Konten dari Pengguna

Ketika Kita Sibuk Berlari Hingga Lupa Pulang ke Diri Sendiri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rufaidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perjalanan seseorang dalam menemukan kembali jati diri di tengah berbagai tuntutan dan kesibukan kehidupan. (Sumber: https://www.pexels.com/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perjalanan seseorang dalam menemukan kembali jati diri di tengah berbagai tuntutan dan kesibukan kehidupan. (Sumber: https://www.pexels.com/)

Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, kesibukan sering kali dipandang sebagai tanda bahwa seseorang sedang menjalani hidup yang berhasil. Hari-hari dipenuhi pekerjaan, target, dan berbagai tanggung jawab yang datang silih berganti. Kita terus berlari agar tidak tertinggal, hingga tanpa sadar lupa menanyakan satu hal sederhana: apakah diri kita masih ikut dalam perjalanan itu?

Kegelisahan inilah yang menjadi denyut utama cerpen “Bawa Aku, ke Mana Kau Pergi” karya SJ Sabdono. Cerpen ini tidak menawarkan konflik yang meledak-ledak ataupun alur yang penuh kejutan. Sebaliknya, kekuatannya justru terletak pada cerita yang dekat dengan pengalaman banyak orang, yaitu tentang bagaimana seseorang perlahan kehilangan diditengahtengah rutinitas yang terus berulang. Untuk melihat bagaimana makna tersebut dibangun, tulisan ini mengkaji unsur-unsur intrinsik cerpen berdasarkan teori Burhan Nurgiyantoro yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, serta gaya bahasa. Unsur-unsur tersebut saling berkaitan dalam membentuk keutuhan cerita sekaligus menyampaikan pesan yang ingin dihadirkan pengarang.

Saat Kesibukan Menjauhkan Kita dari Diri Sendiri

Tema merupakan gagasan utama yang menjadi dasar sebuah cerita. Dalam cerpen ini, tema yang diangkat adalah pencarian jati diri di tengah derasnya tuntutan kehidupan modern. Pengarang menunjukkan bahwa kehilangan diri tidak selalu berawal dari peristiwa besar. Justru, hal itu sering lahir dari rutinitas yang terus berulang hingga seseorang lupa mendengarkan suara hatinya sendiri.

"Dan semakin lama aku tahu: itu bukan suara orang lain. Itu suara diriku sendiri—diri yang pernah ada, diri yang kutinggalkan entah di mana."

Kutipan tersebut menjadi inti dari keseluruhan cerita. Suara yang selama ini dianggap berasal dari luar ternyata adalah bagian dirinya sendiri yang telah lama diabaikan. Dari sinilah pembaca diajak menyadari bahwa perjalanan yang paling berat bukanlah mengejar berbagai pencapaian, melainkan menemukan kembali diri yang sempat hilang di tengah kesibukan.

Sosok yang Mewakili Banyak Orang

Tokoh dan penokohan berfungsi menghadirkan karakter sekaligus memperlihatkan bagaimana sifat tokoh dibangun melalui cerita. Dalam cerpen ini, tokoh utama digambarkan sebagai sosok pekerja keras yang hidupnya sepenuhnya dikuasai oleh rutinitas. Karakter tersebut terasa dekat dengan realitas masyarakat masa kini yang setiap hari disibukkan oleh pekerjaan dan berbagai tuntutan hidup.

"AyahkuAyahku memberi nama padaku, Anginlembah. Lelaki tiga puluh lima tahun, pekerja yang hidupnya terukur oleh jadwal: bangun pagi, menyusuri jalan macet, terjebak layar komputer, pulang larut dengan tubuh penat, lalu tidur untuk mengulanginya lagi."

Melalui kutipan itu, pembaca melihat bagaimana kesibukan perlahan mengubah seseorang menjadi pribadi yang menjalani hidup secara otomatis. Tokoh tersebut hadir bukan sebagai sosok yang luar biasa, melainkan sebagai cerminan banyak orang yang tampak baik-baik saja, tetapi diam-diam kehilangan arah dalam hidupnya.

Perjalanan yang Ternyata Mengarah ke Dalam Diri

Alur merupakan rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita. Cerpen ini menggunakan alur yang berjalan perlahan mengikuti perubahan batin tokohnya. Konflik tidak muncul dari pertentangan dengan orang lain, melainkan dari kesadaran bahwa dirinya telah lama meninggalkan mimpi-mimpi yang pernah diyakini. Puncak emosinya hadir ketika tokoh utama menemukan kembali daftar mimpi yang pernah ditulis semasa kecil.

"Tiga mimpi, tiga janji. Dan tak satu pun kutepati."

Kutipan tersebut menjadi titik balik cerita. Pembaca diajak menyadari bahwa selama bertahun-tahun seseorang bisa saja sibuk mengejar berbagai pencapaian, tetapi tanpa sadar melupakan impian yang dahulu menjadi alasan untuk melangkah. Kesadaran itulah yang kemudian membuka jalan menuju perubahan.

Latar: Kota yang Ramai, Hati yang Tetap Sunyi

Latar bukan sekadar menjadi tempat berlangsungnya peristiwa, tetapi juga membangun suasana dan memperkuat makna cerita. Dalam cerpen ini, kota digambarkan sebagai ruang yang sibuk, penuh aktivitas, namun menyimpan kesepian yang tidak selalu terlihat.

"Malam di apartemen sering terasa panjang. Dari lantai tujuh, aku memandang lampu-lampu kota seperti kunang-kunang terjebak di genangan hujan."

Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa keramaian tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Sebaliknya, ketika suasana berubah menjadi lebih tenang, tokoh utama justru mampu mendengar kembali suara hatinya. Latar akhirnya menjadi simbol bahwa kepulangan yang sesungguhnya bukan hanya menuju sebuah tempat, tetapi juga menuju diri sendiri.

Sudut Pandang : Mengajak Pembaca Masuk ke Dalam Pikiran Tokoh

Sudut pandang merupakan cara pengarang menyampaikan cerita kepada pembaca. Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama sehingga setiap kegelisahan, penyesalan, dan harapan terasa begitu dekat. Pembaca seolah ikut menyaksikan sekaligus merasakan pergulatan batin yang dialami tokoh.

"Aku takut. Takut kalau aku sudah terlambat. Aku sudah terlalu jauh meninggalkanmu."

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa ketakutan terbesar bukanlah kehilangan pekerjaan ataupun pencapaian, melainkan kehilangan hubungan dengan diri sendiri. Pilihan sudut pandang ini membuat cerita terasa lebih intim sekaligus mudah menyentuh emosi pembaca.

Gaya Bahasa: Kalimat Sederhana yang Menyisakan Renungan

Gaya bahasa menjadi unsur yang memberi warna pada sebuah karya sastra. SJ Sabdono menggunakan bahasa yang sederhana, mengalir, dan reflektif sehingga pesan cerita terasa dekat tanpa terkesan menggurui. Kalimat-kalimatnya singkat, tetapi mampu meninggalkan kesan yang mendalam.

"Mimpi tidak pernah menua. Hanya tubuhmu yang menua."

Kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa mimpi sebenarnya tidak pernah hilang. Yang berubah adalah manusia yang perlahan menjauh darinya karena sibuk memenuhi berbagai tuntutan hidup. Kesederhanaan bahasa justru menjadi kekuatan utama cerpen ini karena memberi ruang bagi pembaca untuk merenungkan maknanya sendiri.

Kesimpulan: Menemukan Jalan Pulang ke Diri Sendiri

Cerpen Bawa Aku, ke Mana Kau Pergi menunjukkan bahwa kehilangan diri sering kali terjadi tanpa disadari, di tengah rutinitas, tuntutan, dan kesibukan yang terus menyita waktu. Melalui perjalanan tokoh utamanya, SJ Sabdono mengingatkan bahwa menemukan kembali diri sendiri bukanlah sesuatu yang dapat terjadi secara instan. Perubahan dimulai dari keberanian untuk berhenti sejenak, berdamai dengan masa lalu, lalu melangkah kembali dengan arah yang lebih diyakini.

Amanat yang dapat dipetik dari cerpen ini adalah pentingnya meluangkan waktu untuk mengenali diri sendiri di tengah berbagai kesibukan hidup. Pencapaian dan kesuksesan memang memiliki arti, tetapi akan kehilangan maknanya jika membuat seseorang lupa pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, cerpen ini mengajak pembaca untuk sesekali menoleh ke dalam, mendengarkan suara hati, dan memastikan bahwa di tengah segala hal yang sedang dikejar, kita tidak kehilangan arah maupun jati diri.

Daftar Pustaka

Sabdono, SJ. 2025. "Bawa Aku, ke Mana Kau Pergi." Harian Kompas, 19 Desember 2025.

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.