Konten dari Pengguna

Mengurai Tabola-Bale: Nada, Identitas, dan Perjalanan Budaya Pop NTT

Rusydan Fauzi Fuadi

Rusydan Fauzi Fuadi

Jurnalis dan Penulis Lepas. Mahasiswa Studi Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Fokus Studi Kajian Budaya dan Sosial Humaniora.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rusydan Fauzi Fuadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang-orang berdansa. (Foto: Adrian Lumi/Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang-orang berdansa. (Foto: Adrian Lumi/Unsplash)

Ada kalanya, sebuah lagu bukan sekadar rangkaian melodi dan lirik, melainkan sebuah peta jalan yang tersembunyi. Peta jalan yang mempertemukan dua titik ekstrem Indonesia, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal dengan budaya bahari yang memikat, dan Ranah Minang yang melegenda dengan adat dan tradisi merantau yang kuat.

Perjumpaan ini kemudian terangkum dalam sebuah tembang riang bertajuk Tabola-Bale.

Lagu yang dibawakan oleh Silet Open Up bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel ini meledak di media sosial, bukan hanya karena iramanya yang catchy dan memicu joget massal (termasuk di panggung perayaan kemerdekaan), tapi juga karena ia berhasil merayakan sebuah harapan, emosi, dan akulturasi yang jujur dan terbuka.

Nada yang merindu, irama yang merelakan

Lagu ini bercerita tentang seorang pria (narator "Kaka") yang terpesona pada "Ade Nona" (adik perempuan/gadis, bernama Maimuna), teman masa kecil yang kini pulang dari perantauan dengan penampilan yang memesona.

Ade-Nona ini dulunya hanya gadis kecil berambut kepang dua, kini kembali dengan gaya yang lebih modern dan memesona ("Su bale Jawa, tambah bening aja la,"). Kekaguman yang jujur dan kadang kocak ini adalah inti dari lagu tersebut:

“Kaka tabola bale lia ade nona e...

Ade bikin kaka mete, tidur malam bola bale…”

Namun, titik krusial yang membuatnya menjadi fenomena nasional ada pada bagian chorus yang tetiba melompat ke Ranah Minang yang dilantunkan dengan syahdu oleh Diva Aurel:

“Ondeh uda, jan lah baitu bana... Dek hanyo takuik mancaliak uda, acok mabuak-mabuakan.

Dulu denai lah suko mancaliak Uda bakawan. Raso-raso ko ado, tapi denai diamkan.”

Chorus ini menggambarkan keraguan dan ketakutan seorang wanita yang sebenarnya sudah punya perasaan cinta pada "Kaka" (pria), tapi memilih diam karena takut hubungan itu berakhir kandas. Ini seperti "Aku suka, tapi aku takut terluka, jadi aku pura-pura cuek."

Di titik ini saya rasa Tabola-Bale bukan sekadar judul, tapi metafora utama untuk bagaimana cinta bisa "mengacaukan" hidup seseorang secara positif (semangat baru) sekaligus negatif (gelisah malam hari).

Selain itu, saya kemudian mengulang-ulang lirik lagu di bagian ini, "Sumpah ni Ja'o Sodho Iwa Mbodho," yang mana lirik ini muncul di bagian rap 2 yang dinyanyikan oleh Juan Reza, sebagai puncak pengakuan cinta yang tulus dan dramatis.

Saya mencoba bertanya kepada om-om saya yang ada di Ende, dan ternyata benar, lirik itu diambil dari bahasa Ende yang digunakan oleh masyarakat suku Lio di wilayah Ende.

Jadi, "Ja’o sodho, iwa mbo'do" secara harfiah berarti "Apa yang saya katakan, bukan bohong" atau "Aku bilang, tanpa dusta". Ini adalah ungkapan sumpah yang menegaskan kejujuran.

Kata-kata ini sering digunakan dalam adat Ende untuk janji pernikahan atau pengakuan cinta yang serius.

Dalam bahasa Ende, frasa ini kurang lebih seperti, "I swear, I'm telling the truth..."

Silet Open Up, sebagai penyanyi asal Ngada sengaja memasukkan elemen ini untuk menonjolkan akar budaya Indonesia Timur.

Irama yang menyatukan dua arah angin

Lagu Tabola-Bale meledak di media sosial sebagai lagu pop bernuansa timur, tapi siapa sangka salah satu penyanyinya justru berdarah Minang. Sekilas ini mungkin hanya kebetulan. Namun kalau ditarik benang sejarahnya, kisah ini terasa nyambung.

Kita tahu bahwa orang Minangkabau sejak lama dikenal sebagai kaum perantau, sementara NTT, khususnya wilayah Manggarai dikenal dengan keramahtamahan dan keterbukaannya terhadap pengaruh luar.

Jadi, sekira abad ke-17 M leluhur Wae Rebo Empo Maro berlayar dari Minangkabau menuju Makassar untuk menghindari konflik dengan penjajah.

Empo Maro kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Komodo hingga akhirnya menginjakkan kaki di daerah pegunungan yang kini dikenal sebagai Kampung Wae Rebo.

Kisah perjalanan panjang ini kemudian memberi makna simbolis bahwa pertemuan Minang dan Manggarai bukanlah hal baru.

Kiwari, pertemuan itu tidak lagi lewat pelayaran atau perdagangan, melainkan melalui nada yang menyatukan berbagai ras dan entis di tanah air, bahkan dunia.

Budaya pop: pertemuan baru di ruang digital

Dulu, budaya hanya bertemu di pelabuhan dan pasar. Kini, mereka bertemu di YouTube, Spotify, dan TikTok. Lagu seperti Tabola-Bale adalah bukti bahwa identitas kultural kita tak lagi berhenti di batas peta. Ia bergerak, menyeberang, dan berbaur.

Di samping itu, irama pop yang dibalut bahasa lokal membuatnya terasa hangat sekaligus universal. Anak muda di Kupang bisa bersenandung, sementara anak rantau di Yogyakarta ikut menyanyikan tanpa tahu artinya, hanya karena nadanya “kena di hati.”

Inilah wajah budaya pop Indonesia masa kini: cair, lentur, dan terbuka bagi siapa pun yang ingin bercerita.

Lagu ini mengajarkan bahwa menjadi “modern” tidak selalu berarti melupakan akar, justru dari akar itu kita tumbuh dan berbunga di tempat lain.

Syahdan, Tabola-Bale bukan sekadar lagu pop, ia layaknya sebuah perjalanan. Dari gunung ke laut, dari Minang ke Manggarai, dari masa lalu ke masa kini. Sebuah kembara nada yang menyatukan kita dalam satu kata: pulang.[*]