Konten dari Pengguna

Mahalnya Merawat Budaya

Ilustrasi Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Generated by AI

Kita sering mengatakan bahwa budaya adalah jati diri bangsa. Kalimat itu terdengar indah dan hampir selalu mendapat persetujuan. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang dibicarakan setelah kalimat tersebut diucapkan: berapa biaya yang harus dibayar agar jati diri itu tetap hidup? Wayang adalah salah satu contohnya. Kita ingin wayang tetap hadir di tengah masyarakat, tetapi sebuah pentas wayang tidak bisa berlangsung hanya dengan modal kecintaan.

Ada dalang yang harus dihargai, pengrawit yang harus dibayar, sinden yang harus mendapatkan haknya, gamelan yang harus tersedia, panggung yang harus dibangun, tata suara dan lampu yang harus disiapkan, transportasi, konsumsi, dokumentasi serta kebutuhan teknis lainnya.

Semakin besar pertunjukannya, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan. Sementara masyarakat juga mempunyai kebutuhan lain yang tidak kalah penting. Pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, kegiatan sosial, pembangunan lingkungan, kegiatan pemuda dan berbagai kebutuhan sehari-hari semuanya membutuhkan biaya. Di sinilah persoalannya: wayang masih dicintai, tetapi mencintai wayang membutuhkan ongkos.

Persoalan tersebut sangat dekat dengan kehidupan masyarakat desa di Purbalingga dan Banyumas. Dalam kegiatan bersih desa, sedekah bumi, hari jadi desa, hajatan warga atau agenda kebudayaan, wayang masih menjadi salah satu bentuk pertunjukan yang mempunyai tempat tersendiri. Namun di balik kemeriahan panggung, panitia harus menghitung kemampuan masyarakat.

Mereka harus memikirkan biaya pertunjukan sekaligus berbagai kebutuhan lain yang muncul dalam sebuah kegiatan. Pemerintah desa pun memiliki tanggung jawab yang luas. Ada jalan lingkungan yang harus diperbaiki, drainase yang harus diperhatikan, kegiatan posyandu, pemberdayaan masyarakat, pemuda, pelayanan sosial dan berbagai kebutuhan warga lainnya.

Maka apabila sebuah desa akhirnya memilih pertunjukan yang lebih sederhana karena keterbatasan anggaran, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa masyarakat sudah tidak mencintai budaya. Ada perbedaan besar antara tidak mau dan tidak mampu. Kecintaan terhadap budaya bisa tetap hidup meskipun kemampuan untuk membiayai pertunjukannya sedang terbatas.

Masalahnya, budaya sering kita ukur hanya dari panggung. Ada pertunjukan, berarti budaya hidup. Tidak ada pertunjukan, berarti budaya mati. Padahal persoalannya jauh lebih dalam. Wayang bukan sekadar tontonan semalam. Di dalamnya ada bahasa, sastra, musik, filsafat, humor, kritik sosial, pendidikan karakter dan pengetahuan tentang kehidupan.

Seorang dalang bukan sekadar orang yang memainkan wayang. Ia harus memahami cerita, karakter tokoh, bahasa, musik, suasana pertunjukan dan cara berkomunikasi dengan penonton. Pengrawit membutuhkan keterampilan musikal yang diperoleh melalui latihan panjang. Sinden juga memiliki kemampuan khusus yang tidak muncul dalam satu atau dua kali latihan.

Di belakang mereka masih ada pembuat wayang, pembuat gamelan, penata panggung, teknisi suara, penata lampu dan berbagai pekerja lain. Artinya, sebuah pentas wayang sesungguhnya mempertemukan banyak pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di sinilah kita perlu melihat kebudayaan bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai jembatan. Edmund Burke pernah menggambarkan masyarakat sebagai sebuah hubungan antara mereka yang telah meninggal, mereka yang hidup sekarang dan mereka yang belum lahir. Gagasan tersebut relevan untuk memahami kebudayaan.

Kita tidak menciptakan budaya dari ruang kosong. Kita menerima bahasa, cerita, kesenian, nilai dan tradisi dari generasi sebelumnya. Kita kemudian menggunakannya, mengubah sebagian bentuknya sesuai zaman dan meneruskannya kepada generasi sesudah kita. Kita berada di tengah sebuah estafet. Kita menerima tongkat dari generasi sebelumnya, lalu memiliki tanggung jawab untuk menyerahkannya kepada generasi berikutnya.

Masalah terbesar kebudayaan bukan hanya mahalnya sebuah pertunjukan, tetapi putusnya jembatan yang menghubungkan generasi. Anak tidak lagi belajar dari orang tua, cucu tidak lagi mengenal cerita yang dahulu diceritakan kakeknya, generasi muda tidak lagi mempunyai ruang untuk bertemu dengan seniman, sementara para pelaku seni semakin sedikit karena tidak ada penerus. Pada saat itu yang hilang bukan sekadar wayang. Yang putus adalah percakapan antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Kita boleh mengubah bentuk pertunjukan, menggunakan teknologi dan menyesuaikan budaya dengan zaman, tetapi jangan sampai perubahan itu membuat generasi berikutnya kehilangan pintu untuk mengenal dari mana mereka berasal.

Karena itu, merawat budaya seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengadakan pentas. Yang lebih penting adalah memastikan ada proses pewarisan. Seorang anak yang tinggal di sebuah desa mungkin tahu bahwa setiap tahun ada pertunjukan wayang. Ia datang bersama orang tuanya, duduk di antara penonton, menikmati beberapa adegan, lalu pulang.

Tahun berikutnya hal yang sama terulang. Tetapi pengetahuan budaya belum tentu berpindah hanya karena seseorang menonton pertunjukan. Anak itu perlu mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan dalang, mendengar cerita tentang tokoh-tokoh wayang, melihat proses latihan, mencoba memainkan gamelan atau sekadar bertanya mengapa sebuah lakon mempunyai pesan tertentu. Dari proses semacam itulah jembatan antargenerasi benar-benar dibangun.

Purbalingga dan Banyumas mempunyai banyak ruang yang sebenarnya dapat digunakan untuk proses tersebut. Balai desa, pendopo, halaman sekolah, lapangan dan sanggar bukan hanya tempat untuk menyelenggarakan acara, tetapi dapat menjadi ruang pertemuan antara generasi tua dan generasi muda. Seorang dalang senior dapat berbagi pengalaman kepada anak-anak.

Pengrawit yang telah lama memainkan gamelan dapat mengajarkan dasar-dasar karawitan. Orang tua dapat menceritakan bagaimana wayang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Anak-anak muda kemudian dapat membawa cerita itu ke ruang digital yang mereka kuasai. Dengan begitu, generasi tua tidak kehilangan perannya dan generasi muda tidak dipaksa meninggalkan zamannya untuk mencintai budaya.

Pemerintah desa dan pemerintah daerah juga dapat mengambil peran, bukan hanya dengan mengalokasikan dukungan untuk sebuah pertunjukan, tetapi dengan membangun ekosistem kebudayaan. Dukungan kepada sanggar, ruang latihan, pelatihan generasi muda, dokumentasi kesenian, kegiatan seni di sekolah dan kesempatan tampil bagi seniman lokal jauh lebih penting untuk keberlanjutan.

Sebuah pentas mungkin selesai dalam satu malam, tetapi proses regenerasi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Karena itu, ukuran keberhasilan kebijakan kebudayaan tidak semestinya hanya dilihat dari berapa kali pertunjukan digelar, melainkan juga dari berapa banyak anak muda yang kemudian tertarik belajar.

Format budaya pun tidak harus selalu sama dengan masa lalu. Wayang tidak harus selalu hadir dalam pertunjukan semalam suntuk dengan panggung besar. Ada ruang untuk pertunjukan yang lebih ringkas di sekolah, balai desa atau ruang publik. Ada pula ruang untuk mengenalkan tokoh dan cerita wayang melalui video pendek, podcast, animasi dan media sosial.

Anak muda mungkin tidak mempunyai waktu untuk duduk sepanjang malam menyaksikan pertunjukan, tetapi mereka bisa tertarik pada satu tokoh, satu cerita atau satu potongan dialog. Ketertarikan kecil itu dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih jauh. Teknologi tidak harus dipandang sebagai musuh budaya. Justru teknologi dapat menjadi jembatan baru agar budaya lama mempunyai jalan menuju generasi baru.

Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: pelaku budaya harus dihargai. Jangan sampai kita berteriak tentang pelestarian budaya tetapi pada saat yang sama menganggap dalang, pengrawit dan sinden sebagai pelengkap acara yang bisa dibayar seadanya. Mereka bukan sekadar pengisi panggung.

Mereka adalah orang-orang yang membawa pengetahuan dan keterampilan yang tidak bisa diperoleh secara instan. Kalau budaya dianggap sebagai warisan yang berharga, orang yang merawat dan menghidupkannya juga harus mendapatkan penghargaan yang layak. Membayar seniman secara pantas bukan pemborosan. Itu bagian dari biaya menjaga agar profesi tersebut masih mempunyai masa depan.

Maka ukuran keberhasilan pelestarian budaya sebenarnya dapat dilihat setelah panggung dibongkar. Apakah ada anak yang kemudian ingin belajar menjadi dalang? Apakah ada remaja yang tertarik memainkan gamelan? Apakah sanggar mempunyai murid baru? Apakah sekolah memberi ruang bagi kesenian tradisional? Apakah orang tua masih menceritakan kisah-kisah budaya kepada anaknya? Apakah generasi muda mampu membawa budaya tersebut ke ruang digital tanpa kehilangan maknanya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak penonton yang datang pada sebuah pentas.

Mahalnya pentas wayang akhirnya membawa kita kepada persoalan yang lebih besar. Kita memang membutuhkan biaya untuk mempertahankan pertunjukan, tetapi yang sesungguhnya harus kita biayai adalah keberlanjutan pengetahuan di belakang pertunjukan tersebut. Kalau seorang dalang berhenti mengajar karena tidak ada penerus, yang hilang bukan hanya satu pemain wayang. Kalau pengrawit tidak mempunyai murid, yang hilang bukan hanya satu kelompok karawitan. Kalau anak-anak tidak lagi mengenal cerita wayang, yang hilang bukan hanya sebuah tontonan. Yang perlahan hilang adalah hubungan mereka dengan salah satu sumber pengetahuan kebudayaan masyarakatnya.

Kita tidak harus mewariskan budaya dalam bentuk yang persis sama. Bentuk boleh berubah, panggung boleh berubah, teknologi boleh berubah dan cara generasi muda menikmatinya pun boleh berubah. Tetapi kesempatan untuk mengenal budaya harus tetap diwariskan. Sebab tugas sebuah generasi bukan menjadi pemilik terakhir kebudayaan, melainkan menjadi jembatan agar kebudayaan itu sampai kepada generasi berikutnya. Kalau hari ini jembatan itu kita biarkan lapuk karena merasa terlalu mahal untuk merawatnya, jangan heran apabila suatu hari generasi berikutnya tidak lagi tahu ke mana harus menyeberang.