Exemplary Leadership, Kepemimpinan dengan Keteladanan

ASN Kemenpora yang juga seorang adventurir. Menyukai kegiatan luar ruang, hiking, beladiri dan olahraga, terutama Aikido, jogging dan memanah. Alumnus program pascasarjana UI konsentrasi Kajian Stratejik Pengembangan Kepemimpinan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Akbar Mia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seri The Art of Leadership
Hampir semua ahli menyepakati bahwa pada dasarnya kepemimpinan bukanlah mengenai kepribadian, terlebih lagi jabatan. Kepemimpinan adalah perilaku, keterampilan dan keahlian yang dapat diamati dan dikembangkan. Karena kepemimpinan terkait sangat erat dengan pengaruh, maka kepemimpinan adalah juga suatu hubungan antara pemimpin dan pengikut, antara atasan dan bawahan. Seorang pemimpin harus mampu menguasai serba-serbi suatu hubungan. Pemimpin harus mempelajari bagaimana menggerakkan pengikutnya untuk berjuang mencapai suatu tujuan atau sasaran.
Menurut Posner, kepemimpinan tidak mengenal ras, agama, etnis ataupun batas wilayah. Pemimpin ada dimana-mana, di berbagai tempat. Kepemimpinan teladan dapat ditemukan kemanapun mata memandang. Pada organisasi yang sangat baik, tiap personel didorong untuk memiliki keterampilan kepemimpinan. Mereka semua mempraktekkan langkah-langkah untuk mengembangkan keterampilan dan keahlian mereka, termasuk kemampuan kepemimpinannya. Hal mematahkan mitos bahwa kepemimpinan hanya dimiliki oleh mereka yang lahir dengan bakat untuk menjadi pemimpin.
Karena kepemimpinan bukan jabatan-lah, maka tidak diperlukan suatu pangkat atau tingkat pendidikan tertentu. Untuk menjadi pemimpin yang baik, hanya diperlukan pemahaman untuk memandu, memotiviasi, mendorong orang lain, dengan dukungan perangkat-perangkat visi, komunikasi, kejujuran, mau mendengarkan dan kesabaran.
Banyaknya nilai-nilai, sikap dan jenis kepemimpinan, membawa diskursus ilmu kepemimpinan kepada model kepemimpinan yang dapat dijadikan teladan. Keteladanan seorang pemimpin diangghap merupakan suatu hal yang sangat diperlukan agar organisasi atau perkumpulannya dapat berjalan dinamis dalam upayanya mewujudkan sasaran.
Keteladanan seorang pemimpin menjadi sangat penting karena keteladanan tersebut akan menjadi penyemangat dan inspirasi bagi para pengikutnya. Menurut Hadiyanto, Direktur Jenderal Kekayaan Negara pertama (2006-2015), Kementerian Keuangan RI, keteladanan seharusnya merupakan hal yang mudah. Namun diperlukan komitmen yang kuat untuk memberikan contoh. Agar keteladanan tersebut mudah untuk ditiru dan kuat menginspirasi, sebaiknya nilai-nilai keteladanan yang dipraktekkan sang pemimpin bersifat implementatif dan mudah dipahami.
Kepemimpinan teladan terjadi ketika sang pemimpin lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dengan merasa didengar, para pengikut menaruh kepercayaan kepada pemimpinnya. Menurut Kouzes dan Posner, terdapat lima praktek Kepemimpinan Teladan, yaitu:
1. Model the way (Menjadi contoh)
Praktek ini dicirikan dengan pemimpin yang menetapkan aturan bagaimana memperlakukan orang-orang (pemangku kepentingan, kolega, kawan, pelanggan) dan cara untuk mewujudkan tujuan. Pemimpin menetapkan standar mutu tertinggi dan menunjukkan contoh bagi para pengikutnya. Dalam upaya mencapai tujuan dan mewujudkan sasaran, pemimpin juga menaruh tanda-tanda untuk diikuti pengikut agar tidak kehilangan arah saat proses mencapai tujuan.
Pemimpin teladan menyadari bahwa untuk dapat mencapai standar tertinggi dan komitmen dari para pengikut, mereka harus menjadi model bagi para pengikutnya, sesuai dengan yang diharapkan. Pemimpin dan pengikut bersama bahu membahu dengan pemangku kepentingan lainnya, bertanya saat diperlukan, dan mengisi waktu dengan berinteraksi satu sama lain. Pada saat birokrasi menghalangi gerak, pemimpin bahkan bisa saja mengesampingkannya. Dari waktu ke waktu mungkin juga diperlukan adanya pencapaian-pencapaian kecil untuk membangun momentum.
2. Inspire a Shared Vision (Menginspirasi visi bersama)
Menjadi seorang pemimpin berarti memiliki visi masa depan yang jelas, yang menjadi pendorong pencapaian tujuan dan mewujudkan sasaran. Dengan pengaruh yang dimiliki, pemimpin membagikan visi tersebut kepada para pengikutnya, hingga mereka semua memiliki gambaran yang sama mengenai masa depan yang mereka tuju.
Sebelum membagikan visi masa depan tersebut, sang pemimpin teladan telah lebih dahulu menjalani mimpi yang akan diwujudkan tersebut. Sang pemimpin memvisualisasikan mimpi tersebut dengan bahasa yang sedemikian menggugah sehingga para pengikut bahkan bisa benar-benar membayangkan kemungkinan-kemungkinan masa depan yang akan mereka hadapi.
3. Challenge the Process (Menantang proses)
Pemimpin tidak diam menghadapi status quo. Mereka senantiasa mencari cara untuk terus memperbaiki dan mengembangkan diri, pengikut dan organisasi. Dalam melakukannya, pemimpin berusaha dengan menggunakan cara-cara yang inovatif, bereksperimen dan mengambil resiko yang terukur. Mereka memandang resiko sebagai sebuah keniscayaan yang harus dihadapi, bahkan dialami, untuk mencapai suatu peningkatan. Temasuk juga ketika birokrasi harus dikesampingkan sementara.
Proses dialektika mempertanyakan, menantang dan mencari ide-ide baru terus dijalankan oleh pemimpin teladan. Para pemimpin memandang bahwa bereksperimen, menghadapi kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut, adalah bagian integral dari menghadapi status quo. Dengan demikian pandangan ini mendorong timbulnya ide-ide yang baru dan segar bagi perkembangan organisasi.
4. Enable others to act (Memberdayakan orang lain)
Dalam memberdayakan para pengikutnya, pemimpin teladan mendorong adanya kolaborasi, membangun kepercayaan diri dan terlibat secara langsung. Dengan menciptakan suasana saling percaya dan menguatkan kepercayaan diri pengikutnya, pemimpin membangun tim yang memiliki semangat, dan setiap orang merasa memiliki kemampuan dan kekuatan untuk berdaya.
Dalam memberdayakan pengikutnya, pemimpin menggunakan berbagai cara seperti mengembangkan kemampuan pengikut atau anggota timnya melalui pendidikan dan pelatihan, pendelegasian tugas dan informasi, termasuk juga kecemasan, hingga tingkat tertentu, sehingga para pengikutnya merasakan kebersamaan sang pemimpin di tengah-tengah mereka.
5. Encourage the heart (Menyebarkan semangat)
Perjalanan mencapai sasaran dan mewujudkan tujuan adalah perjalanan yang panjang, dan seringkali terjal dan berliku. Ujian yang datang menyapa, kadang membuat hati menjadi lelah dan tergoda untuk menyerah. Pemimpin teladan menguatkn semangat dan tekad agar kembali mata kembali menatap ke depan dan kaki kembali menapaki jalan panjang menuju masa depan yang menunggu. Adalah tugas pemimpin teladan untuk menjaga harapan dan tekad untuk senantiasa membara. Dalam perjalan panjang tersebut, pemimpin teladan memberikan semangat dan dorongan dengan memberikan apresiasi atas pencapai-pencapaian yang diraih para pengikut. Dari waktu ke waktu, untuk menjaga semangat, pencapaian yang berhasil dilakukan perlu dirayakan. Tindakan ini dapat menjadikan pengikutnya merasa dihargai atau bahkan bagaikan pahlawan, yang pada gilirannya dapat menjadi pendorong dan penambah semangat untuk terus menjalani proses panjang mencapai sasaran dan mewujudkan tujuan.
Pemimpin teladan bukanlah suatu hal yang ada dalam mimpi atau angan-angan. Mereka hidup dan hadir ditengah kita, bahkan bisa jadi dalam sosok-sosok sederhana yang tidak dikenal. Karena pada hakikatnya, setiap kita adalah pemimpin, maka setiap kita dapat menjadi sosok yang mempraktekkan kepemimpinan keteladanan. Diantara cara kita bisa menjadi pemimpin teladan, yaitu dengan (i) menjadi role model atau contoh, (ii) menjadi pemimpin, bukan sekadar pimpinan, (iv) bersikap proaktif, (v) memiliki visi yang jelas, (vi) menjalin hubungan yang saling mendukung atau menguntungkan dan (vii) memberikan apresiasi terhadap pencapaian, sekaligus bersedia mengakui kesalahannya sendiri.
Allahu a'lam bishshawab
