Jimpitan, Layur, dan Garis Putih yang Menjaga Indonesia
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cat di tepi jalan itu belum sepenuhnya kering. Beberapa warga masih merapikan sapuan kuas yang membentuk garis putih di sisi aspal, sementara yang lain berdiri di atas tangga mengikat layur yang akan berkibar sepanjang bulan Agustus. Malam mulai turun di RT 01/RW 01 Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga. Tidak ada panggung, tidak ada sambutan, tidak pula kamera yang menunggu momen untuk menjadi viral. Seusai bekerja, mereka duduk melingkar menikmati kopi dan mendoan. Percakapan mengalir ringan, sesekali diselingi tawa. Bagi orang luar, mungkin itu hanya kerja bakti menjelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Namun, bagi saya, malam itu memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih penting: cara sebuah kampung merawat Indonesia.
Belakangan ini kita terlalu sering mengukur kemajuan dari sesuatu yang besar dan mudah dihitung. Jalan tol yang bertambah panjang, investasi yang terus meningkat, gedung-gedung baru yang menjulang, atau angka pertumbuhan ekonomi yang bergerak naik menjadi ukuran keberhasilan pembangunan. Semua itu memang penting. Akan tetapi, ada satu unsur yang sering luput dari perhatian, yaitu kemampuan masyarakat menjaga kebersamaan. Sebagus apa pun infrastruktur yang dibangun, ia tidak akan bertahan lama apabila masyarakat kehilangan rasa memiliki. Sebesar apa pun anggaran yang digelontorkan, hasilnya tidak akan maksimal apabila warga memilih menjadi penonton daripada ikut merawat lingkungan tempat mereka hidup.
Pemandangan di Penaruban mengingatkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek bernilai miliaran rupiah. Kadang ia dimulai dari ember berisi cat, sebatang bambu, dan beberapa orang yang rela meluangkan waktu setelah seharian bekerja. Garis putih yang dicat bersama memang tidak mengubah statistik ekonomi nasional. Layur yang dipasang juga tidak akan tercatat dalam laporan pembangunan. Namun, keduanya menyampaikan pesan yang sering terlupakan: ruang publik adalah milik bersama, sehingga menjaganya pun harus menjadi tanggung jawab bersama.
Semangat itu tidak berhenti pada kerja bakti. Di lingkungan tersebut masih hidup tradisi jimpitan, kebiasaan warga menyisihkan sedikit uang secara rutin untuk kepentingan bersama. Nilainya mungkin tidak seberapa jika dilihat dari setiap rumah, tetapi menjadi berarti karena dilakukan oleh seluruh warga. Dari kebiasaan sederhana itu lahir dana untuk membantu kegiatan lingkungan, mendukung warga yang mengalami musibah, hingga menjaga roda organisasi RT tetap berjalan. Jimpitan mengajarkan bahwa solidaritas tidak selalu lahir dari sumbangan besar. Ia justru tumbuh dari kebiasaan berbagi dalam jumlah kecil, tetapi dilakukan terus-menerus.
Tanpa disadari, masyarakat desa telah mempraktikkan prinsip yang kini dikenal luas sebagai crowdfunding jauh sebelum istilah itu menjadi bagian dari kehidupan digital. Bedanya, mereka tidak menggunakan aplikasi atau algoritma, melainkan kepercayaan. Tidak ada target penggalangan dana, tidak ada promosi yang dirancang agar menarik perhatian. Yang menjadi modal utamanya hanyalah keyakinan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bersama. Kepercayaan seperti inilah yang oleh ilmuwan politik Robert D. Putnam disebut sebagai social capital atau modal sosial, yakni kekuatan yang lahir dari jaringan hubungan, rasa saling percaya, dan kemauan bekerja sama. Modal ini tidak tampak dalam laporan keuangan, tetapi sering kali menjadi penentu apakah sebuah masyarakat mampu menghadapi persoalan secara bersama atau justru terpecah oleh kepentingan masing-masing.
Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian Badan Pusat Statistik terhadap kehidupan desa. Dalam pendataan desa, aktivitas gotong royong menjadi salah satu unsur yang diamati untuk menggambarkan kondisi sosial masyarakat. Pesannya jelas. Kemajuan desa tidak hanya ditentukan oleh jalan yang mulus atau bangunan yang berdiri megah, tetapi juga oleh partisipasi warga dalam menjaga lingkungannya. Infrastruktur dapat dibangun melalui anggaran, tetapi kepercayaan hanya bisa dibangun melalui kebiasaan hidup bersama.
Barangkali kekuatan terbesar Indonesia bukan terletak pada besarnya anggaran atau megahnya proyek pembangunan, melainkan pada kebiasaan warganya untuk saling menjaga. Sapuan cat di tepi jalan, layur yang berkibar menyambut HUT RI, dan jimpitan yang terus dijalankan mungkin tampak sederhana. Namun, dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah lahir rasa memiliki, kepercayaan, dan kepedulian yang membuat sebuah masyarakat tetap utuh. Bangsa tidak hanya berdiri karena hukum dan kekuasaan, tetapi juga karena warganya masih percaya bahwa urusan bersama adalah tanggung jawab bersama.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, nilai seperti ini menjadi semakin penting. Kita dapat berbincang dengan orang di belahan dunia lain melalui telepon genggam, tetapi belum tentu mengenal tetangga yang tinggal beberapa langkah dari rumah. Kita cepat mengetahui isu yang sedang ramai di media sosial, tetapi sering terlambat mengetahui bahwa ada warga di sekitar kita yang membutuhkan bantuan. Teknologi memang memudahkan komunikasi, tetapi tidak selalu memperkuat hubungan antarmanusia. Ruang-ruang seperti kerja bakti, ronda, dan jimpitan justru menjadi tempat yang menjaga agar hubungan itu tidak benar-benar hilang.
Malam di Penaruban akhirnya usai. Warga pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan garis putih yang kini tampak lebih terang dan layur yang mulai menari tertiup angin. Beberapa hari lagi suasana kampung akan semakin semarak menyambut Hari Kemerdekaan. Beberapa bulan lagi cat itu akan memudar, layur akan diturunkan, dan Agustus akan berganti menjadi bulan-bulan berikutnya. Namun, apabila gotong royong dan jimpitan tetap hidup, yang memudar hanyalah warna cat, bukan semangatnya. Sebab, Indonesia tidak hanya dirawat oleh kebijakan besar yang lahir di ibu kota. Indonesia bertahan karena di kampung-kampung seperti Penaruban masih ada orang-orang yang percaya bahwa segenggam kepedulian akan selalu lebih kuat daripada seribu slogan tentang persatuan.

