Ganjar Menjadi Ketua Umum PDIP Bila...

Pekerja porfesional Mantan aktivis kelompok studi mahasiswa UI 90-an dan Himpunan Mahasiswa Islam. Ketertarikan pada masalah sosial, ekonomi, dan budaya.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Rudi K Dahlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Judul tersebut mungkin mengada-ada saat ini. Tetapi sesungguhnya ini menjadi sesuatu yang serius bila dianalisa pada satu kondisi tertentu. Lantas apa kondisi tertentu itu? Jawabannya, apabila ganjar terpilih sebagai Presiden RI menggantikan Presiden Joko Widodo di tahun 2024.
Tentu tidak semudah itu untuk mengatakan bahwa kursi ketua umum PDIP akan diduduki oleh Ganjar. Karena yang harus dianalisa adalah bagaimana peluang Ganjar sendiri di dalam kontestasi pilpres 2024 nanti. Tapi tulisan ini bukan menganalisa bagaimana Ganjar bisa memenangkan piplpres 2024. Tetapi mengupas mengapa bila Ganjar memenangkan pemilihan presiden maka dia bisa menjadi ketua umum PDIP?

Fenemona Jokowi Berulang
Seperti sudah dimaklumi bahwa ketergantungan PDIP terhadap Megawati sedemikian besar. Seolah Megawati tidak akan mampu tergantikan oleh siapapun. Padahal sesungguhnya jabatan kekuasaan tidak ada yang kekal, setiap orang pasti akan ada masanya. Dan setiap masa pasti akan ada orangnya.
Beberapa meyakini bahwa PDIP tidak akan pernah bisa dilepaskan dari keluarga trah Soekarno. Walaupun secara ideologis, bisa diperdebatkan soekarnoisme yang hidup di dalam partai. Tetapi, terlepas dari akar soekarnoisme di PDIP tidak ada yang bisa membantah bahwa trah Soekarno melalui Megawati adalah kekuatan yang sungguh-sungguh bisa membuat partai ini bertahan sekian lama. Megawati mampu memancarkan kharisma Soekarno kepada para pendukung partai bahkan melebihi dukungan yang pernah diberikan kepada PDI ketika masih berada pada masa orde baru.
Pemilu 1999 merupakan puncak kemenangan tertinggi PDIP dengan perolehan suara 33%. Sebuah euphoria yang terbangun mengiringi runtuhnya orde baru yang meminggirkan Megawati dari panggung kepemimpinan PDI pada masa itu dengan cara-cara yang kasar.
Namun kepemimpinan Megawati menghadapi tantangan kuat memasuki masa pemilihan presiden langsung. Dominasi PDIP dalam pemilu pertama reformasi tidak bertahan pada pemilu ke-dua. Secara tidak disangka-sangka Golkar yang terpuruk akibat reformasi mampu merebut suara terbanyak pada pemilu ke-dua orde reformasi di tahun 2004. Bahkan partai Demokrat yang tergolong baru kemudian juga menyalip PDIP di tahun 2009. Dan bahkan pendiri Demokrat, SBY bisa menumbangkan Megawati dua kali dalam kontestasi pilpres.
Pada pileg 2014, PDIP mengalami titik balik. Kemunculan Jokowi pada 2012-2014 menjadi fenomena bagi peta politik nasional saat itu. Jokowi yang di 2012 memenangkan kursi Gubernur DKI Jakarta membuat tarik-menarik kuat dalam kandidasi capres dari PDIP. Survey-survey menjagokan Jokowi melampui Megawati. Hal ini membuat Megawati terpaksa merelakan kursi calon presiden dalam kontestasi 2014 kepada Jokowi. Fenomena Jokowi ditambah badai kasus korupsi dalam tubuh partai Demokrat, melempangkan jalan PDIP kembali memenangkan pileg dan bahkan mengantarkan Jokowi menjadi presiden.
Sejak 2014 inilah kharisma seorang Megawati terlampui oleh seseorang yang sebenarnya tidak kental sebagai aktivis partai. Di tahun 2019, fenomena Jokowi masih begitu kuat di akar rumput pendukung PDIP dan non-PDIP. Kemenangan Jokowi di 2019 bahkan mampu menderek suara PDIP hingga melampui treshold pilpres di 2024.
Sementara sepertinya dukungan rakyat terhadap PDIP dalam kontestasi legislatif ke depannya akan semakin ajeg pada kisaran antara 14-18% dengan kemungkinan mencapai di atas 20% bila kandidat calon presiden mereka mampu membawa efek ekor jas pada pemilu legislatif.
Memasuki periode pilpres 2024, tarik-menarik kandidasi calon presiden dari PDIP kembali terjadi mirip-mirip seperti tahun 2014. Tampaknya Megawati berusaha mengembalikan penentuan calon presiden dari PDIP kepada trah Soekarno melalui anaknya Puan Maharani. Dan seperti tahun 2014, tantangan trah Soekarno muncul dari sosok internal partai PDIP sendiri, yaitu Ganjar Pranowo.
Survey-survey menunjukkan bahwa elektabilitas Ganjar jauh di atas elektabilitas Puan Maharani. Sementara trah soekarno lainnya yang juga dikader oleh PDIP, Prananda tidak muncul di dalam survey.
Fenomena 2014 yang berulang di tahun 2022 adalah pertanda kekuatan trah Soekarno tidak lagi menjadi kekuatan penentu bagi langkah kader-kader partai dalam menentukan calon presiden. Walau dalam tubuh partai sendiri, tidak ada yang mampu untuk secara langsung berkonfrontasi dengan seorang Megawati. Tetapi satu hal yang perlu dicatat, bahwa kharisma seorang trah soekarno sudah memudar bila diperhadapkan dengan fenomena popularitas dan elektabilitas dalam kandidasi pemilihan presiden.
Trah Soekarno Berakhir
Langgam keluarga soekarno yang terlalu aristokratik sudah tidak semakin relevan dengan nafas zaman. Maka tidak mengherankan dalam “rezim” survey popularitas dan elektabilitas inilah tampaknya kepemimpinan seorang trah soekarno seperti dikudeta. Tahun 2014 Jokowi tampil menyalip Megawati. Dan kini seorang Ganjar sekali lagi menyalip kepemimpinan trah soekarno yang hendak dturunkan ke Puan Maharani.
Popularitas seorang Ganjar, ditangkap dengan baik oleh Jokowi. Seolah sebagai dejavu dirinya, Jokowi memberikan sinyal dukungan terhadap Ganjar, terutama di hadapan para relawan pendukungnya. Walaupun Jokowi dianggap sebagai kader partai, tetapi aksi-aksi Jokowi dalam memelihara dukungan relawan secara nyata mampu memberikan posisi tawar yang kuat. Dukungan relawan terhadap dirinya tetap dipelihara oleh Presiden Jokowi melalui pengorganisasian yang dibina dengan kuat. Dia memfasilitasi para pemimpin relawan pada jabatan-jabatan penting di BUMN dan bahkan hingga jabatan wakil mentri. Dan tampaknya pengalihan dukungan relawan Jokowi ke Ganjar memang sudah dipersiapkan.
Bila dilihat melalui sosial media, sepertinya Ganjar Pranowo memang menyiapkan diri sejak jauh hari untuk mengincar posisi kandidat Presiden. Penampilannya di dalam sosial media, lebih menampilkan sosok pribadi ketimbang sosok dalam kapasitas pekerjaannya sebagai gubernur. Dia mencoba mencitrakan sosok pemimpin dengan berbagai pesona individu melalui aktivitas informal seorang gubernur dibandingkan Ganjar sebagai sosok gubernur yang formal. Penampilannya di sosial media hampir didominasi sebagai penampilan individu dengan gaya berpakaian yang sportif ketimbang menunjukkan diri sebagai representasi seorang pemimpin pemerintahan bersama dengan wakil gubernur atau para aparat pemda di sisinya. Terntu ini adalah sebuah strategi yang entah disiapkan entah tidak, turut mendongkrak popularitasnya di sosial media.
Tidak heran kemudian Puan sempat menyinggung sosok seorang kepala daerah yang dianggap hanya menenggelamkan diri dalam aktivitas bersosial media dan tidak melakukan kerja sesungguhnya. Banyak kalangan merujuk sosok yang disinggung tersebut pada Ganjar. Terlebih saat secara terang-terangan Ganjar sering dipojokkan oleh para petinggi PDIP. Bahkan dia tidak diundang pada sebuah acara resmi kepartaian di wilayah Jawa tengah yang menghadirkan Puan dalam acara tersebut meskipun semua pimpinan dan kader partai se-jawa tengah diundang.
Namun demikian, langkah politik Jokowi dalam mendukung secara terbuka terhadap calon presiden sebelum partai mengumumkan secara resmi jelas-jelas telah menunjukkan secara nyata tantangan terbuka terhadap PDIP sendiri. Walau langkah Jokowi banyak dikritik oleh petinggi partai namun sebagai seorang presiden, sulit untuk dibendung terutama menyadari bahwa Jokowi memerlukan kepastian bahwa presiden selanjutnya mampu menjaga dan melanjutkan program serta kepentingan lain dari Presiden Jokowi sendiri. Maka saham dukungannya memang terlihat jelas didorong kepada seorang Ganjar.
Karena itulah, dilemma besar pada Megawati yang diberi mandat untuk menentukan sosok calon presiden. Antara memberi mandat atas dasar perhitungan partai dan dirinya pribadi berhadapan dengan besarnya dukungan masyarakat yang bukan anggota partai serta presiden Jokowi sendiri terhadap sosok calon presiden yang mungkin berbeda dengan kehendak Megawati atau partai..
Persaingan terbuka antara disiplin partai yang menunggu keputusan serta kehendak Megawati berhadapan dengan “kehendak” relawan serta presiden adalah sesuatu yang tidak kondusif untuk PDIP. Tahun 2022 ini menunjukkan fenomena relawan telah menggoyahkan disiplin partai atau bisa juga disebut kehendak seorang Megawati.Tentu ini bisa disebut sebagai “soft coup d etat” terhadap Megawati.
Bagi orang luar melihat ini sebagai sebuah pertanda bahwa Megawati dan juga trah soekarno sudah melemah. “Perlawanan” kader partai secara terselubung dan turut campurnya Presiden Jokowi dari garis luar partai, bisa mengindikasikan bahwa ke depannya independensi kader dalam memutuskan langkah politik yang besar tidak lagi ditentukan oleh pemimpin partai.
Tetapi hal itu hanya bisa terjadi bila cara bergorganisasi partai tetap menggantungkan keputusannya pada otoritas keluarga Soekarno. Namun seperti yang sudah disebut sebelumnya bahwa seseorang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya.
Bila ini kemudian disadari secara penuh, maka melihat fenomena persaingan antara kehendak Presiden Jokowi dengan kehendak Trah Sokerano mewakili partai dalam mengambil keputusan strategis merupakan preseden kurang baik bagi masa depan partai. PDIP perlu mengembalikan soliditas keputusan dengan mekanisme yang lebih terbuka dan modern dengan tidak begitu saja menyerahkan keputusan poitik strategis hanya kepada satu orang atau selalu menggantungkan diri pada trah soekarno.
Maka bila saja Ganjar Pranowo kemudian terpilih menjadi kandidat presiden dari PDIP dan bila saja dia memenangkan kontestasi menjadi Presiden Indonesia berikutnya bisa mengubah konstelasi di dalam tubuh organisasi PDIP.
Sehingga bukan tidak mungkin arus besar perubahan untuk mengkonsolidasikan kembali satunya pengorganisasian partai dengan keputusan langkah politik strategis ke depannya, akan membawa Ganjar menjadi kandidat kuat calon Ketua Umum PDIP. Dan tampak hal tersebut bukan mustahil terjadi bila era Megawati berakhir.
Jadi, bila Ganjar Pranowo terpilih menjadi Presiden RI di tahun 2024 maka kelak dia akan menjadi ketua umum PDIP dalam munas PDIP selanjutnya pada era kepemimpinan Presiden Ganjar. Maka ini akan menandai era trah soekarno berakhir dan membawa PDIP menjadi partai yang lebih modern. ***
