Konten dari Pengguna

Zombi, Jamu, dan Kekacauan Nalar dalam Abadi Nan Jaya

Rusydan Fauzi Fuadi

Rusydan Fauzi Fuadi

Jurnalis dan Penulis Lepas. Mahasiswa Studi Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Fokus Studi Kajian Budaya dan Sosial Humaniora.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rusydan Fauzi Fuadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi zombie menyerang perkotaan. (Foto: Henrik L./Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi zombie menyerang perkotaan. (Foto: Henrik L./Unsplash)

Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis sebagai bentuk kritik terhadap karya sinema, bukan serangan terhadap individu atau lembaga mana pun.

Ketika mendengar judul Abadi Nan Jaya, pikiran saya langsung melayang pada kisah perjuangan, semangat nasionalisme-patriotik, dan darah yang tertumpah di medan laga demi kedaulatan bangsa. Judulnya gagah, seolah lahir dari ruang redaksi zaman revolusi.

Tapi apa yang saya dapat?

Zombi.

Dan semua bermula dari... jamu...

Ya, minuman herbal warisan leluhur yang biasanya menyehatkan, di film ini justru menjadi penyebab wabah zombi nasional. Seseorang menenggak jamu, lalu boom! Seketika berubah jadi makhluk setengah busuk tanpa nalar. Tanpa sebab, tanpa latar belakang ilmiah, bahkan tanpa logika sekecil biji lada.

Jamu, zombi, dan logika yang pincang

Bayangkan: tidak ada penjelasan bahwa jamu itu tercemar virus, tidak ada eksperimen gagal, tidak ada riset rahasia. Pokoknya, minum jamu sebotol kecil, lalu jadilah zombi. Selesai.

Kalau penyakit semudah itu muncul, para dokter mungkin bukan tutup buku lagi, tapi melempar buku ke layar film ini.

Film ini terasa seperti hasil campuran ide yang dituang ke blender tanpa takaran. Naskahnya seolah ditulis sambil demam dan dikejar tenggat: bingung mau jadi film perjuangan, film horor, atau film edukasi herbal?

Alhasil, yang tersaji hanyalah kebingungan dengan sinematografi apik tapi sayang, tanpa arah.

Dan di tengah semua absurditas itu, muncul pula “klarifikasi kreatif” dari tim pembuat film: bahwa inspirasi kisah zombi ini datang dari tanaman kantong semar, tanaman karnivora yang memerangkap serangga dalam cairan lengketnya.

Coba pikirkan lagi. Dari tumbuhan pemakan lalat, langsung lompat ke makhluk pemakan manusia.

Saya tak tahu apakah ini bentuk kreativitas, keberanian, atau kebingungan akut antara biologi dan fantasi. Kantong semar itu memang bisa mencerna serangga, tapi tidak pernah membuat mereka hidup lagi dalam bentuk zombi.

Kalau logika film ini diterapkan dalam sains, berarti setiap orang yang makan daging sapi bisa berubah jadi banteng hidup.

Kalimat “terinspirasi dari kantong semar” mungkin terdengar eksotis dalam wawancara media, tapi secara ilmiah dan naratif, itu tidak lebih dari upaya kosmetik untuk menutupi lubang logika yang menganga.

Seolah dengan menyebut satu nama tumbuhan unik, semua kekacauan cerita bisa dianggap “visioner”. Padahal, inspirasi tanpa logika hanyalah mimpi buruk yang dibungkus jargon estetis.

Kalau mereka benar-benar ingin membawa semangat kantong semar ke film, setidaknya tanamannya jangan cuma jadi pajangan metaforis, yaa setidaknya buatlah alasan yang jelas seperti virus yang diekstrak, eksperimen gagal, atau efek biokimia yang bisa diterima akal sehat.

Tapi tidak. Di film ini, kantong semar hanya jadi semacam tameng artistik untuk membenarkan hal yang tidak bisa dibenarkan.

Jadi kalau memang tanaman itu yang menginspirasi, mungkin yang dimakan kantong semar bukan serangga… tapi akal sehat para penulisnya.

Sutradara hebat, tapi kok begini?

Yang bikin heran, Abadi Nan Jaya bukan dibuat oleh sineas anyar. Ada nama-nama besar di baliknya: Kimo Stamboel, Agasyah Karim, Khalid Kashogi. Rumah produksinya: Mowin Pictures, bekerja sama dengan Netflix.

Jadi jelas: film ini bukan proyek asal-asalan.

Namun entah kenapa, hasil akhirnya justru terasa seperti eksperimen gagal. Tidak ada fokus, tidak ada narasi kuat, bahkan akting para pemain pun seperti tersesat di tengah naskah yang seolah-olah mereka sendiri tak pahami.

Ekspresi takut mereka lebih mirip kaget lihat kecoa di dapur ketimbang dikejar makhluk pemakan manusia.

Kalau saja film ini dibuat dengan sedikit keberanian untuk menjelaskan dunia ceritanya (atau dalam istilah film sering disebut world-building), mungkin hasilnya tak akan seaneh ini.

Tapi sayangnya, yang kita dapat hanya tumpukan adegan random dengan dialog selevel tugas teater sekolah.

Satire, parodi, atau sekadar salah konsep?

Ada kemungkinan bahwa film ini sengaja dibuat absurd, semacam satire terhadap masyarakat yang terlalu percaya pada “ramuan ajaib” atau solusi instan. Kalau benar begitu, sebenarnya keren.

Sayangnya, film ini tidak pernah memberi sinyal bahwa ia sedang menyindir. Tidak ada konteks, tidak ada ironi yang jelas. Akhirnya penonton hanya melihat kebodohan literal, bukan kritik sosial.

Gejala lama dunia film tanah air

Kegelisahan saya bukan sekadar karena film ini kureng, tapi karena Abadi Nan Jaya mencerminkan penyakit klasik dalam industri film Indonesia: takut memilih arah.

Kita sering punya ide besar, tapi tak punya kompas. Mau film perjuangan, tapi tergoda pasar horor. Mau film kritik sosial, tapi takut terlalu berat. Mau lucu, tapi nggak niat.

Alhasil, jadilah film yang mencoba memuaskan semua pihak, dan akhirnya gagal di semua sisi. Padahal yang dibutuhkan film Indonesia sekarang bukan cuma keberanian tampil beda, tapi keberanian untuk bilang: “Ide ini belum matang, jangan dulu syuting!”

Akal sehat, korban yang terlupakan

Kalau saya boleh jujur, bagian paling menyeramkan dari Abadi Nan Jaya bukan zombinya. Tapi kenyataan bahwa film seperti ini bisa lolos dari tahap produksi sampai tayang di platform global.

Itu artinya, bukan hanya penulis dan sutradara yang hilang logika, tapi juga sistem yang menyetujui ide itu dari awal.

Film ini akhirnya bukan tentang keabadian bangsa, tapi tentang kematian nalar. Dan sungguh ironis, judulnya Abadi Nan Jaya, tapi yang abadi justru kebingungan kita menontonnya.

Harapan untuk perfilman kita

Menonton Abadi Nan Jaya rasanya seperti menonton thriller yang tak tahu dirinya thriller. Ia mengandung potensi besar untuk jadi film yang kuat, tapi malah tenggelam dalam absurditas yang tak disengaja.

Saya tidak menyesal menontonnya, karena setidaknya, film ini memberi satu pelajaran penting:

“Bahwa tidak semua jamu menyehatkan, dan tidak semua ide layak 'diseduh'.”

Semoga ke depan, industri film kita tak lagi menyajikan tontonan yang memaksa logika penonton ikut mati.

Karena nasionalisme sejati bukan hanya mencintai tanah air, tapi juga menjaga akal sehat agar tetap hidup.[*]