Konten dari Pengguna

Membaca Buku, Tak Harus Selalu Setuju dengan Isinya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rochmad Widodo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto ilustrasi membaca buku (Sumber: Pixels)
zoom-in-whitePerbesar
Foto ilustrasi membaca buku (Sumber: Pixels)

Ada satu kekeliruan yang masih sering kita jumpai dalam memandang aktivitas membaca. Sebagian orang beranggapan bahwa ketika seseorang membaca sebuah buku, maka ia pasti menyetujui isi buku tersebut. Akibatnya, tidak sedikit orang enggan membaca buku-buku yang berbeda pandangan dengan keyakinannya.

Mereka khawatir membaca akan menggoyahkan prinsip, mencemari cara berpikir, atau bahkan dianggap sebagai bentuk pembenaran terhadap gagasan yang tertulis di dalamnya. Padahal, membaca bukanlah tindakan menyerahkan akal budi. Membaca, justru merupakan latihan menggunakan akal budi.

Sebuah buku sesungguhnya bukan ruang indoktrinasi, melainkan ruang percakapan. Di dalamnya, seorang penulis menyampaikan pengalaman, pemikiran, keyakinan, dan cara pandangnya terhadap kehidupan. Sementara pembaca, hadir bukan sebagai penadah pasif, melainkan sebagai mitra dialog yang bebas menerima, mempertanyakan, mengkritisi, bahkan menolak gagasan yang ditawarkan.

Karena itulah, filsuf Prancis Rene Descartes pernah mengingatkan, "It is not enough to have a good mind; the main thing is to use it well."

Tidak cukup memiliki pikiran yang baik, yang jauh lebih penting adalah menggunakannya dengan benar. Membaca menjadi salah satu cara terbaik untuk melatih penggunaan nalar itu.

Buku Adalah Ruang Dialog, Bukan Ruang Kepatuhan

Setiap buku lahir dari ruang sosial, pengalaman hidup, latar pendidikan, bahkan pergulatan batin penulisnya. Tidak ada satu pun buku yang benar-benar steril dari sudut pandang.

Ketika Tan Malaka menulis Madilog, ia sedang menawarkan cara berpikir yang menurutnya mampu membawa masyarakat keluar dari irasionalitas.

Ketika Buya Hamka menulis Tasawuf Modern, ia menawarkan jalan spiritual yang diyakininya mampu menjawab kegelisahan manusia modern.

Ketika Pramoedya Ananta Toer menulis Bumi Manusia, ia sedang menyampaikan kritik terhadap kolonialisme dan ketidakadilan sosial melalui karya sastra.

Ketika Yuval Noah Harari menulis Sapiens, ia menghadirkan perspektif sejarah manusia yang memancing banyak perdebatan.

Masing-masing penulis menawarkan cara pandang. Tidak ada kewajiban bagi pembaca untuk mengamini semuanya. Justru membaca menjadi menarik karena adanya perjumpaan antara dua cara berpikir yang mungkin berbeda.

Filsuf Inggris John Stuart Mill dalam On Liberty pernah menulis bahwa, seseorang yang hanya mengenal satu sisi persoalan sesungguhnya belum benar-benar memahami persoalan itu. Menurut Mill, bahkan ketika kita meyakini suatu pendapat benar, kita tetap perlu mendengarkan pendapat yang berlawanan agar keyakinan kita tidak berubah menjadi dogma yang kosong.

Pandangan Mill tersebut sangat relevan di tengah kehidupan hari ini, ketika media sosial justru sering mempersempit ruang dialog. Algoritma cenderung mempertemukan kita dengan orang-orang yang sepemikiran. Akibatnya, kita semakin jarang berhadapan dengan gagasan yang berbeda.

Buku menawarkan pengalaman yang sebaliknya. Yaitu, mengajak kita keluar dari ruang gema (echo chamber) dan memasuki dunia yang mungkin sama sekali asing bagi keyakinan kita.

Membaca untuk Memahami, Bukan Selalu Membenarkan

Ada perbedaan mendasar antara memahami dan menyetujui.

Seseorang dapat memahami mengapa sebuah kelompok memiliki keyakinan tertentu, tanpa harus ikut mempercayainya.

Seseorang dapat mengerti mengapa seorang filsuf menyusun suatu teori, tanpa harus menjadikannya sebagai pegangan hidup.

Seseorang dapat membaca buku tentang ideologi tertentu, tanpa harus menjadi penganut ideologi tersebut.

Pemahaman tidak identik dengan persetujuan. Justru pemahaman itulah yang membuat seseorang lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan.

Penulis Amerika Harper Lee melalui novelnya To Kill a Mockingbird sempat menulis sebuah kalimat menarik. "You never really understand a person until you consider things from his point of view."

Kita tidak akan benar-benar memahami seseorang sebelum melihat dari sudut pandangnya.

Kalimat itu bukan ajakan untuk selalu setuju. Melainkan ajakan agar kita memahami alasan di balik sebuah keyakinan. Sebab, sering kali konflik lahir bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena ketidakmauan memahami mengapa pendapat itu muncul.

Pembaca yang Baik Adalah Pembaca yang Kritis

Membaca bukan berarti mengosongkan pikiran. Sebaliknya, membaca justru menuntut pembaca membawa seluruh pengalaman, pengetahuan, dan nilai yang dimilikinya untuk berdialog dengan teks. Di sinilah berpikir kritis menjadi penting.

Dalam proses membaca, pembaca bertanya. Mengapa penulis sampai pada kesimpulan itu? Apa dasar argumennya? Apakah data yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan? Apakah ada perspektif lain yang tidak disampaikan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat membaca menjadi aktivitas intelektual. Bukan sekadar memindahkan isi buku ke dalam kepala.

Filsuf Karl Popper pernah mengatakan, "True ignorance is not the absence of knowledge, but the refusal to acquire it."

Kebodohan yang sesungguhnya bukanlah tidak memiliki pengetahuan, melainkan menolak untuk memperoleh pengetahuan.

Ironisnya, seseorang justru lebih mudah menolak gagasan yang belum pernah ia baca daripada yang sudah dipahaminya. Padahal, bagaimana mungkin kita mengkritik sesuatu yang tidak pernah kita kenal?

Semakin Banyak Membaca, Semakin Rendah Hati

Ada paradoks menarik dalam dunia membaca. Semakin sedikit seseorang membaca, semakin mudah ia merasa paling benar. Sebaliknya, semakin banyak seseorang membaca, biasanya semakin ia menyadari bahwa dunia jauh lebih luas daripada yang selama ini ia bayangkan.

Filsuf Yunani Socrates dengan kerendahan hati intelektual, pernah mengucapkan, "The only true wisdom is in knowing you know nothing."

Kalimat itu bukan berarti manusia tidak mengetahui apa pun. Melainkan kesadaran bahwa, selalu ada kemungkinan kita belum melihat keseluruhan persoalan.

Membaca mempertemukan kita dengan beragam pengalaman manusia. Ada yang lahir dari Timur. Ada yang lahir dari Barat. Ada yang ditulis oleh agamawan. Ada yang ditulis oleh ilmuwan. Ada yang ditulis oleh ekonom. Ada yang lahir dari pengalaman perang. Ada pula yang lahir dari penderitaan.

Semuanya memperkaya cara pandang kita. Bukan untuk menggantikan keyakinan kita, melainkan untuk membuat keyakinan itu semakin matang.

Dari Pengetahuan Menuju Kebijaksanaan

Pada akhirnya, tujuan membaca bukanlah memenangkan perdebatan. Bukan pula mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Lebih dari itu, membaca adalah proses memanusiakan diri sendiri.

Kita belajar bahwa, dunia tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Bahwa satu persoalan bisa dipandang dari banyak sudut. Bahwa seseorang bisa keliru dalam satu hal, tetapi benar dalam hal lain. Bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan. Di situlah buku menjadi sekolah kebijaksanaan.

Filsuf Amerika Mortimer J. Adler, penulis How to Read a Book, mengatakan, "The ultimate goal of reading is not simply to gain information but to achieve understanding."

Tujuan akhir membaca bukan sekadar memperoleh informasi, melainkan mencapai pemahaman. Dan pemahaman yang sejati, hampir selalu melahirkan kebijaksanaan.

Membaca dengan Pikiran Terbuka, Berdiri dengan Prinsip

Membaca buku apa pun tidak pernah mengharuskan kita kehilangan prinsip. Sebaliknya, prinsip justru akan semakin kokoh ketika diuji oleh beragam pemikiran.

Seseorang yang tidak pernah membaca pandangan yang berbeda sering kali hanya mewarisi keyakinan. Tetapi seseorang yang berani membaca berbagai gagasan, lalu memilih tetap berdiri pada prinsipnya setelah melalui proses berpikir yang panjang, memiliki keyakinan yang jauh lebih matang.

Karena itulah, jangan takut membaca buku yang berbeda dengan pandangan kita. Tak perlu cemas jika isi buku tidak sejalan dengan keyakinan kita.

Bacalah dengan pikiran yang terbuka, tetapi tetap dengan nalar yang kritis. Sebab buku bukanlah hakim yang memutuskan apa yang harus kita yakini. Buku hanyalah sahabat dialog yang menawarkan cara lain melihat dunia.

Dan itulah salah satu hasil paling berharga dari membaca. Bukan sekadar membuat kita mengetahui lebih banyak hal, melainkan menjadikan kita manusia yang lebih arif dalam menyikapi perbedaan, lebih rendah hati dalam memandang kebenaran, dan lebih bijaksana dalam memahami sesama.

Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan membaca bukanlah berapa banyak buku yang selesai kita baca, melainkan seberapa dewasa cara kita berpikir setelah menutup halaman terakhirnya.