Konten dari Pengguna

Kita & Valentine

Rumail Abbas

Rumail Abbas

Hadir dalam kata yang tidak akan kamu temukan dalam kamus mana pun

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rumail Abbas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hari valentine di Arab Saudi. Foto: AFP/STR
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hari valentine di Arab Saudi. Foto: AFP/STR

Kita (warga NU konservatif) pernah "bersitegang" dengan Muhammadiyah karena mendukung praktik islamisasi budaya seperti tahlilan, nyekar, dan bakar menyan, karena di mata warga puritan-modern hal itu merupakan kesyirikan.

Syirik adalah dosa tertinggi dalam Islam, yang berarti tiada hukuman selain keabadian siksa di neraka.

Intelektual NU memiliki celah permisif terhadap praktik-praktik itu sehingga muncul upaya menyisipkan dimensi syariat agar tradisi yang dilakukan warga tradisional tersebut memiliki landasan hukum yang legitimatis (baca: halal di mata Allah, dan bahkan sunnah).

Tapi sebagian orang NU banyak yang tidak permisif dengan coklat, ucapan Natal, hingga "Selamat Hari Valentine", dan menutup segala "pintu tafsir" untuk perkara-perkara sejenis ini.

Baru sedikit saja mengurai tentang sejarah Natal menurut versi Kristen & Katolik, atau mitologi Valentin dari penelitian otoritatif, orang-orang macam saya langsung dicap aneh-aneh & diinsinuasi menggerogoti iman orang Islam dari dalam, agen zionis, dapat duit dari Yahudi, dan macam-macam.

Padahal, yang membuat orang² Barat begitu membenci Islam dan semerbaknya Islamophobia di belahan bumi Eropa (ladang dakwah, sebenarnya) adalah watak ekstrimis ultra-konservatif.

Dan negara-negara Padang Pasir baru menyadarinya satu dekade terakhir berkat kebengisan Taliban, Al-Qaida, dan ISIS.

Kadang saya berpikir, apakah perlu Indonesia memiliki "musuh bersama" terlebih dahulu, porak-poranda terlebih dahulu, dan menyesal terlebih dahulu untuk menyadari ada yang salah di dalam tubuh umat Islam?!

Walhasil, kenapa saya meloncat sampai ke ISIS?

Karena orang-orang bengis macam mereka itu menyusup lewat ideologi-ideologi kesalehan di dalam kepala-kepala orang yang mencari agama sebagai "balsem" untuk mengurangi rasa sakit & pegal dalam menjalani hidup yang berat.

Saudi ternyata sudah sampai begini.

kumparan post embed