Mengejar Cuan atau Membangun Kekayaan? Dilema Investor Masa Kini

Muhamad Rudi merupakan mahasiswa Program Studi S1 Akuntansi dengan konsentrasi Perpajakan di Universitas Pamulang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari MUHAMAD RUDI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah semakin mudahnya akses terhadap pasar modal, investasi kini bukan lagi sesuatu yang hanya dikenal oleh kalangan tertentu. Hanya dengan menggunakan telepon genggam, seseorang dapat membeli saham, reksa dana, atau berbagai instrumen investasi lainnya dalam hitungan menit.
Kemudahan tersebut tentu menjadi perkembangan positif. Semakin banyak masyarakat yang mengenal investasi berarti semakin besar pula peluang untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih baik.
Namun, ada persoalan lain yang muncul bersamaan dengan kemudahan tersebut. Apakah masyarakat benar-benar sedang berinvestasi, atau hanya mengejar keuntungan secepat mungkin?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika pergerakan harga saham sering kali menjadi tontonan harian. Ketika sebuah saham mengalami kenaikan besar, perhatian investor ikut meningkat. Sebaliknya, ketika harga turun, kepanikan dapat muncul dalam waktu singkat.
Pada kondisi seperti ini, investasi dapat dengan mudah bergeser menjadi aktivitas yang lebih berorientasi pada spekulasi.
Ketika “Cuan Cepat” Menjadi Tujuan Utama
Istilah cuan sudah sangat familiar di kalangan investor. Mendapatkan keuntungan tentu bukan sesuatu yang salah. Bagaimanapun, salah satu tujuan seseorang berinvestasi adalah memperoleh pertumbuhan nilai aset.
Masalahnya muncul ketika keuntungan cepat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan investasi.
Seorang investor dapat saja membeli saham karena melihat harganya sedang naik tanpa memahami alasan kenaikan tersebut. Ada pula yang membeli karena melihat rekomendasi di media sosial atau mengikuti keputusan orang lain.
Jika harga kemudian naik, keputusan tersebut dianggap benar.
Sebaliknya, ketika harga turun, muncul keinginan untuk segera menjual karena takut mengalami kerugian yang lebih besar.
Pola seperti ini menunjukkan bahwa keputusan investasi tidak selalu didasarkan pada analisis, tetapi dapat dipengaruhi oleh emosi dan tekanan dari lingkungan sekitar.
Padahal, harga saham pada dasarnya hanya merupakan salah satu bagian dari cerita. Di balik sebuah harga terdapat perusahaan dengan bisnis, pendapatan, biaya, utang, aset, strategi, dan berbagai risiko yang perlu dipahami.
Investasi Bukan Sekadar Menebak Harga
Perbedaan antara investasi dan spekulasi sering kali menjadi kabur ketika seseorang terlalu fokus terhadap pergerakan harga.
Investor idealnya tidak hanya bertanya, “Besok harga saham ini naik atau turun?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Apa yang sebenarnya saya beli ketika membeli saham perusahaan ini?”
Saham bukan sekadar angka yang bergerak di layar. Ketika seseorang membeli saham, ia membeli bagian kepemilikan atas sebuah perusahaan.
Karena itu, memahami kondisi perusahaan menjadi penting. Laporan keuangan, pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, struktur utang, arus kas, hingga prospek bisnis dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan.
Pendekatan tersebut memang tidak selalu menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat. Namun, investasi jangka panjang memang bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling cepat mendapatkan keuntungan.
Tujuannya adalah membangun aset secara konsisten dari waktu ke waktu.
FOMO dan Godaan Mengikuti Keramaian
Salah satu tantangan terbesar investor masa kini adalah fear of missing out atau FOMO.
Ketika melihat orang lain memperoleh keuntungan dari suatu saham, muncul perasaan bahwa dirinya juga harus ikut masuk. Kekhawatirannya bukan lagi mengenai apakah perusahaan tersebut layak dibeli, tetapi mengenai apakah dirinya akan kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan.
Di sinilah keputusan investasi dapat berubah menjadi keputusan emosional.
Investor kemudian membeli ketika harga sudah tinggi hanya karena takut tertinggal. Ketika sentimen berubah dan harga turun, kepanikan pun muncul.
Ironisnya, seseorang bisa membeli karena melihat orang lain mendapatkan keuntungan, kemudian menjual karena melihat orang lain mulai panik.
Jika terus dilakukan, investasi tidak lagi menjadi proses membangun kekayaan, melainkan siklus mengikuti sentimen pasar.
Membangun Kekayaan Membutuhkan Waktu
Membangun kekayaan melalui investasi pada dasarnya membutuhkan kesabaran.
Tidak semua investasi harus menghasilkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Justru, konsistensi dalam menyisihkan uang, memilih instrumen sesuai profil risiko, memahami aset yang dimiliki, dan memberikan waktu bagi investasi untuk berkembang dapat menjadi pendekatan yang lebih realistis.
Konsep ini memang terdengar sederhana, tetapi praktiknya tidak selalu mudah.
Pasar akan mengalami kenaikan dan penurunan. Akan ada masa ketika portofolio terlihat sangat menarik, tetapi ada pula periode ketika nilai investasi mengalami penurunan.
Pada saat seperti itu, investor dituntut untuk mampu membedakan antara penurunan sementara dan perubahan fundamental investasi.
Kemampuan tersebut tidak dapat diperoleh hanya dengan melihat grafik harga. Dibutuhkan pengetahuan dan disiplin.
Investor Muda dan Tantangan Era Digital
Generasi muda memiliki keuntungan yang tidak dimiliki investor pada masa lalu: akses informasi yang sangat cepat.
Berbagai informasi mengenai saham, ekonomi, laporan keuangan, dan investasi dapat ditemukan dengan mudah.
Namun, banyaknya informasi juga dapat menjadi tantangan.
Tidak semua informasi yang viral merupakan informasi yang tepat untuk dijadikan dasar keputusan investasi. Popularitas sebuah saham tidak selalu mencerminkan kualitas perusahaan.
Karena itu, semakin mudah seseorang mendapatkan informasi, semakin penting pula kemampuan untuk menyeleksi dan memverifikasi informasi tersebut.
Bagi investor muda, kemampuan membaca laporan keuangan dan memahami risiko mungkin jauh lebih bermanfaat dalam jangka panjang dibanding sekadar mengetahui saham apa yang sedang ramai diperbincangkan.
Jadi, Mengejar Cuan atau Membangun Kekayaan?
Pada akhirnya, mengejar keuntungan dan membangun kekayaan bukanlah dua hal yang sepenuhnya bertentangan.
Keuntungan tetap menjadi bagian dari investasi. Namun, persoalannya adalah bagaimana keuntungan tersebut dikejar.
Jika seseorang hanya berorientasi pada keuntungan cepat, keputusan investasi berpotensi dipengaruhi oleh FOMO, emosi, dan spekulasi.
Sebaliknya, jika seseorang memiliki tujuan membangun kekayaan, perhatian akan lebih banyak diarahkan pada proses: berinvestasi secara konsisten, memahami aset yang dimiliki, mengelola risiko, dan memiliki pandangan jangka panjang.
Pasar modal seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tempat untuk mencari keuntungan sesaat. Ia juga dapat menjadi sarana untuk belajar mengenai bisnis, ekonomi, risiko, dan bagaimana uang dapat dikelola secara lebih terencana.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bagi seorang investor mungkin bukan “Berapa banyak cuan yang bisa saya dapatkan hari ini?
Melainkan:
“Apakah keputusan yang saya ambil hari ini membantu saya membangun kekayaan di masa depan?”
Sebab investasi bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan keuntungan. Investasi adalah tentang siapa yang mampu bertahan, belajar, dan konsisten dalam membangun aset untuk jangka panjang.
