Spirit Kurban di Tengah Dolar Melambung: Merawat Alam dan Kemanusiaan

Pendidikan pernah kuliah Pengamat & pemerhati kebijakan Publik. Tulisan menjadi warisan yg abadi dibandingkan dg harta benda, memungkinkan generasi mendatang (cucu/cicit) untk mengenal pemikiran penulisnya "Menulis adalah bekerja untuk keabadian"
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Iduladha tahun ini datang dalam suasana yang tidak mudah. Nilai dolar Amerika terus menguat, harga kebutuhan pokok bergerak naik, biaya hidup terasa semakin berat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Dalam situasi seperti ini, spirit kurban justru menemukan relevansinya: mengajarkan kesederhanaan, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap sesama.
Kenaikan dolar bukan sekadar angka di pasar keuangan. Dampaknya terasa hingga dapur rumah tangga. Harga pakan ternak, obat-obatan, logistik, hingga kebutuhan impor ikut terdorong naik. Akibatnya, harga hewan kurban di beberapa daerah juga mengalami tekanan. Banyak masyarakat mulai menghitung ulang kemampuan ekonominya.
Namun, di tengah tekanan ekonomi itu, Iduladha mengingatkan bahwa ibadah kurban bukan perlombaan gengsi, melainkan tentang keikhlasan dan kepedulian. Kurban mengajarkan bahwa manusia tidak boleh tunduk pada kerakusan ekonomi dan ketakutan kehilangan harta. Ada nilai berbagi yang harus tetap dijaga meski keadaan sedang sulit.
Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa esensi kurban bukan kemewahan hewan atau besarnya nilai materi, melainkan ketulusan hati dan keberpihakan kepada kemanusiaan. Di saat sebagian masyarakat harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup akibat tekanan ekonomi global, kurban menjadi simbol hadirnya empati sosial.
Spirit itu menjadi semakin penting ketika dunia hari ini juga menghadapi krisis lingkungan. Perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran sungai, hingga cuaca ekstrem telah memukul kehidupan petani dan peternak kecil. Ironisnya, kelompok bawah selalu menjadi pihak yang paling merasakan dampak ekonomi maupun ekologis.
Karena itu, ibadah kurban tidak cukup hanya dipahami sebagai ritual tahunan. Kurban harus melahirkan kesadaran untuk menjaga keseimbangan antara manusia, ekonomi, dan alam. Allah SWT mengingatkan:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Pesan ini relevan dengan kondisi sekarang. Ketika dunia menghadapi tekanan ekonomi global dan kerusakan lingkungan sekaligus, manusia dituntut hidup lebih bijak: tidak berlebihan dalam konsumsi, tidak membuang makanan, dan tidak menjadikan alam sebagai korban kerakusan ekonomi.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu.” (HR. Muslim)
Ihsan dalam kurban berarti memperlakukan hewan dengan baik, menjaga kebersihan lingkungan, dan memastikan distribusi daging benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan. Nilai ibadah tidak berhenti di tempat penyembelihan, tetapi berlanjut pada manfaat sosial yang dirasakan banyak orang.
Di tengah dolar yang melambung, Iduladha mengajarkan bahwa kekuatan sebuah bangsa bukan hanya terletak pada stabilitas mata uang, tetapi juga pada kuatnya solidaritas sosial. Ketika masyarakat masih mau berbagi di tengah kesulitan, ketika kepedulian kepada fakir miskin tetap hidup, dan ketika manusia masih menjaga alam sebagai titipan Tuhan, di situlah sesungguhnya makna kurban menemukan ruhnya.
Iduladha bukan sekadar tentang menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih ego, keserakahan, dan gaya hidup berlebihan. Sebab krisis ekonomi bisa dihadapi dengan kebersamaan, dan krisis lingkungan hanya bisa diselesaikan dengan kesadaran kolektif manusia untuk kembali hidup lebih adil dan lebih sederhana.
