Konten dari Pengguna

Saat Negara Mengajak Ayah Pulang ke Keluarga

Ilustrasi  generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generated by AI

Pagi itu, di berbagai sudut Indonesia, pemandangan yang sama kembali terlihat. Anak-anak dengan seragam baru berjalan menuju sekolah, sebagian dengan wajah penuh percaya diri, sebagian lain masih menyimpan kegugupan. Di samping mereka berdiri sosok yang selama ini sering dianggap terlalu sibuk untuk urusan sekolah: ayah.

Bagi banyak orang, momen ayah mengantar anak pada hari pertama sekolah mungkin tampak biasa. Namun ketika negara sampai membuat gerakan khusus untuk mendorongnya, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: mengapa kehadiran ayah perlu diingatkan oleh negara?

Pertanyaan tersebut membawa kita pada persoalan yang lebih dalam daripada sekadar hari pertama sekolah. Ia menyentuh perubahan struktur keluarga modern, cara kita memandang pengasuhan, dan kualitas hubungan antara orang tua dengan anak di tengah kehidupan yang semakin cepat.

Pada 2016, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Anies Baswedan, mengeluarkan kebijakan Hari Pertama Sekolah yang mendorong orang tua mengantar anak ke sekolah. Gagasannya sederhana: pendidikan tidak dimulai dari ruang kelas, melainkan dari keterlibatan keluarga.

Hampir satu dekade kemudian, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, mengembangkan semangat tersebut melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah sebagai bagian dari Gerakan Ayah Teladan Indonesia. Fokusnya lebih spesifik, yaitu memperkuat kembali peran ayah dalam pengasuhan.

Perjalanan dua kebijakan ini menunjukkan satu hal penting. Dalam kehidupan berbangsa, ide baik seharusnya tidak berhenti karena pergantian jabatan atau perubahan pemerintahan. Ia dapat tumbuh, diperbaiki, dan dilanjutkan selama manfaatnya masih relevan bagi masyarakat.

Namun substansi persoalannya bukan terletak pada siapa yang memulai atau siapa yang melanjutkan.

Persoalannya adalah mengapa Indonesia membutuhkan gerakan semacam ini.

Jawabannya mungkin tidak nyaman.

Selama bertahun-tahun, banyak keluarga masih memaknai tugas ayah terutama sebagai pencari nafkah. Ukuran keberhasilan seorang ayah sering kali ditentukan oleh kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Sementara urusan pendidikan, emosi, dan pendampingan anak lebih banyak dibebankan kepada ibu.

Akibatnya, lahirlah fenomena yang semakin sering ditemukan di berbagai negara: ayah hadir dalam struktur keluarga, tetapi tidak selalu hadir dalam kehidupan anak.

Mereka bekerja untuk masa depan anak, tetapi sering kehilangan kesempatan menikmati proses tumbuh kembang anak itu sendiri.

Mereka menyediakan kebutuhan, tetapi tidak selalu menyediakan waktu.

Mereka hadir di rumah, tetapi belum tentu hadir dalam percakapan.

Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, kesehatan mental, kemampuan sosial, hingga prestasi akademik anak. Kehadiran ayah bukan aksesori dalam keluarga. Ia merupakan salah satu fondasi penting pembentukan karakter.

Filsuf politik Hannah Arendt pernah menulis:

“Education is the point at which we decide whether we love the world enough to assume responsibility for it.”

Pendidikan adalah titik ketika kita memutuskan apakah kita cukup mencintai dunia sehingga bersedia memikul tanggung jawab terhadapnya.

Kutipan tersebut terasa relevan dengan kondisi hari ini. Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya soal kurikulum, nilai rapor, atau gedung sekolah. Pendidikan adalah keputusan orang dewasa untuk hadir bagi generasi berikutnya.

Ketika seorang ayah meluangkan waktu mengantar anak ke sekolah, yang sesungguhnya sedang dibangun bukan sekadar kenangan masa kecil. Yang sedang dibangun adalah pesan bahwa anak memiliki tempat untuk pulang, memiliki seseorang yang mendengar, dan memiliki pendamping dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Di era digital, tantangan pengasuhan menjadi jauh lebih berat dibandingkan satu atau dua dekade lalu. Anak-anak menghadapi arus informasi tanpa batas, tekanan media sosial, kecanduan gawai, hingga krisis kesehatan mental yang semakin nyata. Dalam situasi seperti itu, uang, fasilitas, dan teknologi tidak selalu menjadi jawaban.

Yang sering kali dibutuhkan anak justru sesuatu yang paling sederhana sekaligus paling langka: perhatian.

Karena itu, keberhasilan gerakan ayah mengantar anak tidak boleh diukur dari jumlah foto yang beredar di media sosial pada hari pertama sekolah. Ukurannya adalah apakah setelah hari itu para ayah tetap hadir dalam keseharian anak-anak mereka.

Apakah mereka mendengarkan cerita sepulang sekolah.

Apakah mereka mengetahui cita-cita anaknya.

Apakah mereka memahami ketakutan, kegagalan, dan kegelisahan yang sedang dihadapi anak-anak mereka.

Sebab anak tidak hanya membutuhkan ayah pada hari pertama sekolah.

Mereka membutuhkan ayah pada hari-hari biasa yang sering luput dari perhatian.

Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kualitas kebijakan publik atau besarnya anggaran pendidikan. Masa depan bangsa juga ditentukan oleh kualitas hubungan yang terbangun di dalam rumah.

Sekolah dapat mengajarkan ilmu pengetahuan.

Negara dapat menyediakan kebijakan.

Tetapi keluarga tetap menjadi tempat pertama seorang anak belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, dan makna kehidupan.

Mungkin itulah pesan paling penting dari gerakan ini. Bukan semata mengantar anak ke sekolah, melainkan mengingatkan bahwa di tengah dunia yang semakin sibuk, kehadiran seorang ayah masih menjadi salah satu investasi sosial paling berharga bagi masa depan Indonesia.