Ketika Jalan dan Drainase Dibangun oleh Harapan
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Minggu pagi di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, warga memilih mengisi hari libur dengan kerja bakti. Mereka bergotong royong membangun fasilitas yang dibutuhkan bersama.
Di RT 02/RW 03 Dukuh Merden, warga membuat drainase lingkungan. Saluran air itu dibangun untuk memperlancar aliran air dan mengurangi genangan saat musim hujan.
Sementara itu, warga dalam satu wilayah kedusunan mengurug jalan baru menuju pemakaman desa. Jalan tersebut akan menjadi akses penting bagi masyarakat.
Seluruh pekerjaan dilakukan secara swadaya. Warga berpartisipasi melalui tenaga, material, maupun urunan sesuai kemampuan masing-masing.
Tidak ada kontraktor atau alat berat. Yang terlihat hanya semangat kebersamaan yang masih hidup di tengah masyarakat.
Pemandangan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya tersimpan pelajaran penting tentang arti pembangunan.
Selama ini pembangunan sering diukur dari besarnya anggaran. Padahal banyak perubahan lahir dari kepedulian warga terhadap lingkungannya sendiri.
Warga Penaruban menunjukkan bahwa tidak semua persoalan harus menunggu bantuan datang. Ketika kebutuhan sudah dirasakan bersama, masyarakat dapat bergerak dan mencari solusi bersama.
Di Penaruban, warga tidak menunggu pembangunan datang. Mereka ikut menjadi bagian dari pembangunan itu sendiri.
Kalimat itu menggambarkan apa yang terjadi pada Minggu pagi tersebut.
Drainase yang dibangun di RT 02/RW 03 dan jalan menuju pemakaman desa memang bukan proyek besar. Namun manfaatnya akan dirasakan oleh banyak warga dalam waktu yang lama.
Yang dibangun bukan hanya saluran air dan jalan. Yang tumbuh juga rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, kerja bakti seperti ini menjadi kabar baik. Ia menunjukkan bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan masyarakat desa.
Karena pada akhirnya, kemajuan tidak selalu dimulai dari anggaran yang besar. Kemajuan sering dimulai dari warga yang mau meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kepentingan bersama.
Drainase di Dukuh Merden dan jalan menuju pemakaman desa memang dibangun dengan tanah, batu, dan semen. Namun yang sesungguhnya sedang dibangun adalah harapan.
Harapan bahwa kebersamaan tetap hidup. Harapan bahwa gotong royong tetap terjaga. Dan harapan bahwa masa depan yang lebih baik dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama.

