Dinamika Konservasi Biodiversitas di Taman Nasional Danau Sentarum

- Peneliti Ahli Muda Bidang Iktiologi di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Cibinong - Mahasiswa Doktoral di Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Peraian, IPB University
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Rusdianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) merupakan salah satu pusat biodiversitas Indonesia yang bernilai tinggi karena menjadi habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna endemik dan asli (native) Indonesia. Namun, keberadaan ekosistem yang unik ini tidak lepas dari berbagai tekanan antropogenik seperti deforestasi, alih fungsi lahan, hingga ancaman kebakaran hutan. Berbagai ancaman tersebut tentu saja akan berdampak kepada kerusakan habitat, penurunan kualitas ekosistem, hingga memicu terjadinya penurunan populasi spesies tertentu hingga menuju ke arah kepunahan. Sebagai salah satu upaya mitigasi, diperlukan model konservasi partisipatif dengan melibatkan peran aktif masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Implementasi konservasi di TNDS memerlukan pendekatan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal. Dengan demikian, pengelolaan berbasis ekosistem diharapkan dapat mendukung keberlanjutan biodiversitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan TNDS.
A. Danau Sentarum sebagai Pusat Biodiversitas Indonesia
Taman Nasional Danau Sentarum terletak di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, merupakan salah satu kawasan lahan basah (wetland) yang kaya dan unik di Indonesia. Tipe ekosistem TNDS didominasi oleh tipe hutan rawa banjiran yang kompleks dan dinamis karena kondisinya sangat dipengaruhi oleh pasang surut Sungai Kapuas. Selain itu, kawasan ini telah diakui secara internasional sebagai Situs Ramsar sejak tahun 1994 yang menegaskan posisi strategis secara ekologis dan kontribusinya dalam menjaga keseimbangan lingkungan global. Selain itu, Danau Sentarum juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang mendukung keseimbangan hidrologi khususnya di sekitar Sungai Kapuas. TNDS berperan dalam menyediakan fungsi ekologis dan hidrologis seperti penyimpanan air, pengendalian banjir, serta penyaringan air, dan juga habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna terrestrial yang khas dan endemik yang bernilai tinggi baik secara ekologi maupun ekonomi.
Biodiversitas di TNDS merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia dan tidak ternilai harganya. Danau Sentarum menjadi habitat bagi lebih dari 240 spesies ikan termasuk beberapa spesies endemik dan ikonik seperti Arwana Kalimantan (Scleropages formosus) maupun Belida (Chitala spp.), yang bernilai ekonomis tinggi dan menjadi kebanggaan lokal (Kottelat & Widjanarti, 2005; Rekapermana, 2019). Selain itu, hutan rawa gambut di sekitar kawasan ini juga menjadi habitat bagi satwa terestrial kunci seperti Orangutan Kalimantan Barat (Pongo pygmaeus) yang saat ini dinyatakan berstatus Kritis (CR) berdasarkan penilaian IUCN Red List, Bekantan (Nasalis larvatus), hingga Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) yang sangat bergantung pada kondisi ekosistem hutan rawa ini. Keberadaan spesies-spesies tersebut menegaskan tentang bukti kekayaan biodiversitas Indonesia sekaligus menjadi dasar argumen yang kuat tentang pentingnya upaya konservasi dilakukan di kawasan TNDS.
Seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan manusia terhadap ruang dan sumber daya alam, TNDS menghadapi tekanan antropogenik yang semakin signifikan. Lebih dari 12.000 jiwa penduduk telah bermukim di sekitar kawasan TNDS sejak ratusan tahun yang lalu, dan sekitar 80% diantaranya adalah suku Melayu yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Mereka hidup secara berkelompok membentuk kampung-kampung nelayan. Kehidupan sehari-hari mereka sangat tergantung kepada kelestarian jenis dan populasi ikan di Danau Sentarum. Dalam pengelolaan TNDS masyarakat belum sadar penuh bahwa daya dukung kawasan Danau Sentarum dalam penyediaan sumberdaya ikan cenderung semakin menurun, terutama dalam jangka panjang. Kondisi tersebut memicu situasi yang kompleks, di satu sisi kawasan ini merupakan habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna endemik, serta menjadi tumpuan bagi kelangsungan hidup masyarakat sekitar. Namun di sisi lain, pemanfaatan oleh masyarakat sekitar kawasan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penurunan kualitas ekosistem yang sangat signifikan seperti alih fungsi lahan, perambahan hutan, hingga penangkapan ikan. Selain itu ancaman berupa kebakaran hutan yang terus meningkat setiap tahunnya menjadi salah satu masalah yang juga perlu segera ditangani. Kebakaran di kawasan lahan basah dapat menyebabkan kerusakan ekologis yang sulit dipulihkan, mengingat sifat ekosistem rawa gambut yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan strategi konservasi terpadu dan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara aspek perlindungan dan aspek pemanfaatan sumberdaya alam di TNDS. Pendekatan kolaboratif lintas sektor antara pemerintah, akademisi, lembaga konservasi, dan masyarakat setempat menjadi kunci untuk memastikan kelangsungan ekosistem di TNDS.
B. Studi Kasus Kebakaran di TNDS
Salah satu contoh kasus terbaru terkait masalah biodiversitas dan konservasi di TNDS adalah kebakaran hutan yang terjadi di kawasan TNDS pada Agustus hingga Oktober 2023. Kebakaran tersebut dipicu oleh kelalaian faktor manusia dan kondisi lahan gambut yang mudah terbakar saat musim kemarau. Data yang dirangkum dari Global Forest Watch (2023) dan laporan lapangan Yayasan Planet Indonesia (2023) menyebutkan bahwa kebakarandi TNDS telah terjadi pada lebih dari 5.000 hektar lahan, terutama lahan gambut yang kering. Kebakaran ini telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan memicu terjadinya gangguan keseimbangan ekosistem pada berbagai tingkatan. Tentu saja akan diperlukan waktu yang sangat lama untuk memulihkan kondisi seperti sedia kala.
Salah satu dampak kebakaran lahan di TNDS adalah perubahan drastis pada kualitas lingkungan perairan. Proses kebakaran hutan menghasilkan abu yang akan masuk ke lingkungan perairan dan memicu fisika, kimia, dan biologi perairan secara keseluruhan seperti meningkatnya kekeruhan air, menurunkan pH, mengurangi kadar oksigen terlarut, termasuk memicu terjadinya fragmentasi habitat. Perubahan ini menyebakan terganggunya siklus hidup fitoplankton yang merupakan tingkatan trofik pertama rantai makanan di ekosistem perairan. Kondisi lingkungan peraian yang telah rusak pada akhirnya akan menyebabkan penurunan populasi ikan secara keseluruhan. Penelitian sebelumnya oleh Haryono et al. (2019) menunjukkan bahwa perubahan kualitas air akibat kebakaran dapat berdampak jangka panjang terhadap produktivitas perikanan di kawasan tersebut. Konservasi ekosistem perairan menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan fungsi ekologis dan ekonomi yang bergantung pada sumber daya air.
Pada tingkat spesies, dampak kebakaran terlihat jelas pada ikan dan satwa terestrial. Spesies ikan-ikan kecil yang bergantung pada plankton sebagai sumber makanan utama mengalami tekanan akibat perubahan kualitas air. Hal ini juga akan mempengaruhi populasi spesies yang berada pada tingkatan trofik diatasnya dalam rantai makanan sehingga memicu ketidakseimbangan ekosistem yang lebih luas. Di sisi lain satwa terestrial menghadapi tantangan berupa hilangnya habitat dan sumber pakan. Laporan masyarakat kepada Balai TNDS mencatat terdapat peningkatan konflik antara manusia dan satwa pasca-kebakaran, di mana kawanan monyet dan babi hutan masuk ke pemukiman untuk mencari makanan. Salah satu dampak paling serius adalah hilangnya tegakan pohon pakan Bekantan yang merupakan primata endemik Kalimantan. Prinsip konservasi yang menekankan perlindungan spesies endemik menjadi semakin penting untuk mencegah kepunahan spesies ini.
Secara keseluruhan, kebakaran di TNDS mencajadi contoh nyata tentang bagaimana gangguan terhadap ekosistem akibat kebakaran dapat memicu efek domino yang mengarah kepada penurunan biodiversitas pada berbagai level trofik. Prinsip konservasi yang berlandaskan pada pelestarian ekosistem, perlindungan spesies, dan keseimbangan alam harus menjadi pedoman utama dalam upaya mitigasi dan rehabilitasi kawasan pasca-kebakaran. Dengan pendekatan berbasis data kuantitatif dan kolaborasi antar-pemangku kepentingan, seperti yang dilakukan oleh Yayasan Planet Indonesia dan Balai TNDS, diharapkan langkah-langkah strategis dapat segera diterapkan untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan serta menjaga keberlanjutan biodiversitas untuk generasi yang akan datang.
C. Aksi Konservasi Kolaboratif di Danau Sentarum: Sintesis dan Rekomendasi
Danau Sentarum yang merupakan simbol kekayaan biodiversitas Indonesia menghadapi dinamika kompleks antara pemanfaatan dan konservasinya. Ancaman degradasi lingkungan terus meningkat akibat kebakaran hutan dan tekanan ekonomi yang memaksa eksploitasi sumber daya alam. Upaya pemulihan lingkungan melalui pendekatan partisipatif merupakan salah satu alternatif Solusi yang efektif dalam menekan laju berbagai tekanan antropogenik. Studi kasus tentang permasalahan kebakaran hutan dapat dipulihkan salah satunya dengan cara pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Oleh karena itu, langkah masa depan harus bertumpu pada penguatan model konservasi kolaboratif yang melibatkan pemangku kepentingan, akademisi, dan partisipasi aktif dari dari masyarakat lokal.
Beberapa rekomendasi strategis perlu segera diterapkan untuk memastikan keberlanjutan konservasi di kawasan ini. Pertama, program ekowisata berbasis masyarakat yang telah berhasil di beberapa desa perlu diperkuat dan direplikasi ke lebih banyak wilayah di zona penyangga TNDS. Ekowisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal tetapi juga mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Kedua, kapasitas dan peralatan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) harus ditingkatkan untuk mendukung upaya pencegahan serta pemadaman dini saat terjadi kebakaran hutan. Sebagai pihak yang paling memahami kondisi lapangan dan sering kali menjadi responden pertama di lokasi kebakaran, MMP memegang peran kunci dalam mitigasi bencana ekologis ini. Ketiga, diperlukan peraturan daerah (Perda) yang mendukung inisiatif ekonomi hijau serta memberikan insentif bagi desa-desa yang berhasil menjaga kelestarian kawasan mereka. Dengan kebijakan yang mendukung, masyarakat akan lebih terdorong untuk mengintegrasikan nilai-nilai konservasi ke dalam kehidupan sehari-hari.
Terdapat tiga prinsip utama dalam konservasi yang perlu selalu diterapkan, yaitu perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Perlindungan ditujukan terutama untuk spesies dengan kategori terancam, memiliki distribusi terbastas (endemik), asli (native), populasi di alam terus menurun, serta memiliki laju reproduksi dan pertumbuhan yang lambat. Pemanfaatan sumberdaya ikan juga harus menerapakan prinsip “berkelanjutan” dengan mempertimbangkan carrying capacity nya di alam agar jumlah yang diambil dari alam tidak melebihi kapasitas. Pelestarian ditujukan untuk meningkatkan fungsi dan peran spesies maupun eksosistem yang dapat dilakukan secara in situ maupun ex situ. Pelestarian juga perlu dilakukan terhadap kawasan konservasi yang menjadi daya dukung dan menyediakan komponen ekologis bagi kelangsunga hidup sumberdaya ikan. Penetapan status perlindungan jenis maupun kawasan merupakan salah satu upaya dalam rangka implementasi program konservasi. Dengan ditetapkannya status perlindungan suatu jenis atau kawasan diharapkan dapat memberikan batasan yang jelas dalam rangka pemanfaatan dan berbagai ancaman. Selain itu, konservasi juga memiliki tujuan untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem dan peran ekologis dari sumberdaya ikan.
Keberhasilan konservasi di lanskap yang dihuni masyarakat sangat bergantung pada pengakuan terhadap kesadaran, pengakuan, pengetahuan lokal, dan sistem nilai tradisional. Masa depan biodiversitas Danau Sentarum tidak hanya berada di tangan pemerintah atau lembaga non-pemerintah, tetapi juga terletak pada kemitraan setara dengan masyarakat lokal sebagai penjaga hutan. Dengan membangun kolaborasi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan, Danau Sentarum dapat menjadi model keberhasilan konservasi partisipatif di Indonesia dan dunia.
Referensi
Giesen, W. 2000. Flora and vegetation of Danau Sentarum: Unique lake and swamp forest ecosystem of West Kalimantan.
Kottelat, Maurice & Widjanarti, Enis. (2005). The fishes of Danau Sentarum National Park and the Kapuas Lakes Area, Kalimantan Barat, Indonesia. The Raffles bulletin of zoology. Supplement 13. 139-173.
Rekapermana. 2019. Ikan Air Tawar Danau Sentarum. Kalimantan Barat: Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, 63pp
Taman Nasional Danau Sentarum (2025). https://tndanausentarum.org/. diakses 10 Oktober 2025
World Resources Institute. (2023). Global Forest Watch [Interactive online map]. Diakses pada 10 Oktober 2023, dari https://www.globalforestwatch.org
Yayasan Planet Indonesia. (2023). Laporan dampak kebakaran 2023 dan upaya konservasi masyarakat di Taman Nasional Danau Sentarum. Pontianak, Indonesia: Yayasan Planet Indonesia.
