Tidak Semua Kebaikan Harus Kembali
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Petani menanam padi dengan harapan panen. Namun, ia tahu sejak awal bahwa tidak setiap bulir yang ditanam akan tumbuh sempurna. Ada yang berisi, ada yang hampa, ada yang rusak sebelum sempat dipanen. Anehnya, petani tidak kemudian menyalahkan sawah hanya karena sebagian tanamannya gagal. Musim berikutnya ia kembali turun ke tanah, menanam lagi, merawat lagi, dan berharap lagi. Bagi petani, gagal panen adalah bagian dari perjalanan, bukan alasan untuk berhenti menanam.
Barangkali begitu pula seharusnya kita memandang kebaikan. Kita sering merasa kecewa bukan semata-mata karena pernah berbuat baik, melainkan karena diam-diam berharap kebaikan itu suatu hari kembali kepada kita dalam bentuk yang sama. Kita membantu seorang teman yang sedang kesulitan, meminjamkan uang, mencarikan pekerjaan, membuka jalan, atau menjadi orang yang selalu siap mendengar keluh kesahnya. Semua dilakukan dengan tulus, tetapi jauh di dalam hati kadang tersimpan harapan kecil yang tidak pernah kita ucapkan: suatu hari, saat kita membutuhkan, ia juga akan melakukan hal yang sama.
Masalahnya, hidup tidak selalu berjalan sesuai hitungan kita. Ada saat kita berada dalam kesulitan dan orang yang dulu pernah kita bantu justru tidak ada. Telepon tidak dijawab, pesan tidak dibalas, bahkan hubungan yang dahulu terasa dekat mendadak seperti tidak pernah memiliki sejarah. Pada saat seperti itu, kita mudah membuka kembali ingatan dan menghitung satu per satu kebaikan yang pernah diberikan. “Dulu saya yang menolong dia.” “Dulu saya yang mencarikan pekerjaan.” “Dulu saya yang ada saat dia susah.” Tanpa disadari, kebaikan yang semula diberikan dengan ikhlas berubah menjadi semacam rekening sosial yang kita anggap memiliki saldo dan suatu hari harus dicairkan.
Kita boleh kecewa kepada manusia, tetapi jangan sampai kekecewaan itu membuat kita kehilangan nilai yang selama ini kita percaya.
Padahal manusia bukan bank yang menyimpan catatan utang kebaikan. Ada orang yang tahu berterima kasih, ada yang lupa, ada yang membalas dalam bentuk berbeda, dan ada pula yang mungkin tidak pernah mengingat siapa yang pernah membantunya melewati masa sulit. Kita tidak selalu bisa mengatur bagaimana orang lain memperlakukan kebaikan yang pernah kita berikan. Yang masih berada dalam kendali kita adalah alasan mengapa kita memilih untuk berbuat baik sejak awal. Jika alasan itu hanya karena berharap balasan, maka kebaikan mudah berubah menjadi transaksi. Begitu pembayaran tidak datang, rasa kecewa pun muncul dan kita mulai merasa telah dirugikan.
Seorang teman, misalnya, pernah kita bantu saat kehilangan pekerjaan. Kita mencarikan informasi lowongan, mengenalkannya kepada seseorang, bahkan mungkin meminjamkan uang agar keluarganya tetap bisa bertahan. Beberapa tahun kemudian, hidup kita berbalik dan kita membutuhkan pertolongannya. Ternyata ia tidak datang. Bisa saja ia lupa. Bisa saja ia memang tidak peduli. Bisa juga kehidupannya sudah berubah dan ia sedang sibuk menghadapi persoalannya sendiri. Apa pun alasannya, keadaan itu memang boleh membuat kita kecewa. Namun, ketiadaan balasan tidak otomatis menghapus nilai dari pertolongan yang pernah kita berikan.
Hal serupa bisa terjadi di tempat kerja. Ada orang yang berkali-kali membantu rekannya menyelesaikan pekerjaan, tetapi saat hasilnya berhasil, namanya tidak disebut. Bahkan saat terjadi persoalan, orang yang banyak membantu justru ikut terseret. Situasi semacam ini tentu menyakitkan, apalagi bagi mereka yang terbiasa bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun, nilai sebuah kebaikan tidak semestinya bergantung pada seberapa sering orang lain menyebut nama kita. Jika setiap bantuan harus menghasilkan pengakuan, kita akan mudah lelah karena terus menunggu penghargaan dari orang lain.
Dalam keluarga pun persoalannya tidak jauh berbeda. Ada anak yang bertahun-tahun merawat orang tua, mengorbankan waktu, pekerjaan, bahkan kepentingan pribadinya. Namun, dalam sebuah keputusan keluarga, ia merasa tidak dihargai. Luka kemudian muncul karena ia merasa pengorbanannya seharusnya memberikan posisi khusus. Dari sini kita belajar bahwa berbuat baik dan menuntut balasan adalah dua hal yang berbeda. Kebaikan boleh dilakukan dengan sepenuh hati, tetapi tidak berarti orang yang menerima kebaikan otomatis kehilangan kebebasan untuk menentukan bagaimana ia menjalani hidupnya.
Tentu saja, berbuat baik bukan berarti membiarkan diri dimanfaatkan. Kita tetap boleh mengatakan tidak kepada orang yang terus-menerus meminta tetapi tidak pernah belajar bertanggung jawab. Kita boleh berhenti meminjamkan uang kepada orang yang berkali-kali mengingkari janji. Kita juga boleh mengambil jarak dari hubungan yang hanya datang saat membutuhkan sesuatu. Ada batas yang perlu dijaga agar ketulusan tidak berubah menjadi kelemahan. Menolak bukan selalu berarti jahat, sebagaimana membantu bukan selalu berarti baik jika bantuan itu justru membuat seseorang terus bergantung.
Justru di situlah kedewasaan dalam berbuat baik diuji. Kita membantu sesuai kemampuan, bukan sampai menghancurkan diri sendiri. Kita memberi karena memang mampu memberi, bukan karena takut kehilangan seseorang. Kita menolong tanpa harus menjadikan pertolongan itu alat untuk mengikat orang lain. Dengan cara seperti itu, kebaikan tetap menjadi kebaikan, bukan utang yang diam-diam menunggu pembayaran.
Ada hal lain yang sering kita lupakan: kebaikan tidak selalu kembali kepada orang yang menanamnya. Seorang guru mungkin tidak pernah mendapatkan bantuan dari murid yang dahulu ia didik, tetapi murid itu suatu hari bisa mendidik anak-anak lain dengan nilai yang pernah diterimanya. Seorang tetangga mungkin hanya memberikan bantuan kecil kepada sebuah keluarga yang sedang mengalami kesulitan, tetapi bertahun-tahun kemudian keluarga itu meneruskan kebaikan yang sama kepada orang lain. Bahkan tindakan sederhana seperti memberi jalan kepada kendaraan di tengah kemacetan bisa saja sangat berarti bagi seseorang yang sedang membawa orang sakit atau mengejar waktu untuk urusan keluarganya.
Karena itu, kebaikan tidak selalu bekerja seperti transaksi. Ia lebih mirip benih. Kita menanamnya tanpa selalu mengetahui di mana ia akan tumbuh dan siapa yang kelak menikmati hasilnya. Bisa jadi orang yang kita bantu tidak pernah membalas kepada kita. Bisa jadi justru orang lain yang merasakan manfaatnya. Bisa jadi kita bahkan sudah lupa pernah melakukan sesuatu yang baik, sementara bagi orang lain peristiwa kecil itu menjadi pengalaman yang terus ia ingat sepanjang hidup.
Petani memahami hal tersebut dengan cara yang sederhana. Ia tidak membuang seluruh benih hanya karena pernah mengalami gagal panen. Ia memperbaiki cara bertani, memilih benih yang lebih baik, membaca musim, lalu kembali menanam. Ia tahu bahwa satu kegagalan tidak cukup untuk membuat seluruh sawah ditinggalkan. Demikian pula manusia. Kita boleh belajar dari orang yang mengecewakan, menjadi lebih hati-hati dalam memilih teman, memperbaiki cara memberikan kepercayaan, dan menetapkan batas yang lebih sehat. Namun, jangan sampai pengalaman buruk membuat kita kehilangan kemampuan untuk berbuat baik kepada orang lain.
Sebab jika setiap kebaikan yang tidak dibalas membuat kita berubah menjadi buruk, orang yang mengecewakan kita justru berhasil mengambil sesuatu yang jauh lebih berharga daripada bantuan yang pernah kita berikan: diri kita sendiri. Kita mungkin kehilangan uang, waktu, tenaga, atau kesempatan karena pernah membantu orang yang ternyata tidak tahu berterima kasih. Tetapi jangan sampai kita juga kehilangan karakter hanya karena pernah bertemu dengan orang yang salah.
Kita boleh kecewa kepada manusia, tetapi jangan sampai kekecewaan itu membuat kita kehilangan nilai yang selama ini kita percaya. Tidak semua orang harus menjadi saksi dari niat baik kita. Tidak semua pertolongan harus memiliki tanda terima. Tidak semua orang yang pernah kita bantu akan datang kembali saat kita membutuhkan. Dan mungkin memang demikian cara hidup mengajarkan kita tentang keikhlasan: kita tidak selalu diberi kesempatan untuk melihat hasil dari apa yang telah kita tanam.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa banyak orang yang membalas kebaikan kita, melainkan siapa diri kita setelah berkali-kali dikecewakan. Apakah kita menjadi lebih pahit, atau justru menjadi lebih bijaksana? Apakah kita berhenti membantu semua orang, atau belajar memilih kepada siapa bantuan perlu diberikan? Apakah kita menutup hati, atau tetap mampu berbuat baik sambil memahami batas kemampuan diri?
Petani tidak berhenti menanam hanya karena pernah gagal panen. Ia tahu tidak semua padi akan berisi. Kita pun seharusnya memahami bahwa tidak semua kebaikan akan kembali kepada tangan yang sama. Ada yang kembali sebagai pertolongan, ada yang kembali sebagai doa, ada yang tumbuh melalui orang lain, dan ada pula yang mungkin tidak pernah kembali sama sekali.
Namun, jangan biarkan kebaikan yang tidak dibalas membuat kita menjadi manusia yang lebih buruk. Sebab jika itu terjadi, orang yang mengecewakan kita bukan hanya gagal membalas kebaikan, tetapi juga berhasil mengubah siapa diri kita.
Manusia mungkin lupa siapa yang pernah menolongnya. Tetapi jangan sampai kita lupa siapa yang ingin kita menjadi.

