Konten dari Pengguna

Memangkas Jarak Negara dengan Rakyat

Ilustrasi generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generated by AI

Negara sering datang tanpa diundang. Ia muncul dalam bentuk pajak yang harus dibayar, aturan yang wajib dipatuhi, atau sanksi yang menanti jika seseorang melanggar. Namun, pada saat yang sama, tidak sedikit warga yang merasa harus berjuang lebih keras agar negara hadir di tempat yang semestinya. Seorang petani menunggu pupuk yang tak kunjung tiba, pelaku usaha kecil mondar-mandir mengurus izin, keluarga miskin kebingungan mencari layanan kesehatan, sementara di ruang-ruang berpendingin udara, rapat demi rapat terus berbicara tentang keberhasilan pembangunan. Barangkali persoalannya bukan karena negara tidak bekerja. Persoalannya, negara dan rakyat terlalu sering hidup dalam pengalaman yang berbeda.

Saya selalu merasa ada cara yang keliru dalam mengukur keberhasilan pemerintahan. Kita gemar menghitung panjang jalan yang dibangun, nilai investasi yang masuk, atau besarnya pertumbuhan ekonomi. Semua itu penting, tetapi tidak otomatis menjawab pertanyaan paling sederhana yang dimiliki rakyat: apakah hidup mereka menjadi lebih mudah? Sebab bagi masyarakat, negara tidak hadir dalam bentuk angka. Negara hadir dalam pengalaman. Pengalaman mengurus akta kelahiran tanpa dipersulit. Pengalaman memperoleh pupuk sebelum musim tanam berakhir. Pengalaman masuk rumah sakit tanpa dihantui kecemasan soal biaya. Pengalaman disambut sebagai warga negara, bukan sebagai orang yang sedang meminta belas kasihan.

Di sinilah saya sering melihat paradoks pembangunan. Negara bisa tampak semakin besar, tetapi terasa semakin jauh. Gedung pelayanan diperbarui, aplikasi digital diluncurkan, slogan pelayanan dipasang di hampir setiap kantor, tetapi rasa yang dibawa pulang warga belum tentu ikut berubah. Mereka masih mengenal istilah "orang dalam", masih percaya bahwa kedekatan lebih ampuh daripada prosedur, dan masih menganggap urusan akan lebih cepat selesai jika ada yang memperkenalkan. Selama keyakinan itu hidup, sesungguhnya yang bermasalah bukan hanya birokrasinya. Ada hubungan yang retak antara negara dan rakyatnya.

Karena itu, jika saya diberi kesempatan memimpin Indonesia, saya tidak tergesa-gesa mencari proyek yang paling megah untuk dikenang. Saya justru ingin memastikan rakyat berhenti menganggap negara sebagai tempat yang melelahkan. Keberhasilan seorang presiden bukan pertama-tama diukur dari berapa banyak bangunan yang diresmikan, melainkan dari berapa banyak hambatan yang berhasil disingkirkan dari kehidupan sehari-hari warganya. Negara yang baik bukan negara yang paling sering berbicara, melainkan negara yang paling sedikit menyulitkan rakyatnya.

Saya percaya sejarah tidak pernah benar-benar mengingat pemimpin karena pidatonya. Sejarah mengingat mereka yang mengubah cara negara memperlakukan rakyat. Jalan raya akan retak, gedung akan menua, bahkan angka-angka pertumbuhan ekonomi suatu hari hanya menjadi arsip. Akan tetapi, kepercayaan yang lahir karena rakyat merasa diperlakukan dengan adil akan bertahan jauh lebih lama daripada masa jabatan siapa pun. Mungkin itulah warisan yang paling sulit dibangun sekaligus paling berharga. Bukan negara yang semakin besar, melainkan negara yang semakin dekat.