Konten dari Pengguna

Mengapa S&P Masih Percaya Saat yang Lain Mulai Ragu?

Ilustrasi generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generated by AI

Keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook stabil datang pada saat yang menarik. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal nasional, lembaga pemeringkat asal Amerika Serikat itu justru memilih mempertahankan kepercayaannya kepada Indonesia.

Sebelumnya, Moody's dan Fitch telah menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif. Perbedaan penilaian itu memunculkan pertanyaan yang layak diajukan: apa yang dilihat S&P sehingga masih optimistis ketika lembaga lain mulai lebih berhati-hati?

Yang dipertaruhkan bukan sekadar kemampuan membayar utang, melainkan kemampuan menjaga kepercayaan.

Dalam dunia keuangan global, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya sering kali lebih penting daripada angka-angka statistik. Investor membeli obligasi negara bukan hanya karena melihat kondisi hari ini, tetapi karena percaya pemerintah mampu mengelola risiko di masa depan.

Di sinilah letak pentingnya keputusan S&P. Lembaga tersebut menilai tekanan fiskal Indonesia saat ini masih bersifat sementara. Pelemahan penerimaan negara, perlambatan ekonomi global, dan fluktuasi harga komoditas belum dianggap sebagai ancaman struktural terhadap kemampuan pemerintah mengelola keuangan negara.

Penilaian itu tidak muncul tanpa alasan. Dibanding banyak negara berkembang lainnya, posisi Indonesia masih relatif kuat. Rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di kisaran 40 persen, jauh lebih rendah dibanding sejumlah negara maju maupun berkembang yang telah melampaui 60 hingga 100 persen PDB. Di sisi lain, pemerintah juga berhasil mengembalikan defisit APBN ke bawah batas 3 persen setelah masa pandemi.

Data tersebut menunjukkan bahwa fondasi fiskal Indonesia masih memiliki daya tahan. Karena itu, S&P tampaknya melihat tantangan yang dihadapi Indonesia sebagai persoalan siklus ekonomi, bukan masalah fundamental.

Namun mempertahankan peringkat BBB bukan berarti Indonesia telah berada di zona nyaman. Justru sebaliknya. BBB adalah lapisan terbawah dalam kategori investment grade. Satu tingkat di bawahnya adalah BB, yang masuk kategori spekulatif atau non-investment grade. Perbedaan satu tingkat itu sangat menentukan bagaimana investor global memandang risiko Indonesia.

Ketika sebuah negara kehilangan status investment grade, biaya pinjaman biasanya meningkat, arus investasi menjadi lebih selektif, dan tekanan terhadap nilai tukar dapat membesar. Karena itu, menjaga peringkat kredit bukan sekadar urusan teknokrasi di meja para ekonom, melainkan berkaitan langsung dengan biaya pembangunan yang harus ditanggung masyarakat.

Tantangan Indonesia ke depan juga tidak ringan. Kebutuhan pembiayaan pembangunan terus meningkat. Infrastruktur harus dilanjutkan, kualitas pendidikan perlu diperbaiki, ketahanan pangan harus diperkuat, dan berbagai program sosial membutuhkan dukungan anggaran yang besar.

Pada saat yang sama, penerimaan negara tidak selalu bergerak sejalan dengan kebutuhan belanja. Ketergantungan pada komoditas membuat pendapatan negara rentan terhadap perubahan harga global. Ketika harga komoditas melemah, ruang fiskal ikut menyempit.

Ekonom pemenang Nobel Paul Krugman pernah mengatakan, "Productivity isn't everything, but in the long run it is almost everything." Pesan tersebut menjadi relevan bagi Indonesia. Pada akhirnya, kekuatan fiskal tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berutang, tetapi oleh kemampuan ekonomi menciptakan produktivitas, investasi, dan nilai tambah yang berkelanjutan.

Karena itu, keputusan S&P seharusnya dibaca sebagai kesempatan, bukan perayaan. Dunia masih memberikan kepercayaan kepada Indonesia, tetapi kepercayaan itu memiliki syarat: disiplin fiskal harus dijaga, reformasi ekonomi harus dilanjutkan, dan setiap rupiah uang rakyat harus dikelola secara efektif.

Sejarah menunjukkan bahwa krisis ekonomi sering kali dimulai bukan karena sebuah negara kehabisan uang, melainkan karena pasar kehilangan keyakinan terhadap kemampuan pemerintah mengelola keadaan. Ketika kepercayaan hilang, biaya yang harus dibayar menjadi jauh lebih mahal.

S&P telah memberikan sinyal bahwa Indonesia masih berada di jalur yang benar. Namun sinyal itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kepercayaan bukanlah hak yang dimiliki selamanya. Ia harus terus dipelihara melalui kebijakan yang konsisten dan tata kelola yang kredibel.

Pada akhirnya, yang sedang diuji bukan sekadar angka defisit, rasio utang, atau pertumbuhan ekonomi. Yang sedang diuji adalah kemampuan Indonesia membuktikan bahwa optimisme dunia terhadap masa depannya memang layak dipertahankan.