Konten dari Pengguna

Kolam Bioflok dan Harapan Baru dari Desa Penaruban

Jajaran Pengurus Bumdes dan  Kepala Desa Penarban . Foto Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Jajaran Pengurus Bumdes dan Kepala Desa Penarban . Foto Dokumen Pribadi

Panen raya ikan nila yang digelar BUMDes Sido Mukti di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Kamis (6/8), mungkin terlihat seperti kegiatan biasa. Ikan dipanen, tamu undangan hadir, lalu acara selesai. Namun, bila dicermati lebih jauh, ada pesan yang jauh lebih penting daripada sekadar hasil panen.

Desa sedang belajar berdiri di atas kakinya sendiri.

Selama bertahun-tahun, banyak desa menggantungkan pembangunan pada Dana Desa atau bantuan pemerintah. Dana itu memang penting, tetapi tidak akan pernah cukup jika desa tidak mampu menciptakan sumber pendapatan sendiri. Di sinilah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menemukan maknanya.

BUMDes bukan sekadar lembaga yang dibentuk untuk memenuhi amanat regulasi. Ia seharusnya menjadi mesin ekonomi yang mengolah potensi lokal menjadi nilai tambah. Desa yang memiliki sawah bisa mengembangkan sektor pertanian. Desa dengan potensi wisata dapat membangun destinasi. Sementara Desa Penaruban memilih memanfaatkan sektor perikanan melalui budi daya ikan nila sistem bioflok.

Pilihan itu menarik karena menunjukkan keberanian untuk berinovasi. Bioflok bukan hanya teknologi yang membuat penggunaan lahan dan air lebih efisien, tetapi juga mencerminkan cara berpikir baru bahwa desa harus mampu mengikuti perkembangan tanpa kehilangan identitasnya.

Direktur BUMDes Sido Mukti, Igir Agus Prasetio, bersama pengurus BUMDes telah membuktikan bahwa usaha desa dapat dikelola secara serius. Panen raya bukan sekadar hasil dari kolam yang penuh ikan, melainkan buah dari perencanaan, kerja sama, dan konsistensi dalam mengelola usaha.

Lebih penting lagi, Kepala Desa Penaruban, Siti Syarifah, S.Pd., mengingatkan bahwa tujuan utama pendirian BUMDes bukan sekadar mencari keuntungan. BUMDes hadir untuk meningkatkan perekonomian desa, meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes), sekaligus mengoptimalkan aset dan potensi ekonomi yang dimiliki desa. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa laba hanyalah salah satu ukuran keberhasilan. Ukuran yang lebih besar adalah seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.

Pelaksanaan Panen Ikan Nila dengan teknologi Bioflok Secara Simbolis.

Persoalan yang sering muncul di banyak desa bukan kekurangan potensi, melainkan keberanian mengelolanya. Tidak sedikit BUMDes yang berhenti sebagai papan nama tanpa aktivitas. Ada pula yang memiliki modal, tetapi kehilangan arah karena dikelola tanpa perencanaan dan profesionalisme.

Karena itu, panen raya di Penaruban layak dibaca sebagai sebuah pesan. Desa tidak akan maju hanya karena anggaran terus bertambah. Desa akan tumbuh jika memiliki unit-unit usaha yang sehat, dikelola secara transparan, dan mampu menghasilkan nilai ekonomi secara berkelanjutan.

Perwakilan Plt Camat Kaligondang, Kapolsek Kaligondang, Danramil Kaligondang, pendamping desa, serta tokoh masyarakat yang hadir dalam panen raya menunjukkan bahwa membangun ekonomi desa bukan pekerjaan satu orang. Ia membutuhkan dukungan banyak pihak agar setiap langkah kecil memiliki daya ungkit yang lebih besar.

Kolam bioflok di Penaruban mungkin tidak seluas kawasan industri. Nilai panennya pun belum sebanding dengan perusahaan besar. Namun, pembangunan memang tidak selalu dimulai dari sesuatu yang megah. Ia sering lahir dari keberanian memanfaatkan peluang yang ada di depan mata.

Jika semakin banyak BUMDes mampu mengikuti jejak seperti yang dilakukan BUMDes Sido Mukti, desa tidak lagi hanya menjadi penerima manfaat pembangunan. Desa akan menjadi pelaku utama yang menciptakan pertumbuhan ekonomi dari akarnya sendiri.

Sebab pada akhirnya, desa yang mandiri bukanlah desa yang paling banyak menerima bantuan, melainkan desa yang mampu mengubah potensi menjadi kesejahteraan bagi warganya.