan yang jauh lebih panjang: jangan hanya mengambil dari sungai, tetapi juga kembalikan kehidupan ke dalamnya.
HUT RI akhirnya tidak hanya menjadi kalender tahunan yang dipenuhi perlombaan. Di Penaruban, kemerdekaan dirayakan dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Warga berkumpul, tertawa, berlomba, mendapatkan hiburan, lalu bersama-sama menebarkan ribuan benih ikan sebagai harapan agar Sungai Klawing tetap hidup.
Lomba menjala ikan mungkin selesai dalam sehari. Hadiah uang pembinaan akan diterima para pemenang dan musik tek-tek akan berhenti setelah acara usai. Tetapi ribuan benih ikan yang ditebar membawa cerita yang berbeda. Mereka membutuhkan waktu untuk tumbuh, dan membutuhkan sungai yang sehat untuk bertahan.
Pada akhirnya, keberhasilan kegiatan ini bukan diukur dari seberapa meriah lombanya, melainkan dari seberapa lama warga mampu menjaga kehidupan yang sudah mereka tebar. Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang merayakan masa lalu, tetapi juga tentang memastikan generasi berikutnya masih memiliki sesuatu yang layak dirayakan.
Dari Sungai Klawing, pesannya sederhana: boleh menjala ikan untuk bersenang-senang, tetapi jangan lupa menjaga sungai agar ikan tidak habis. Sebab sungai yang kehilangan ikan bukan hanya kehilangan isi, tetapi juga kehilangan sebagian dari kehidupannya.

