Mahasiswa Sekarang Bukan Malas, Tapi Terlalu Banyak Distraksi

Haloo! Saya Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rufhi Pramudya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa baru membuka laptop untuk mengerjakan tugas, tetapi beberapa menit kemudian justru sibuk membuka media sosial, membalas chat, atau menonton video pendek? Kondisi seperti ini semakin sering dialami mahasiswa. Masalahnya bukan karena tidak mau belajar, melainkan karena distraksi digital yang datang tanpa henti.
Teknologi memang memberikan banyak kemudahan. Mahasiswa bisa mengakses jurnal, mengikuti kelas daring, hingga berdiskusi dengan dosen melalui berbagai platform. Namun, di sisi lain, perangkat yang sama juga menjadi sumber gangguan. Notifikasi media sosial, video berdurasi singkat, hingga tren yang terus bermunculan membuat fokus menjadi mudah terpecah.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada penyelesaian tugas, tetapi juga terhadap kualitas belajar. Banyak mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop, tetapi waktu yang benar-benar digunakan untuk memahami materi justru sangat sedikit. Akibatnya, tugas memang selesai, tetapi pemahaman terhadap materi tidak maksimal.
Di tengah kondisi tersebut, kemampuan mengelola perhatian menjadi keterampilan yang semakin penting. Menonaktifkan notifikasi saat belajar, membuat jadwal belajar yang realistis, atau menerapkan waktu fokus selama 30–45 menit dapat membantu mengurangi distraksi. Cara-cara sederhana ini sering kali lebih efektif dibanding memaksakan diri belajar selama berjam-jam tanpa konsentrasi.
Kampus juga dapat mengambil peran dengan memberikan edukasi mengenai manajemen waktu dan penggunaan teknologi secara sehat. Di era digital, kemampuan menjaga fokus sama pentingnya dengan kemampuan menguasai materi perkuliahan.
Menjadi mahasiswa pada masa sekarang memang memiliki tantangan yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Informasi tersedia dalam hitungan detik, tetapi perhatian menjadi semakin mahal. Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya perlu belajar menguasai teknologi, tetapi juga belajar mengendalikan teknologi agar tidak menguasai dirinya.
Pada akhirnya, keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh seberapa lama mereka belajar, tetapi juga seberapa baik mereka mampu menjaga fokus di tengah derasnya arus distraksi digital. Di era yang penuh gangguan seperti sekarang, kemampuan untuk tetap fokus bisa menjadi salah satu keunggulan yang membedakan seseorang dari yang lain.
