Kurban dari Sapi TPA?

Pendidikan pernah kuliah Pengamat & pemerhati kebijakan Publik. Tulisan menjadi warisan yg abadi dibandingkan dg harta benda, memungkinkan generasi mendatang (cucu/cicit) untk mengenal pemikiran penulisnya "Menulis adalah bekerja untuk keabadian"
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjelang Idul Adha, masyarakat sibuk mencari sapi terbaik untuk kurban. Namun di sejumlah sudut kota, ada sapi-sapi yang justru tumbuh di atas gunungan sampah.
Pemandangan itu bisa ditemukan di TPA Jatibarang, Semarang, maupun TPA Putri Cempo, Solo. Sapi-sapi milik warga terlihat memakan sisa makanan, limbah rumah tangga, hingga tumpukan sampah yang bercampur plastik. Fenomena ini bukan hal baru. Hampir setiap tahun, persoalan yang sama kembali muncul—dan hampir selalu berlalu tanpa penyelesaian serius.
Bagi peternak kecil, TPA bukan pilihan ideal. Tetapi ketika harga pakan terus naik dan lahan semakin sempit, tempat pembuangan sampah berubah menjadi ruang bertahan hidup.
Di situlah dilema itu dimulai.
Di satu sisi, sapi-sapi tersebut membantu ekonomi warga kecil tetap berjalan. Namun di sisi lain, publik juga punya hak untuk bertanya: seberapa aman hewan yang tumbuh di lingkungan sampah untuk dikonsumsi?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Sapi yang hidup di sekitar TPA berisiko terpapar logam berat, bakteri, hingga mikroplastik dari limbah rumah tangga. Dalam standar kesehatan global, World Health Organization menekankan bahwa hewan konsumsi seharusnya berasal dari sistem pakan yang aman dan terkontrol.
Sayangnya, pengawasan hewan kurban di lapangan sering kali berhenti pada syarat administratif dan kondisi fisik ternak. Selama sapi terlihat sehat, cukup umur, dan lolos pemeriksaan dasar, riwayat lingkungan hidupnya jarang benar-benar menjadi perhatian.
Padahal, bagi masyarakat, daging kurban bukan sekadar simbol ibadah. Daging itu akan dibawa pulang, dimasak, lalu dimakan bersama keluarga.
Masalahnya, menyederhanakan persoalan dengan menyalahkan peternak kecil juga terasa tidak adil. Banyak dari mereka hanya memiliki satu atau dua ekor sapi dengan modal terbatas. Mereka bukan sedang mencari keuntungan besar, tetapi sekadar berusaha bertahan di tengah biaya peternakan yang makin mahal.
Ironisnya, negara seperti datang hanya saat musim kurban tiba. Pengawasan diperketat menjelang Idul Adha, tetapi persoalan mendasar seperti akses pakan murah, pendampingan peternak rakyat, hingga pengelolaan limbah organik tak pernah benar-benar diselesaikan.
Akibatnya, isu sapi TPA terus berulang seperti alarm tahunan yang bunyinya terdengar, tetapi tidak pernah dianggap darurat.
Kita akhirnya hidup dalam paradoks yang aneh: masyarakat ingin daging kurban yang sehat dan layak konsumsi, sementara peternak kecil dipaksa bertahan dengan pilihan yang penuh risiko.
Dan selama kondisi itu tidak berubah, sapi-sapi di atas gunungan sampah akan terus menjadi potret paling jujur tentang bagaimana masalah pangan, kemiskinan, dan ibadah bertemu dalam satu peristiwa bernama Idul Adha.
