Nadiem dan Mitos “Menciptakan” Lapangan Kerja

Pendidikan pernah kuliah Pengamat & pemerhati kebijakan Publik. Tulisan menjadi warisan yg abadi dibandingkan dg harta benda, memungkinkan generasi mendatang (cucu/cicit) untk mengenal pemikiran penulisnya "Menulis adalah bekerja untuk keabadian"
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang memuji Nadiem Makarim sebagai sosok yang menciptakan jutaan lapangan kerja lewat ojek online. Narasi itu diulang di seminar, panggung startup, bahkan diskusi ekonomi digital nasional.
Namun di banyak pangkalan ojek, cerita itu terdengar berbeda.
Sebab bagi para pengemudi lama, ojek bukanlah penemuan baru. Sebelum aplikasi hadir, profesi itu sudah hidup puluhan tahun di terminal, pasar, gang sempit, dan perempatan kota. Tukang ojek sudah menghidupi keluarga jauh sebelum istilah “startup unicorn” menjadi kebanggaan nasional.
Maka, pertanyaannya sederhananya: Apakah aplikasi benar-benar menciptakan pekerjaan baru, atau hanya mengambil alih pekerjaan lama lalu menguasai transaksinya?
Perdebatan ini penting karena publik sering terjebak pada glorifikasi teknologi tanpa melihat struktur ekonomi di baliknya.
Startup transportasi digital memang berhasil mengubah cara masyarakat memesan kendaraan. Semuanya menjadi cepat, praktis, dan terukur. Namun di saat yang sama, sistem itu juga mengubah hubungan kerja secara drastis.
Pengemudi yang dulu bebas menentukan wilayah dan tarif kini tunduk pada algoritma aplikasi. Pendapatan mereka bergantung pada sistem yang terus berubah: bonus berubah, potongan berubah, prioritas order berubah.
Banyak driver online akhirnya bekerja lebih lama hanya untuk menjaga pendapatan tetap stabil.
“Ojek sudah ada sebelum aplikasi lahir. Yang berubah hanyalah siapa yang mengambil keuntungan paling besar.”
Kalimat itu terdengar keras, tetapi itulah keresahan yang tumbuh di lapangan.
Pada masa awal ekspansi startup transportasi, banyak pengemudi memang menikmati bonus besar. Perusahaan membakar modal untuk merebut pasar. Driver mendapat insentif tinggi. Publik melihatnya sebagai revolusi ekonomi rakyat.
Namun setelah pasar dikuasai platform, pola permainan berubah.
Bonus perlahan dipangkas. Persaingan makin padat. Order tidak selalu stabil. Sementara biaya operasional—bensin, servis motor, cicilan kendaraan—terus naik.
Banyak pengemudi akhirnya berada dalam situasi paradoks: terlihat bekerja fleksibel, tetapi sebenarnya sangat tergantung pada aplikasi.
Mereka bukan pegawai tetap, tetapi juga tidak sepenuhnya merdeka.
Ekonom Inggris, Guy Standing, menyebut kelompok seperti ini sebagai precariat—kelas pekerja modern yang hidup tanpa kepastian ekonomi meski terus bekerja setiap hari.
Sementara akademisi Shoshana Zuboff menjelaskan bagaimana perusahaan digital modern membangun kekuatan besar dengan menguasai data, perilaku pengguna, dan aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.
Dalam model ini, teknologi bukan sekadar alat bantu. Teknologi menjadi pusat kendali ekonomi.
Di sinilah narasi “menciptakan lapangan kerja” mulai perlu diuji secara lebih jujur.
Karena bila pekerjaan itu sudah ada sejak lama, yang sebenarnya terjadi mungkin bukan penciptaan kerja baru, melainkan digitalisasi sektor informal yang sebelumnya dikelola langsung oleh masyarakat kecil.
Startup lalu masuk sebagai penghubung transaksi—dan mengambil persentase dari setiap aktivitas ekonomi yang sebelumnya berlangsung tanpa platform.
Tentu ojek online memberi manfaat nyata. Mobilitas menjadi mudah. Banyak orang terbantu mendapat penghasilan cepat. Konsumen menikmati efisiensi.
Namun, manfaat teknologi tidak otomatis menghapus pertanyaan tentang distribusi keuntungan.
Siapa yang paling diuntungkan ketika jutaan orang bekerja lebih lama demi mengejar algoritma?
Siapa yang paling kuat menentukan tarif, bonus, dan arah pasar?
Dan mengapa ketika valuasi perusahaan melambung tinggi, banyak pengemudi justru merasa penghasilannya makin sulit diprediksi?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting agar masyarakat tidak terlalu cepat memuja istilah “inovasi” tanpa melihat siapa yang sesungguhnya memegang kendali ekonomi.
Sebab pada akhirnya, teknologi memang bisa mempermudah hidup manusia.
Namun, teknologi juga bisa menjadi cara paling modern untuk mengambil alih pasar rakyat kecil—lalu menyebutnya sebagai revolusi.
