Puasa di Era Digital: Mampukah Kita Berpuasa dari Notifikasi?

Alumni Mahasiswa UIN Alauddin Makassar.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muh Ruslim Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di zaman ketika layar lebih sering kita tatap daripada wajah sesama, puasa tidak lagi sekadar menahan lapar dan dahaga. Kita hidup di era notifikasi, bunyi pesan masuk, update media sosial, email kantor, hingga video pendek yang tak ada habisnya. Dalam kondisi seperti ini, muncul satu pertanyaan penting: mampukah kita benar-benar berpuasa dari notifikasi?
Ramadhan selama ini dipahami sebagai bulan pengendalian diri. Kita menahan yang halal demi melatih diri menjauhi yang haram. Namun di era digital, tantangannya bertambah. Jempol terasa gatal ingin menyentuh ponsel, mata sulit berhenti menggulir layar, dan hati sering kali terpancing oleh komentar dan perdebatan tak perlu di dunia maya. Tanpa sadar, energi spiritual yang seharusnya kita jaga selama menjalankan kegiatan berpuasa justru terkuras oleh distraksi digital.
Satu notifikasi mungkin terlihat sepele. Namun bayangkan jika dalam sehari kita menerima puluhan bahkan ratusan notifikasi. Setiap bunyi dan getaran itu tentu akan memecah fokus, memancing rasa penasaran, dan sering kali menggeser niat awal kita. Saat sedang membaca Al-Qur’an, tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk. Saat berdzikir, notifikasi media sosial mengalihkan perhatian dan memunculkan rasa penasaran jika tidak dilihat. Akhirnya, ibadah menjadi sekadar aktivitas fisik tanpa kekhusyukan.
Puasa sejatinya adalah latihan kesadaran. Ia mengajak kita hadir sepenuhnya dalam setiap detik, merasakan lapar sebagai pengingat, dan menyadari betapa lemahnya manusia tanpa pertolongan Allah. Namun notifikasi yang terus berdatangan membuat pikiran kita sering kali tidak fokus. Kita hadir secara fisik, tetapi pikiran melayang pada dunia digital.
Makanan dan minuman itu halal, tetapi kita diminta menahannya di siang hari saat berada di bulan Ramadhan. Lalu bagaimana dengan konten yang melalaikan? Bergosip di kolom komentar, pamer kehidupan, atau menghabiskan waktu berjam-jam scrolling tanpa tujuan, semuanya mungkin tidak terlihat besar, tetapi bisa menggerus suasana hati.
Puasa di era digital berarti memperluas makna “menahan diri”. Bukan hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga menahan jempol dan jari jemari. Bukan hanya menjaga lisan dari berkata buruk, tetapi juga menjaga komentar dan konten yang diunggah. Sebab di dunia maya, jejak digital bisa menjadi saksi atas apa yang kita kerjakan.
Mungkin inilah saatnya kita menjadikan Ramadhan sebagai momentum digital detox. Bukan berarti anti-teknologi, tetapi menggunakannya secara sadar. Sebab, ketika kita mampu mengendalikan penggunaan gawai, kita sedang melatih kepemimpinan diri. Dan inti dari puasa adalah pengendalian diri itu sendiri.
Ramadhan mengajarkan kita untuk kembali pada keheningan. Dalam sunyi sahur, dalam heningnya doa sebelum berbuka, ada ruang refleksi yang jarang kita temui di luar bulan ini. Namun keheningan itu sulit tercipta jika notifikasi terus berbunyi tanpa bisa kita kendalikan. Alhasil, ruang refleksi akan kembali menjadi ruang di mana pikiran akan kembali tertuju ke ponsel kita.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi “mampukah kita hidup tanpa ponsel?”, tetapi “mampukah kita mengendalikan ponsel agar tidak mengendalikan kita?”. Sebab pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan adalah bagaimana kita memanfaatkannya.
Puasa di era digital adalah tentang memilih fokus dari dunia maya. Memilih hadir. Memilih tenang. Dan mungkin, dengan mematikan beberapa notifikasi, kita justru menyalakan kembali cahaya kesadaran dalam diri dalam ruang refleksi.
Ramadhan bukan hanya tentang menahan haus dan lapar saja, tetapi tentang kebisingan yang berhasil diredam di hati dan pikiran kita, untuk menciptakan ketenangan di ruang refleksi dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt.
