Sebelum Merah Putih Berkibar
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu seorang lelaki setengah baya berdiri di depan rumahnya sambil memegang sebatang bambu. Di sampingnya ada bendera Merah Putih yang baru saja dikeluarkan dari lemari. Anaknya membantu mengikat tali, sementara tetangga yang melintas hanya melempar senyum dan berkata, "Sudah mulai pasang, Pak?" Percakapan itu singkat, nyaris tak berarti. Namun, dari obrolan-obrolan sederhana seperti itulah Agustus selalu menemukan jalannya.
Beberapa hari menjelang Hari Kemerdekaan, pemandangan serupa mudah ditemui di mana-mana. Jalan kampung mendadak lebih berwarna, gapura kembali dicat, rumput liar dibersihkan, dan orang-orang yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing tiba-tiba punya alasan untuk bekerja bersama. Rasanya selalu menyenangkan melihat sebuah kampung perlahan berubah hanya karena selembar kain merah dan putih mulai berdiri di depan rumah-rumah warganya.
Namun, setiap kali melihat bendera mulai berkibar, ada pertanyaan yang terus muncul. Mengapa rasa memiliki terhadap negeri ini sering begitu kuat pada bulan Agustus, tetapi perlahan memudar setelah perayaan selesai? Seakan-akan nasionalisme memiliki jadwal tahunan, padahal kehidupan sebagai warga negara berlangsung setiap hari tanpa mengenal kalender.
Merah Putih tidak pernah meminta kita mengingatnya sebulan dalam setahun. Yang diminta jauh lebih sederhana: jangan melupakan Indonesia dalam sebelas bulan berikutnya.
Barangkali itulah tantangan terbesar kita hari ini. Bukan lagi mempertahankan kemerdekaan dari penjajah, melainkan mempertahankan kepedulian di tengah kebiasaan yang perlahan membuat kita mudah bersikap masa bodoh. Padahal negeri ini tidak hanya ditopang oleh keputusan-keputusan besar di ibu kota. Ia berdiri karena ada guru yang tetap datang ke kelas, petani yang terus menanam, pedagang yang membuka warung sejak pagi, warga yang mau bergotong royong membersihkan selokan, serta orang-orang biasa yang memilih jujur meski tidak ada yang melihat.
Semua itu mungkin terdengar sederhana. Justru karena kesederhanaannya, kita sering lupa bahwa di sanalah makna kemerdekaan bekerja. Republik ini tidak hanya membutuhkan warga yang pandai mengibarkan bendera, tetapi juga warga yang rela menjaga apa yang diwakili oleh bendera itu. Kejujuran, kepedulian, saling menghormati, dan kesediaan berbagi beban adalah warna-warna yang tidak terlihat pada kain Merah Putih, tetapi menjadi alasan mengapa ia layak terus berkibar.
Agustus akan selalu datang membawa kemeriahan. Lomba akan digelar, panggung hiburan akan dipenuhi tawa, dan lagu-lagu perjuangan kembali terdengar di berbagai sudut kampung. Semua itu patut dirayakan. Hanya saja, akan terasa lebih indah bila semangat yang lahir selama bulan kemerdekaan tidak ikut selesai saat umbul-umbul diturunkan.
Sebab yang membuat sebuah bangsa bertahan bukanlah banyaknya bendera yang berdiri di sepanjang jalan. Sebuah bangsa bertahan karena masih ada orang-orang yang, tanpa sorotan dan tanpa tepuk tangan, memilih mencintai negerinya melalui pekerjaan kecil yang dilakukan setiap hari.

