Konten dari Pengguna

Denting Bisikan Sosial

Puput Rusmawati

Puput Rusmawati

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Riau

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Puput Rusmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan pusing. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan pusing. Foto: Shutterstock

Terdapat denting yang tak terdengar tetapi bergaung di kepala banyak orang dewasa hari ini, bak alarm alami kehidupan. Tidak berbunyi keras seperti sirene, tetapi lirih seperti bisikan: usia segini harus sudah sukses, usia segini harus menikah, usia segini harus punya anak.

Bisikan itu di anggap wajar karena diulang terus-menerus di meja keluarga, linimasa media sosial, hingga obrolan kantor. Padahal, dibalik kewajaran yang diproduksi bersama, tersembunyi tekanan sosial yang membentuk kecemasan kolektif.

Bagaimana Sosiologi Melihatnya?

Ternyata! Sosiologi telah lama menjelaskan bagaimana “keharusan” yang lahir bukan dari alam, melainkan dari konstruksi sosial. Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menyebutnya sebagai proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi, di mana manusia menciptakan aturan, aturan itu tampak objektif, lalu manusia menelannya kembali sebagai kebenaran (Berger & Luckmann, 1966). Batas umur sukses, menikah dan memiliki anak adalah produk proses tersebut. Tahukah kamu kalau itu bukanlah hukum biologis! melainkan norma sosial yang dibakukan.

Lalu Masalahnya di Mana?

Masalah muncul ketika norma berubah menjadi tolak ukur tunggal sebuah nilai diri. Emile Durkheim mengingatkan tentang fakta sosial atau cara bertindak, berpikir dan merasa yang berada di luar individu dan memaksa (Durkheim, 1895). Ketika usia menjadi standar pemaksa, individu yang “terlambat” akan merasa menyimpang. Rasa bersalah, malu dan cemas bukan karena kegagalan objektif, melainkan karena gagal memenuhi ekspektasi kolektif. Mengerikan.

Parahnya, tekanan ini bisa semakin menguat di era digital. Media sosial menghadirkan panggung perbandingan tanpa jeda. Keberhasilan ditampilkan dalam potongan terbaiknya seperti gelar, pernikahan, anak, dan rumah mewah. Erving Goffman menyebutnya

presentation of self. kita menata kesan di panggung depan dan menyembunyikan kerumitan di balik layar. Namun, algoritma memperkeras ilusi di mana yang tampil dianggap normal, dan yang sunyi dianggap salah jalan.

Jika kita melihat dari perspektif konflik, standar usia juga menyimpan ketimpangan. Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa modal ekonomi, sosial dan kultural menentukan peluang hidup. Tidak semua orang memulai dari garis start yang sama. Menuntut “sukses di usia tertentu” tanpa membaca struktur adalah ketidakadilan simbolik. Itu mengaburkan peran kelas, akses pendidikan, jaringan dan kondisi kerja yang kian precarious.

Lantas, Apa yang Bisa Dilakukan?

Pertama, kita perlu rekonstruksi narasi sosial dengan menggeser bahasa dari usia ideal ke lintasan hidup beragam. Bahasa itu membentuk realitas, mengubah diksi yang berarti akan membuka kemungkinan baru. Lalu institusi keluarga, pendidikan dan tempat kerja harus berhenti menjadikan usia sebagai satu-satunya indikator kematangan atau pencapaian tertentu. Kebijakan karier, beasiswa dan pengakuan sosial perlu lebih fleksibel terhadap jeda, peralihan dan keterlambatan yang manusiawi.

Ketiga, literasi sosiologis perlu dibumikan. Masyarakat perlu memahami bahwa norma adalah konstruksi yang bisa memberi jarak kritis, di mana kita bisa menilai dan melihat dari segala arah, berpikir abu-abu dan bukan sekadar patuh. Jika di tingkat individu, praktik refleksi dan solidaritas adalah kunci. Mengganti pertanyaan “kapan?” dengan “bagaimana kondisimu?” adalah tindakan kecil yang memanusiakan manusia. Dukungan sosial yang empatik terbukti melindungi kesehatan mental dari tekanan normatif yang ada saat ini.

Harapan akhirnya, denting bisikan sosial tak harus dibungkam tetapi disetel ulang. Norma diperlukan agar hidup bersama lebih teratur tetapi tak boleh menjadi palu yang meremukkan keragaman jalan hidup manusia. Sukses, menikah dan memiliki anak adalah pilihan bermakna, bukan tenggat moral. Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang memberi ruang waktu bagi yang lainnya untuk bertumbuh tanpa mengukur nilai hidup dengan jam pasir yang sama.