Saat Pertemanan Berubah Menjadi Transaksi
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada orang yang tiba-tiba menjadi sangat ramah ketika kita sedang berada di posisi yang dianggap menguntungkan. Pesannya sering masuk, sapanya hangat, bahkan kadang memuji seolah-olah kita adalah teman lama yang tidak boleh kehilangan kontak. Tetapi coba lihat ketika kita sudah tidak punya akses, tidak punya jabatan, tidak punya uang lebih, atau sekadar tidak lagi bisa membantu urusannya. Perlahan ia menghilang. Dari situ kita baru sadar, mungkin selama ini ia bukan sedang menjaga pertemanan, tetapi sedang menjaga kepentingannya.
Hal seperti ini sebenarnya sering terjadi di sekitar kita. Seseorang datang meminjam uang karena sedang membutuhkan. Ada yang meminta dikenalkan kepada orang yang dianggap punya pengaruh. Ada pula yang mendadak rajin berkomunikasi karena membutuhkan bantuan mengurus sesuatu. Selama masih ada yang bisa diberikan, hubungan terasa dekat. Namun setelah kepentingannya selesai, pesan yang dulu cepat dibalas mulai dibiarkan. Telepon yang biasanya diangkat, tiba-tiba sulit tersambung.
Yang menyakitkan bukan karena kita pernah membantu. Menolong orang lain bukan sebuah kesalahan. Bahkan kalau bantuan itu diberikan dengan ikhlas, tidak perlu dihitung sebagai utang. Yang membuat kecewa adalah ketika kita akhirnya memahami bahwa hubungan tersebut ternyata hanya berjalan ketika kita berada di posisi yang memberi. Begitu kita membutuhkan sesuatu, orang yang sama justru tidak terlihat.
Aristoteles, dalam Nicomachean Ethics, membahas persahabatan yang antara lain didasarkan pada manfaat, kesenangan, dan kebaikan. Persahabatan karena manfaat dapat tumbuh karena seseorang memperoleh sesuatu dari orang lain. Masalahnya, hubungan seperti itu mudah berubah ketika manfaat tersebut berhenti. Gagasan Aristoteles ini terasa sederhana, tetapi masih sangat relevan untuk membaca banyak hubungan manusia hari ini.
Kita bisa melihatnya tanpa perlu membuat sebuah ujian untuk orang lain. Cukup berhenti sejenak menjadi orang yang selalu siap membantu. Tidak perlu selalu membuka jalan bagi urusan orang lain. Dari sana sering terlihat siapa yang tetap datang sekadar bertanya, “Apa kabar?” dan siapa yang hanya muncul dengan kalimat, “Bisa bantu saya?”
Di situlah perbedaan antara orang yang membutuhkan bantuan dan orang yang hanya membutuhkan kita menjadi jelas. Orang yang membutuhkan bantuan tetap menghargai hubungan. Ia tidak menganggap bantuan sebagai hak. Ketika kita tidak mampu membantu, ia bisa memahami. Sebaliknya, orang yang hanya mengejar keuntungan akan merasa hubungan menjadi tidak menarik ketika kita tidak lagi memberikan sesuatu.
Kadang kita terlalu takut kehilangan teman sehingga terus berkata iya. Takut dianggap pelit. Takut dibilang berubah. Takut hubungan menjadi renggang. Akhirnya kita mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kepentingan sendiri hanya untuk mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat. Padahal mengatakan “tidak” pada sebuah permintaan tidak otomatis membuat kita menjadi orang jahat.
Justru ada saatnya kita harus belajar membatasi kebaikan. Bukan berhenti menjadi orang baik, melainkan berhenti menjadi orang yang mudah dimanfaatkan. Kita tetap bisa membantu ketika memang mampu, tetapi tidak perlu memaksakan diri hanya demi mempertahankan seseorang agar tetap dekat.
Sebab teman yang tulus tidak hanya hadir ketika kita sedang berada di atas. Ia juga tidak pergi ketika kita sedang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Mungkin ia tidak bisa membantu menyelesaikan masalah kita. Mungkin ia hanya bisa mendengarkan. Namun kehadirannya tetap berarti karena ia datang bukan membawa kalkulator untuk menghitung keuntungan.
Sebaliknya, jangan terlalu kecewa ketika seseorang menjauh setelah tidak lagi menemukan manfaat dari kita. Anggap saja waktu sedang membantu membuka wajah sebenarnya dari sebuah hubungan. Tidak semua orang yang pergi harus dikejar. Tidak semua kedekatan harus dipertahankan. Ada hubungan yang memang lebih sehat jika diberi jarak.
Pada akhirnya, kita tidak perlu menjadi orang yang curiga kepada semua teman. Dunia akan menjadi terlalu melelahkan jika setiap kebaikan selalu dicurigai sebagai kepentingan. Kita hanya perlu belajar membaca pola. Siapa yang hadir ketika kita punya sesuatu, dan siapa yang tetap hadir ketika kita tidak punya apa-apa.
Sebab teman sejati tidak datang karena kita berguna. Ia membuat kita merasa berharga bahkan ketika kita sedang tidak bisa memberikan apa-apa.
Dan mungkin, itulah ujian paling sederhana dalam sebuah pertemanan. Bukan saat kita punya uang, jabatan, akses, atau pengaruh. Tetapi saat semua itu tidak ada. Siapa yang masih duduk di samping kita ketika tidak ada keuntungan yang bisa ia bawa pulang, dialah yang layak disebut teman.

