Memberi Manfaat Itu Ukurannya Bukan Penilaian Manusia
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika musim kemarau datang dan sebagian warga mulai kesulitan mendapatkan air, ukuran sebuah pertolongan sebenarnya sederhana: apakah air itu sampai kepada orang yang membutuhkan atau tidak? Warga yang membutuhkan air tidak terlalu mempersoalkan siapa yang pertama kali mempunyai gagasan, siapa yang mengusulkan, atau siapa yang mendapatkan pujian. Mereka membutuhkan air untuk memasak, mencuci, mandi, dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Begitu pula ketika jalan desa rusak dan menghambat petani membawa hasil panen, yang dibutuhkan warga bukan perdebatan tentang siapa yang paling berjasa, melainkan jalan yang bisa dilewati. Dari kehidupan sederhana seperti itu kita bisa belajar bahwa manfaat dan penilaian manusia adalah dua hal yang berbeda. Manfaat dapat dirasakan secara nyata, sementara penilaian manusia bisa berubah tergantung siapa yang melihat, dari posisi mana ia melihat, dan apakah ia berada di pihak yang sama atau tidak.
Manusia memang tidak pernah sepenuhnya memiliki penilaian yang seragam. Orang yang mendukung kita bisa melihat sebuah tindakan sebagai bentuk kepedulian dan pengabdian. Orang yang tidak sejalan mungkin melihatnya dengan sudut pandang berbeda. Yang satu mengatakan sebuah program bermanfaat, sementara yang lain mempertanyakan pemerataan atau cara pelaksanaannya. Bahkan tindakan yang sama bisa mendapatkan dua penilaian yang bertolak belakang hanya karena dilakukan oleh orang yang berbeda. Di sinilah kita sering terjebak: lebih sibuk memikirkan siapa yang melakukan daripada melihat apa yang dihasilkan. Padahal, kalau sebuah tindakan benar-benar memberikan manfaat, manfaat tersebut tidak serta-merta hilang hanya karena ada orang yang tidak menyukai pelakunya. Sebaliknya, kalau sebuah tindakan memiliki kekurangan, kekurangan itu juga tidak berubah menjadi kebaikan hanya karena dilakukan oleh orang yang kita dukung.
Contoh paling dekat bisa dilihat dari kehidupan masyarakat di desa. Ketika sumber air mulai berkurang pada musim kemarau, warga yang kesulitan air akan melihat persoalan tersebut secara berbeda dengan orang yang kebutuhan airnya masih tercukupi. Bagi keluarga yang harus mencari air dari tempat lain, mendapatkan bantuan air bersih bukan perkara kecil. Air bisa berarti kesempatan untuk tetap memasak, mencuci, mandi, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga tanpa harus mengeluarkan biaya atau tenaga lebih besar. Bagi orang yang tidak mengalami kesulitan tersebut, bantuan air mungkin terlihat sederhana. Tetapi ukuran manfaat seharusnya tidak hanya dilihat dari mata orang yang tidak membutuhkan. Justru orang yang menerima manfaat langsung memiliki pengalaman yang paling nyata mengenai arti sebuah pertolongan.
Begitu juga dengan jalan desa. Sebuah ruas jalan yang diperbaiki mungkin tidak dianggap istimewa oleh warga yang hanya sesekali melewatinya. Namun bagi petani yang setiap hari membawa hasil panen, bagi pedagang yang mengangkut barang, bagi anak-anak yang berangkat sekolah, dan bagi warga yang harus bepergian untuk bekerja, kondisi jalan dapat menentukan kelancaran aktivitas mereka. Jalan yang baik berarti waktu tempuh lebih mudah, kendaraan tidak terlalu cepat rusak, hasil pertanian lebih mudah dibawa ke pasar, dan aktivitas ekonomi masyarakat menjadi lebih lancar. Namun pembangunan jalan tetap boleh dikritik. Warga di wilayah lain mungkin bertanya mengapa jalan di tempat mereka belum diperbaiki. Pertanyaan itu bukan sesuatu yang harus dimusuhi. Justru dari sana muncul kebutuhan untuk melihat pembangunan secara lebih luas: bukan hanya apakah sebuah pekerjaan memberikan manfaat, tetapi juga apakah manfaat tersebut sudah cukup merata.
Begitu pula dengan irigasi. Bagi masyarakat yang tidak memiliki sawah, saluran irigasi mungkin hanya terlihat sebagai parit atau bangunan beton biasa. Namun bagi petani, air yang mengalir dengan baik dapat menentukan keberlangsungan tanaman dan hasil panen. Di balik air yang mengalir ada biaya produksi, tenaga, kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, dan keberlangsungan ekonomi rumah tangga. Sesuatu yang terlihat kecil dari luar ternyata dapat memiliki arti besar bagi orang yang bergantung padanya. Hal yang sama dapat dilihat pada UMKM. Sebuah usaha rumahan yang hanya menghasilkan keuntungan puluhan ribu rupiah sehari mungkin terlihat tidak besar bagi orang lain. Tetapi bagi keluarga yang menjalankannya, pendapatan tersebut bisa membantu membeli kebutuhan dapur, membayar listrik, membeli perlengkapan sekolah anak, atau sekadar menjaga agar dapur tetap mengepul. Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap kecil sebuah manfaat hanya karena kita tidak merasakan langsung manfaat tersebut.
Persoalan menjadi lebih menarik ketika penilaian sudah dipengaruhi keberpihakan. Dalam kehidupan sosial, orang yang dekat dengan kita biasanya lebih mudah memahami alasan di balik tindakan kita. Sebaliknya, orang yang tidak sejalan mungkin lebih cepat melihat kekurangannya. Hal semacam itu tidak hanya terjadi dalam politik, tetapi juga dalam organisasi, komunitas, lingkungan kerja, bahkan kehidupan bertetangga. Orang yang mendukung seorang pemimpin bisa melihat kebijakannya sebagai bentuk kepedulian, sedangkan orang yang merasa tidak dilibatkan mungkin melihatnya sebagai sesuatu yang belum adil. Kedua pandangan tersebut bisa muncul pada saat yang sama. Karena itu, kita perlu belajar memisahkan antara menilai orang dan menilai tindakannya. Kita boleh tidak menyukai seseorang, tetapi bukan berarti semua yang dilakukannya pasti buruk. Kita boleh mendukung seseorang, tetapi bukan berarti semua tindakannya otomatis benar.
Sikap seperti itu penting agar kita tidak terjebak dalam pembenaran. Kalau orang yang kita sukai melakukan sesuatu yang baik, akui bahwa itu baik. Kalau masih ada kekurangannya, katakan kekurangannya. Kalau orang yang tidak kita sukai melakukan sesuatu yang bermanfaat, jangan kehilangan kejujuran hanya karena kita tidak menyukai pelakunya. Manfaat tetaplah manfaat. Sebaliknya, kalau orang yang kita dukung melakukan kesalahan, dukungan tidak seharusnya membuat kita kehilangan keberanian untuk mengingatkan. Masyarakat akan sulit berkembang jika ukuran kebenaran selalu berubah berdasarkan siapa yang melakukan. Kita membutuhkan ukuran yang relatif sama: apa yang dikerjakan, bagaimana prosesnya, siapa yang menerima manfaat, dan apakah manfaat tersebut benar-benar dirasakan.
Karena itu, kritik sebenarnya tidak harus ditempatkan sebagai lawan dari kebaikan. Kritik yang berbasis kenyataan justru dapat membuat sebuah kebaikan menjadi lebih baik. Sebuah pembangunan boleh diapresiasi karena bermanfaat, tetapi tetap perlu dievaluasi jika kualitasnya kurang baik. Sebuah bantuan boleh dihargai karena meringankan beban warga, tetapi tetap perlu dilihat apakah penerimanya sudah tepat dan apakah distribusinya sudah merata. Mengakui manfaat dan mengakui kekurangan bukan dua hal yang bertentangan. Justru kemampuan melihat keduanya secara bersamaan menunjukkan bahwa kita tidak sedang menjadi pengikut yang hanya membenarkan, tetapi sedang berusaha menjadi masyarakat yang mampu menilai secara jernih.
Pada akhirnya, kita tidak mungkin membuat semua orang menyukai apa yang kita lakukan. Hari ini seseorang bisa memuji, besok mungkin mengkritik. Hari ini seseorang berada di pihak kita, beberapa waktu kemudian mungkin mengambil posisi berbeda. Begitu pula orang yang hari ini menolak belum tentu selamanya menolak. Manusia berubah, keadaan berubah, dan cara seseorang melihat persoalan juga bisa berubah. Kalau kita berbuat baik hanya karena ingin mendapatkan pujian, kita akan mudah kecewa ketika pujian itu berhenti. Tetapi kalau tujuan kita adalah memberikan manfaat, kritik dapat ditempatkan sebagai bahan evaluasi, bukan sebagai alasan untuk berhenti. Pujian diterima sebagai penghargaan, tetapi tidak dijadikan tujuan. Kritik didengar sebagai masukan, tetapi tidak semuanya harus dianggap sebagai kebenaran.
Sebab kita tidak bisa mengendalikan bagaimana manusia menilai kita. Yang bisa kita kendalikan adalah apa yang kita kerjakan dan niat yang menyertainya.
Memberi manfaat tidak harus menunggu semua orang menyukai kita. Berbuat baik tidak membutuhkan persetujuan seluruh manusia. Bagi warga yang kekurangan air, air adalah manfaat. Bagi petani, jalan yang bisa dilewati dan irigasi yang berfungsi adalah manfaat. Bagi pelaku UMKM, pasar yang terbuka adalah manfaat. Bagi anak sekolah, pendidikan yang mudah diakses adalah manfaat. Bagi keluarga yang sedang menghadapi kesulitan, bantuan yang benar-benar sampai adalah manfaat. Semua itu tidak kehilangan nilainya hanya karena ada orang yang memberikan penilaian berbeda.
Maka, ukuran manfaat bukanlah berapa banyak orang yang memuji kita. Bukan pula berapa banyak orang yang berada di pihak kita. Ukuran yang lebih penting adalah apakah sesuatu yang kita lakukan benar-benar membawa kebaikan bagi kehidupan orang lain. Manusia akan menilai dari sudut pandangnya masing-masing. Ada yang melihat dengan rasa suka, ada yang melihat dengan rasa tidak suka. Ada yang melihat dari dekat, ada yang melihat dari kejauhan. Namun, ketika manfaat benar-benar dirasakan oleh masyarakat, penilaian manusia bukan lagi satu-satunya ukuran.
Barangkali suatu hari nama kita dilupakan. Barangkali jasa kita tidak lagi disebut. Barangkali orang tidak lagi ingat siapa yang pertama kali membantu, siapa yang mengusulkan, atau siapa yang bekerja paling banyak. Tidak apa-apa. Sebab nilai sebuah pengabdian tidak selalu terletak pada seberapa lama nama kita disebut, tetapi pada seberapa lama manfaatnya dirasakan. Kebaikan yang benar-benar memberi manfaat tidak membutuhkan semua orang untuk mengakuinya. Cukup biarkan manfaat itu hidup dalam kehidupan orang lain.

