Bahaya Besar bagi Peradaban, Ketika Buku Fisik Dihancurkan Perusahaan AI

Founder Penerbit Biografi Indonesia yang aktif menulis biografi tokoh-tokoh di Indonesia.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rochmad Widodo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah berita yang, bagi sebagian orang, mungkin hanya terasa sebagai kabar perkembangan teknologi. Namun bagi pecinta buku, pustakawan, sejarawan, dan siapa pun yang percaya bahwa peradaban dibangun oleh pengetahuan, berita itu terasa seperti bunyi alarm.
Sejumlah laporan investigasi mengungkap, bahwa ada praktik perusahaan AI yang membeli buku dalam jumlah besar, memotong jilidnya, memindai seluruh halaman untuk dijadikan data pelatihan model AI, lalu membuang sisa fisik buku tersebut. Dalam beberapa kasus, kekhawatiran juga muncul karena buku-buku yang diburu mencakup judul-judul langka atau yang sudah tidak dicetak lagi. Praktik ini memicu perdebatan etis yang luas, meskipun tidak semua laporan membuktikan bahwa buku-buku yang dimusnahkan selalu merupakan salinan yang sangat langka, (theguardian.com, 02/08/2026).
Secara hukum di beberapa yurisdiksi, praktik tersebut mungkin dinilai sah. Namun secara kebudayaan, persoalannya jauh lebih rumit. Karena sesungguhnya, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar selembar kertas. Tapi yang dipertaruhkan adalah siapa yang kelak menguasai ingatan peradaban manusia?
Buku Bukan Sekadar Isi Teks
Banyak orang beranggapan, selama isi buku sudah dipindai, maka tidak ada masalah. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu. Buku fisik bukan hanya kumpulan huruf. Ia adalah artefak sejarah. Ada catatan tangan pemiliknya. Ada edisi pertama yang menunjukkan perkembangan pemikiran seorang penulis. Ada kualitas kertas, ilustrasi, tipografi, bahkan jejak penerbitan yang menjadi sumber penelitian sejarah.
Umberto Eco, novelis sekaligus filsuf Italia yang memiliki lebih dari 50.000 buku di perpustakaan pribadinya, pernah berkata, "Books are not made to be believed, but to be subjected to inquiry."
Buku diciptakan bukan untuk diterima begitu saja, melainkan untuk diuji, dibandingkan, dan diperdebatkan. Semangat itu hanya mungkin berlangsung jika sumber aslinya tetap ada.
Ketika Pengetahuan Berpindah ke Server
Yang lebih mengkhawatirkan bukanlah proses digitalisasinya. Digitalisasi justru sangat penting bagi pelestarian pengetahuan. Yang patut dipertanyakan adalah ketika salinan fisik dimusnahkan, sementara versi digitalnya berada di bawah kendali perusahaan-perusahaan privat.
Jika suatu hari masyarakat hanya dapat mengakses pengetahuan melalui satu sistem AI, siapa yang menjamin bahwa informasi tersebut akan selalu sama dengan naskah aslinya? Hari ini mungkin sama. Tetapi bagaimana sepuluh, dua puluh, atau lima puluh tahun lagi?
Apakah kutipan masih utuh? Apakah konteks sejarah masih lengkap? Apakah tidak ada bagian yang hilang akibat kesalahan OCR, pembaruan sistem, atau kebijakan perusahaan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan teori konspirasi. Tapi adalah prinsip dasar dalam dunia arsip dan historiografi. Karena itulah, perpustakaan nasional di seluruh dunia selalu menyimpan naskah asli meskipun telah memiliki versi digital.
Pelajaran dari Alexandria
Sejarah manusia pernah kehilangan salah satu gudang pengetahuan terbesar. Perpustakaan Alexandria di Mesir.
Memang para sejarawan sepakat, bahwa kehancurannya bukan terjadi dalam satu malam ataupun karena satu penyebab tunggal. Melainkan merupakan akumulasi perang, pergantian kekuasaan, dan kerusakan selama berabad-abad. Namun dampaknya tetap sama: ribuan manuskrip lenyap dan warisan intelektual dunia ikut terkikis.
Demikian pula Bayt al-Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad. Pada tahun 1258, ketika pasukan Mongol menyerbu Baghdad, perpustakaan terbesar dunia Islam itu dihancurkan. Banyak manuskrip dibuang ke Sungai Tigris, hingga menurut sejumlah kronik klasik, air sungai menghitam oleh tinta.
Barangkali kisah itu memang telah berlalu berabad-abad. Namun pesannya tetap relevan hingga saat ini. Peradaban tidak hanya runtuh karena perang. Peradaban juga dapat melemah ketika kehilangan sumber pengetahuannya.
AI Membutuhkan Buku, Buku Juga Membutuhkan AI
Di sisi lain, kita juga harus adil. AI berkembang justru karena belajar dari karya manusia. Buku-buku berkualitas menjadi sumber penting karena lebih terkurasi dibanding konten internet yang kini semakin dipenuhi teks hasil AI. Beberapa perusahaan memilih membeli buku fisik untuk dipindai sebagai sumber data berkualitas tinggi. Artinya, AI sesungguhnya mengakui satu hal yang menarik.
Di balik kecanggihannya, AI tetap membutuhkan manusia. AI membutuhkan penulis. AI membutuhkan editor. AI membutuhkan penerbit. AI juga membutuhkan buku. Namun ironisnya, justru benda yang melahirkannya berpotensi semakin dianggap tidak penting. Di sinilah paradoks zaman kita.
Bahaya yang Lebih Halus
Bahaya terbesar bukanlah AI menjadi pintar. Tapi bahaya terbesarnya adalah ketika masyarakat perlahan kehilangan kemampuan melakukan verifikasi.
Jika suatu hari buku fisik semakin langka dan masyarakat hanya mengenal pengetahuan melalui jawaban AI, maka kemampuan membandingkan sumber akan ikut menghilang. Padahal dalam tradisi akademik, kebenaran selalu lahir melalui pembandingan.
Karl Popper pernah mengingatkan, "Science must begin with myths, and with the criticism of myths."
Ilmu berkembang karena kritik. Kritik membutuhkan sumber. Sedangkan sumber membutuhkan naskah asli. Tanpa naskah asli, kritik menjadi semakin sulit.
Membeli Buku adalah Menjaga Peradaban
Karena itulah, hari ini membeli buku fisik tetap memiliki makna dan urgensi tersendiri. Bukan semata untuk mengoleksi. Melainkan menjaga keberadaan sumber primer.
Sebuah rak buku di rumah bukanlah sekadar dekorasi. Tapi bagian arsip kecil dari peradaban. Jorge Luis Borges, yang sepanjang hidupnya menjadi pustakawan, pernah berkata, "I have always imagined that Paradise will be a kind of library."
Surga, dalam bayangannya, adalah perpustakaan. Bukan server. Bukan pusat data. Melainkan ruang tempat manusia dapat menyentuh, membuka, mencium aroma kertas, dan berdialog langsung dengan pikiran manusia lain lintas zaman.
Jangan Mempertentangkan AI dan Buku
Tulisan ini dibuat penulis bukan ajakan menolak AI. Sebaliknya, AI adalah lompatan besar dalam sejarah pengetahuan. IA mempercepat pencarian informasi, membantu riset, menerjemahkan bahasa, hingga membuka akses belajar bagi jutaan orang. Namun justru karena AI akan menjadi bagian penting masa depan, maka harus dibangun di atas etika yang kuat.
Digitalisasi tidak boleh berubah menjadi pemusnahan warisan budaya. Efisiensi tidak boleh mengalahkan pelestarian. Teknologi tidak boleh menggantikan otoritas sumber primer. Yang kita perlukan bukan memilih antara AI atau buku. Tapi kita membutuhkan keduanya.
AI untuk memperluas akses pengetahuan. Buku untuk menjaga keaslian pengetahuan. Sebab, peradaban besar tidak dibangun hanya oleh teknologi yang canggih. Melainkan dibangun oleh kemampuannya menjaga ingatan.
Dan selama masih ada buku-buku yang tersimpan di perpustakaan, di toko buku, dan di rak-rak rumah masyarakat, selama itu pula manusia masih memiliki kesempatan untuk memeriksa sendiri kebenaran—bukan sekadar mempercayai apa yang disampaikan sebuah mesin. []
