Konten dari Pengguna

Sepasang Sandal Kecil di Depan Pintu

Ilustrasi  Generated By AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Generated By AI

Ada benda-benda yang mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain, tetapi menyimpan begitu banyak kenangan bagi seorang kakek. Di rumah ini, benda itu adalah sepasang sandal kecil milik Giana, cucu perempuannya yang baru berusia dua tahun. Sandal itu sudah mulai kusam, salah satu talinya pernah lepas, bahkan salah satunya pernah menjadi mainan kucing. Namun, setiap kali Kakek melihat sandal itu tergeletak di depan pintu, ia tahu Giana sedang ada di rumah.

Giana belum mengerti bagaimana merapikan barang-barangnya sendiri. Sandal kiri bisa berada di depan kamar, sementara sandal kanannya tertinggal di teras. Kakek tidak pernah mempermasalahkannya. Ia justru senang menemukan sandal itu di tempat yang berbeda-beda, sebab itu berarti cucunya sedang sibuk menjelajahi dunianya. Dunia Giana masih sederhana: rumah, halaman, mainan, makanan kesukaan, dan orang-orang yang membuatnya merasa aman.

Suatu sore, hujan turun cukup deras. Giana berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan genangan air di halaman.

“Kakek, hujannya berhenti kapan?”

“Nanti.”

“Nanti itu kapan?”

Kakek tertawa kecil. “Kalau hujannya sudah capek.”

Giana memandang langit dengan wajah serius, seolah-olah sedang menunggu hujan benar-benar kelelahan. Kakek memperhatikannya dari kursi. Anak itu tumbuh begitu cepat. Beberapa waktu lalu ia masih sering terjatuh ketika belajar berjalan. Sekarang langkahnya sudah semakin cepat, bahkan pertanyaannya seperti tidak pernah habis.

“Kakek, ini apa?”

“Kenapa begitu?”

“Itu siapa?”

Kadang Kakek kehabisan jawaban, tetapi tidak pernah kehabisan kesabaran untuk mendengar pertanyaan-pertanyaan kecil itu. Ada suara-suara tertentu yang baru terasa begitu berharga setelah kita tidak lagi mendengarnya setiap hari.

Menjelang magrib, hujan mulai reda. Giana mengambil sandalnya dan berlari kecil menuju pintu.

“Kita keluar?”

“Halaman masih basah.”

“Kakek takut?”

“Takut Giana jatuh.”

“Giana nggak jatuh.”

“Kalau jatuh?”

Giana terdiam sebentar, lalu menjawab dengan polos, “Bangun.”

Kakek tertawa. Ia mengambil payung dan akhirnya mengajak Giana keluar. Baru beberapa langkah berjalan, Giana melihat genangan air yang cukup besar. Tanpa banyak berpikir, ia melompat.

Byur!

Air memercik ke mana-mana. Celana Giana basah. Kaki Kakek juga terkena cipratan.

“Kakek kena!” teriak Giana sambil tertawa.

Kakek berpura-pura memasang wajah marah. “Kakek marah.”

Tawa Giana langsung berhenti. Ia mendekati Kakek, memeluk kakinya, lalu berkata pelan, “Maaf.”

Kakek tidak sanggup mempertahankan wajah marahnya. Ia tersenyum, lalu mengangkat Giana ke dalam pelukan.

“Tidak apa-apa.”

Giana menyandarkan kepala di bahunya. Di bawah satu payung yang sama, Kakek tiba-tiba menyadari sesuatu yang selama ini mungkin sengaja tidak ingin dipikirkannya. Giana tidak akan selamanya menjadi anak kecil. Suatu hari nanti sandal itu akan kekecilan. Akan ada sandal baru, sepatu sekolah, sepatu remaja, mungkin sepatu kerja. Dan entah kapan, mungkin tidak akan ada lagi sandal kecil Giana di depan pintu rumah ini.

“Kenapa, Kek?” tanya Giana.

“Tidak apa-apa.”

“Kakek sedih?”

“Sedikit.”

“Kenapa?”

“Karena Giana akan besar.”

Giana tampak bingung.

“Kalau besar kenapa?”

“Giana nanti punya banyak kesibukan.”

“Main?”

“Iya.”

“Sekolah?”

“Iya.”

“Terus?”

Kakek terdiam beberapa saat.

“Terus Giana mungkin pergi jauh.”

Giana langsung memeluk leher Kakek lebih erat.

“Jangan.”

Kakek mencium rambutnya. Ia tahu Giana belum benar-benar mengerti apa arti pergi jauh. Giana hanya tahu Kakek sedang mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengarnya.

“Kalau nanti Giana pergi, Kakek tidak akan melarang.”

“Kenapa?”

“Karena Giana harus tumbuh.”

Giana tidak menjawab. Ia hanya memeluk lebih erat.

Malam itu, setelah Giana pulang bersama orang tuanya, rumah terasa lebih sunyi. Kakek melihat sepasang sandal kecil di depan pintu. Sandal kiri menghadap ke dalam, sandal kanan menghadap ke luar. Ia merapikannya, tetapi tidak memindahkannya dari tempat semula.

“Besok Giana datang lagi,” pikirnya.

Namun, besok Giana tidak datang.

Hari berikutnya juga tidak.

Hari-hari berikutnya berlalu. Sandal itu tetap ada, tetapi suara langkah kecil yang biasanya berlarian di halaman tidak terdengar. Tidak ada lagi suara “Kakek” dari balik pintu. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan sederhana yang kadang membuat Kakek bingung mencari jawaban.

Barulah Kakek menyadari bahwa sebuah rumah ternyata bukan hanya dihidupkan oleh televisi, percakapan orang dewasa, atau suara kendaraan dari jalan. Rumah juga bisa hidup karena tawa seorang anak, tangisnya, langkah kecilnya, pertanyaan yang tidak ada habisnya, dan suara yang memanggil nama kita dengan cara yang hanya ia punya.

Beberapa hari kemudian Giana datang lagi. Begitu melihat Kakek, ia langsung berlari.

“Kakek!”

Kakek membuka kedua tangannya. Giana masuk ke dalam pelukannya.

Setelah itu Kakek menunjuk ke arah pintu.

“Lihat.”

Giana menoleh.

“Masih ada!”

Kakek tersenyum.

“Memangnya mau diambil?”

“Tidak. Itu punya Giana.”

“Kalau sudah tidak muat?”

Giana melihat kedua kakinya sendiri. Kemudian ia menjawab ringan, seolah persoalan itu sama sekali tidak sulit.

“Beli baru.”

Kakek tertawa.

Jawaban sesederhana itu ternyata membuatnya berpikir cukup lama. Giana tidak sibuk menangisi sandal yang sudah kekecilan. Ia tidak meminta Kakek memaksa kakinya masuk ke sandal lama. Baginya, kalau sudah tidak muat, ya beli yang baru.

Mungkin orang dewasa sering terlalu lama mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak lagi sesuai dengan langkahnya.

Beberapa bulan kemudian, sandal itu benar-benar tidak muat. Giana mendapatkan sandal baru. Nenek ingin membuang sandal lamanya.

“Jangan,” kata Kakek.

“Sudah kekecilan.”

“Biar saja.”

Kakek mengambil sandal itu dan meletakkannya di sebuah rak kecil dekat pintu.

Tahun-tahun berlalu. Giana tumbuh. Sandalnya berganti berkali-kali. Kakinya semakin panjang, langkahnya semakin cepat, dan dunianya semakin luas. Ia mengenal sekolah, teman, pelajaran, kegembiraan, juga kekecewaan. Rumah Kakek tidak lagi menjadi seluruh dunianya.

Namun, setiap kali pulang, ia selalu mencari Kakek lebih dulu.

Sandal kecil itu tetap berada di rak.

Giana mungkin sudah lupa kapan terakhir kali memakainya. Ia mungkin juga tidak lagi mengingat sore ketika ia melompat ke genangan air dan membuat kaki Kakek basah.

Kakek tidak mempermasalahkannya.

Ia hanya senang sandal itu masih ada.

Bukan karena sandal itu berharga. Bukan pula karena benda itu masih berguna. Sandal itu hanya mengingatkan Kakek pada masa ketika Giana belum mengenal luasnya dunia dan Kakek adalah salah satu tempat paling aman baginya untuk pulang.

Suatu sore, Giana duduk di samping Kakek. Kakinya kini sudah jauh lebih panjang daripada sandal kecil yang tersimpan di rak.

“Kakek,” katanya, “kalau Giana nanti pergi jauh, Kakek sedih?”

Kakek menoleh.

Pertanyaan itu terdengar berbeda sekarang.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Giana mau sekolah jauh.”

Kakek tersenyum.

“Pergilah.”

Giana menatapnya.

“Beneran?”

“Beneran.”

“Tidak kangen?”

“Kangen.”

“Terus?”

Kakek menunjuk ke arah rak kecil di dekat pintu.

“Kalau kangen, Kakek lihat itu.”

Giana mengikuti arah jarinya. Sepasang sandal kecil masih berada di sana.

Ia tertawa.

“Kok masih disimpan?”

Kakek tersenyum.

“Karena dulu Giana pernah memakainya.”

Tidak ada jawaban lain yang diperlukan.

Beberapa hari kemudian, Giana benar-benar pergi.

Pagi itu rumah terasa berbeda. Tidak ada langkah kecil yang tergesa-gesa. Tidak ada mainan berserakan. Tidak ada suara dari halaman.

Sebelum masuk ke kendaraan, Giana memeluk Kakek erat-erat.

“Jangan lupa Giana.”

Kakek mengusap kepalanya.

“Yang harus kamu ingat bukan Kakek.”

Giana menatap wajahnya.

“Terus?”

“Jalan pulang.”

Giana mengangguk, meskipun mungkin belum sepenuhnya memahami maksud Kakek.

Kendaraan perlahan meninggalkan halaman. Kakek berdiri di depan pintu sampai kendaraan itu tidak lagi terlihat.

Ia masuk ke rumah, lalu kembali memandang rak kecil di dekat pintu.

Sandal itu masih ada.

Kakek mengambilnya, mengusap debu yang menempel, kemudian meletakkannya kembali seperti semula.

Ia tidak tahu kapan Giana akan pulang. Mungkin minggu depan, beberapa bulan lagi, atau jauh lebih lama. Tetapi kali ini Kakek tidak lagi takut pada jarak.

Seorang anak memang harus tumbuh. Ia harus menemukan jalannya sendiri, mengenal dunia yang lebih luas, dan sesekali pergi meninggalkan rumah.

Dan mungkin, rumah yang baik bukanlah rumah yang membuat seseorang takut pergi. Rumah yang baik adalah rumah yang tetap menyediakan tempat untuk pulang.

Di depan pintu, sepasang sandal kecil itu tetap berada di rak. Sudah lama tidak dipakai.

Setiap kali melihatnya, Kakek seperti masih mendengar langkah-langkah kecil berlari di halaman.

“Kakek!”

Kali ini ia tidak menjawab.

Ia hanya tersenyum.

Mungkin begitulah sebuah rumah menyimpan seseorang yang telah pergi: bukan dengan menahannya agar tetap tinggal, melainkan dengan menyisakan ruang agar sejauh apa pun ia berjalan, ia selalu tahu ke mana harus pulang.

*Cerpen ini saya persembahkan untuk 2 tahun Gianna . Barakallah fii umrik ...cepat besar !!