Mudik Menjadi Lebih Asyik dengan Baca Buku

Founder Penerbit Biografi Indonesia yang aktif menulis biografi tokoh-tokoh di Indonesia.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rochmad Widodo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak fajar belum sepenuhnya merekah, di peron-peron stasiun orang-orang berdesakan. Seakan ingin segera bergegas berangkat. Tas besar, koper, kardus oleh-oleh, hingga kantong plastik yang diikat seadanya, digendong, dipanggul, dan ditenteng untuk bekal ke kampung halaman.
Tahun 2026, arus mudik menampakkan suasana seperti tahun-tahun sebelumnya. Padat, sesak, tapi penuh cerita. Di stasiun-stasiun besar, antrean mengular seperti garis tak berujung. Pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan dengan suara deru mesin kereta, berpadu tangis anak kecil, tawa remaja, dan suara perbincangan orang tua.
Di pelabuhan, suasana tak kalah ramai. Ombak kecil memantul di lambung kapal, sementara ribuan penumpang menunggu giliran naik. Bau asin laut bercampur dengan aroma makanan instan semerbak menusuk-nusuk ke hidung. Di terminal-terminal, deru mesin bus menggeram, seolah ikut tak sabar untuk segera berangkat mengantarkan para pemudik yang sudah dilanda rindu kampung halaman.
Ada satu pemandangan di tengah kepadatan itu yang mencuri perhatian. Bukan tentang tiket yang hampir habis, atau tentang jadwal yang terlambat. Tapi di sudut-sudut tertentu, tampak kerumunan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, berjejal, saling berebut buku.
Ya, buku. Bukan makanan ringan gratis atau minuman segar. Tapi beraneka ragam buku yang dibagikan secara gratis untuk para pemudik.
Lalu di sebuah sudut stasiun, ada seorang anak lelaki tampak memeluk erat dua buku cerita bergambar yang berhasil didapatkan. Matanya berbinar, seolah baru saja mendapatkan harta karun. Di dekatnya, seorang remaja perempuan membolak-balik novel, sesekali tersenyum kecil mengikuti kisah novel yang dibacanya. Tak jauh dari sana, seorang bapak paruh baya duduk di lantai, membuka halaman pertama dengan tekun buku motivasi.
Kerumunan itu adalah bagian dari program Mudik Asyik Baca Buku, sebuah inisiatif yang digagas oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Perpustakaan Nasional (Perpusnas), serta menggandeng berbagai instansi pemerintah lainnya.
Di tahun ini, program tersebut hadir di sembilan titik strategis. Mulai dari stasiun, terminal, bandara, hingga pelabuhan, yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Di setiap titik, 24 ribuan buku cetak dibagikan secara cuma-cuma kepada para pemudik. Buku-buku dengan tema beragam. Mulai dari cerita anak, novel ringan, buku motivasi, hingga bacaan pengetahuan populer.
Tak sekadar membagikan, para relawan juga mengajak para pemudik untuk langsung membaca di tempat atau membawa pulang buku tersebut sebagai teman perjalanan.
Buku-buku itu, dibaca dan dinikmati juga di tengah perjalanan panjang mudik. Di antara kursi kereta, dek kapal, hingga bangku bus yang penuh sesak.
Bisa dikatakan program ini multimanfaat. Bukan sekadar menghadirkan hiburan atau edukasi, melainkan sekaligus menyisipkan sebuah pesan dinamisnya buku bisa dijadikan teman perjalanan pulang. Dalam perjalanan yang biasanya identik dengan kejenuhan. Macet panjang, waktu tunggu berjam-jam, atau kursi sempit yang membuat tubuh pegal. Buku menjadi teman yang bisa mengobati semua itu.
Seorang ibu muda yang sedang menunggu keberangkatan kereta mengaku terbantu. Karena Anak balitanya yang biasanya rewel, kini asyik melihat gambar-gambar di buku cerita.
“Biasanya dia minta main HP terus. Sekarang malah minta dibacakan buku,” ujarnya sambil tersenyum dalam sebuah unggahan di sosial media.
Di sisi lain, seorang mahasiswa yang hendak pulang ke kampung halaman justru menemukan buku yang tak disangka. “Saya dapat buku tentang pengembangan diri. Lumayan, bisa dibaca selama perjalanan,” katanya.
Manfaat program ini memang cukup banyak.
Pertama, buku menjadi media hiburan sehat di tengah perjalanan panjang. Bisa digunakan mengalihkan perhatian dari kejenuhan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada gawai.
Kedua, buku menjadi sarana edukasi yang mudah diakses. Dalam kondisi apa pun, membaca tetap memungkinkan, bahkan di tengah keramaian dan keterbatasan ruang.
Ketiga, program ini menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan minat baca, terutama bagi anak-anak dan remaja yang mungkin belum akrab dengan buku.
Keempat, ada nilai simbolik yang kuat, bahwa negara hadir tidak hanya untuk mengatur arus mudik, tetapi juga memperkaya pengalaman para pemudiknya.
Menariknya, inisiatif ini tidak berhenti pada buku cetak saja. Kementerian Agama (Kemenag) turut mengemas program ini dalam bentuk digital.
Melalui tautan yang dibagikan kepada para pemudik, siapa pun dapat mengakses buku digital secara gratis. Koleksinya mencakup buku-buku keagamaan, novel religi, literatur umum, hingga bacaan ringan yang cocok untuk perjalanan.
Di era di mana hampir setiap orang membawa gadget, pendekatan ini bisa dikatakan sangat relevan. Dengan demikian, buku yang disajikan tidak lagi terbatas versi cetak, tetapi juga dihadirkan dalam genggaman di gadget.
Seorang pemudik yang sedang duduk di kursi bus tampak menggulir layar ponselnya. Bukan media sosial, melainkan halaman demi halaman buku digital.
“Daripada scrolling terus, mending baca ini. Lumayan, waktu perjalanan jadi terasa cepat,” katanya dalam unggahan di sosial media.
Langkah ini menunjukkan jika literasi tidak selalu kaku. Tapi juga bisa dikemas menjadi lentur, mengikuti zaman, dan hadir dalam berbagai bentuk.
Di tengah upaya meningkatkan budaya membaca di Indonesia, program ini seperti menjadi angin segar. Data selama ini menunjukkan bahwa minat baca masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah besar. Namun perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar dan rumit. Kadang, cukup dari satu buku yang dibaca di perjalanan.
Seperti kata Taufiq Ismail, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar membaca.” Kata-kata itu bisa juga dimulai dengan program ini yang dilakukan di tengah hiruk-pikuk para pemudik.
Bayangkan, jika jutaan pemudik yang melakukan perjalanan setiap tahun membawa pulang satu buku dan membacanya, lalu menceritakan kepada keluarga di kampung halaman. Efeknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dalam jangka panjang akan membentuk sebuah kebiasaan baru yang positif. Membaca tidak akan lagi menjadi aktivitas yang eksklusif atau terpisah dari kehidupan sehari-hari. Tapi bisa hadir di sela-sela perjalanan, di antara jeda, di tengah keramaian.
Tentu, program ini masih bisa terus dikembangkan lagi. Jumlah titik distribusi bisa diperluas, ragam dan koleksi buku bisa diperbanyak, serta pendekatan digital juga bisa diperkaya dengan fitur yang lebih interaktif.
Namun sebagai langkah awal, Mudik Asyik Baca Buku yang mendapatkan sambutan sangat positif dari para pemudik, harus diberikan apresiasi. Karena telah menunjukkan satu hal penting, bahwa literasi bisa dibawa ke mana saja, bahkan ke dalam arus mudik yang padat dan melelahkan.
Ada yang membuat haru, ketika melihat seorang anak membaca buku di pangkuan ibunya di tengah keramaian terminal. Atau ketika seorang pemuda tenggelam dalam halaman novel di kursi kereta yang penuh. Di sanalah, di tengah perjalanan pulang, buku menemukan pembacanya di tangan-tangan para pemudik.
Mudik, pada akhirnya, bukan hanya tentang kembali ke kampung halaman. Tapi menjadi semacam perjalanan batin, perjumpaan dengan kenangan, dan pencarian makna.
Dan kini, di antara koper, tiket, dan rindu yang dibawa pulang oleh para pemudik, ada satu hal baru yang ikut serta, yaitu buku.
Barangkali, itulah oleh-oleh paling berkesan yang tidak umum, tetapi bisa menjadi yang paling bermakna. Sebab dari halaman-halaman yang dibaca di perjalanan, bisa tumbuh gagasan, imajinasi, dan harapan. Dan dari sanalah, kemudian nasib masa depan sebuah bangsa juga turut serta akan diubah menjadi lebih baik dengan generasi yang cerdas.
Di tengah riuhnya mudik 2026, buku hadir sebagai peneduh yang tidak bersuara, tetapi berbicara. Tidak bergerak, tetapi menggerakkan. Di situlah letak keindahannya bagi para pegiat literasi menyaksikan program Mudik Asyik Baca Buku ini. []
