Konten dari Pengguna

NgabubuRead, Buka Bersama ala Pecinta Buku

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo

Founder Penerbit Biografi Indonesia yang aktif menulis biografi tokoh-tokoh di Indonesia.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rochmad Widodo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan NgabubuRead Ilmiah di Margin Library yang diadakan oleh The Conversation Indonesia dan Komunitas Baca Bareng Jakarta (Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan NgabubuRead Ilmiah di Margin Library yang diadakan oleh The Conversation Indonesia dan Komunitas Baca Bareng Jakarta (Dokumen Pribadi)

Sejak memasuki awal puasa di bulan Ramadhan 2026, saya banyak melihat flayer berbagai kegiatan buka puasa bersama di Instagram. Tapi sebagai penulis dan sekaligus pegiat literasi, ada sejumlah flayer acara yang menurut saya unik, menarik dan mencuri perhatian. Terutama kegiatan NgabubuRead yang banyak diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Baik yang diinisiasi oleh komunitas membaca buku, pegiat literasi, toko buku, atau pun sejumlah perpustakaan.

Saya pikir gagasannya menarik. NgabubuRead, seakan menjadi ekspresi bagi para pecinta buku dalam memeriahkan Ramadhan, sekaligus dijadikan momentum menggelar acara untuk menunggu buka puasa (ngabuburit) dengan cara positif sesuai hobi.

Jika orang kebanyakan acara buka bersama diisi dengan obrolan panjang dan hidangan melimpah, maka NgabubuRead memilih jalan yang berbeda. Mereka lebih menghadirkan keheningan saat menunggu buka puasa dengan tenggelam dalam halaman buku, lalu saling berbagi cerita setelahnya. Sebuah bentuk ngabuburit yang sederhana, tetapi penuh makna.

Pengalaman Pertama NgabubuRead

Dari sekian banyak acara NgabubuRead yang di selenggarakan di bulan puasa tahun ini, saya akhirnya memutuskan untuk ikut mendaftar yang diselenggarakan di Margin Library, Jakarta Selatan. Acara ini digagas oleh The Conversation Indonesia dan Komunitas Baca Bareng Jakarta. Alasan saya sederhana. Waktunya memungkinkan dan lokasinya relatif mudah saya jangkau di tengah kemacetan bulan puasa.

Saya pun mengisi formulir pendaftaran melalui tautan yang dibagikan di Instagram. Tidak lama setelah menekan tombol kirim, saya langsung menerima balasan email dari panitia. Responsnya cepat dan rapi. Bahkan tidak lama kemudian, saya juga mendapat pesan melalui WhatsApp sebagai konfirmasi. Dari situ saja sudah terasa bagaimana acara ini dikelola dengan serius.

Beberapa hari menjelang acara, panitia juga kembali menghubungi saya untuk memastikan kehadiran pada tanggal 14 Maret 2026. Pada hari pelaksanaan, pesan pengingat kembali dikirim lengkap dengan informasi teknis kegiatan. Hal-hal kecil seperti ini memberi kesan profesional sekaligus hangat. Membuat saya sebagai perserta baru cukup terkesan.

Sore itu saya pun benar-benar datang di acara. Margin Library yang terletak di kawasan Pejaten Barat Raya No.10, Jakarta Selatan, menyambut para peserta dengan suasana tenang. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi terasa nyaman. Rak-rak buku memenuhi ruangan dengan tertata rapi. Aroma kertas dan kayu rak buku menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan. Semacam ketenangan yang hanya bisa ditemukan di tempat-tempat yang mencintai buku.

Saya bersama dengan peserta lain langsung disambut dengan hangat oleh panitia ketika akan melakukan registrasi ulang. Lalu diarahkan untuk masuk ke ruangan acara yang sudah siap untuk dimulai.

Pesertanya tidak terlalu banyak, tetapi cukup beragam. Ada yang mahasiswa, pekerja profesional, peneliti, pegiat komunitas, hingga pembaca yang sekadar ingin menikmati suasana sore Ramadhan dengan cara yang berbeda.

Acaranya pun sangat simpel. Dibuka oleh Hestia Istiviani dari Baca Bareng Jakarta sebagai moderator. Lalu semua diberikan kesempatan untuk membaca buku masing-masing yang dibawa sesuai tema NgabubuRead Ilmiah hari itu selama 45 menit. Diperbolehkan sambil mendengarkan musik lewat gadget masing-masing dan dipersilakan untuk mencari tempat yang dirasa paling nyaman untuk membaca.

Bagi yang tidak membawa buku dari rumah, juga diberikan link materi berbagai jurnal ilmiah yang sudah dikompilasikan oleh The Conversation Indonesia bisa untuk dibaca. Lalu selama 45 menit semua pun tenggelam dalam bacaan masing-masing dan ruangan seketika langsung hening. Halaman demi halaman dibalik perlahan. Waktu berjalan tanpa terasa.

Hingga waktu membaca habis, baru kemudian Hestia membuka sesi diskusi dan mengajak Anggi M. Lubis Chief Editor and Content Director The Conversation Indonesia untuk bergabung menjadi pemantik.

Semua berjalan dibawakan dengan santai. Lebih seperti ngobrol bareng dengan teman sendiri. Jadi tidak ada formalisasi atau kaku dalam acara ini. Ada juga sesi para peserta dipersilahkan untuk bercerita tentang buku yang dibaca. Atau sekadar mengutarakan bagaimana ceritanya sampai ikut kegiatan NgabubuRead sore itu.

Sesekali ada juga yang bercanda dan membuat semua peserta tertawa di ruangan Margin Library. Tapi, tetap banyak informasi penting yang disampaikan dari berbagai macam buku yang dibaca oleh peserta, membuat acara itu terasa semakin asyik dan bermakna.

Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama. Setelah azan maghrib berkumandang, menikmati hidangan yang telah disiapkan panitia. Para peserta dan panitia berbaur. Saling berkenalan, bertukar cerita, dan tertawa seperti teman lama. Tampak sangat akrab bahkan seperti keluarga. Padahal sebagian besar itu adalah kali pertama saling bertemu.

Saya dari situ melihat, ada sesuatu yang menarik dari pertemuan orang-orang yang sama-sama mencintai buku, yaitu keakraban muncul dengan cepat.

Awal Mula NgabubuRead

Sebelum datang ke acara itu, saya sebenarnya sudah cukup penasaran dengan fenomena NgabubuRead yang belakangan ramai banyak diadakan para pegiat literasi dan komunitas membaca buku. Saya pikir kegiatan yang sangat kreatif dan positif untuk menghidupkan budaya membaca di tengah masyarakat Indonesia.

Dari penelusuran saya di berbagai media, istilah NgabubuRead mulai muncul sekitar tahun 2024. Saat itu kegiatan ini masih terbatas pada beberapa acara komunitas literasi di Bandung. Pada tahun 2025, kegiatan serupa kemudian mulai bermunculan di sejumlah kota. Namun puncaknya tampak pada tahun 2026 ini. Tampak sekali dari unggahan flayer komunitas yang bertebaran di media sosial mengadakan NgabubuRead di berbagai kota di Indonesia. Ada di Jogja, Bandung, Jakarta, Purwokerto, Pekan Baru, dan tersebar di sejumlah kota lainnya.

Kegiatannya ada yang diselenggarakan di taman kota, di ruang-ruang publik, di perpustakaan, dan ada juga yang di coffe shop hingga toko buku. Di acara kemarin pun saya akhirnya coba tanya ke Hestia pendiri Komunitas Baca Bareng Jakarta seputar kegiatan NgabubuRead.

Ternyata menurut keterangannya, kegiatan NgabubuRead sebenarnya muncul sudah tahun 2020 ketika bulan puasa di awal masa pandemi. Waktu itu kegiatannya lebih banyak dilakukan secara online. Baik zoom, live streaming di Instagram, atau dengan platform lain. Karena masa pandemi dibatasi untuk kegiatan berkumpul di luar, jadi tidak dilakukan secara langsung tatap muka atau luring.

Adapun istilah NgabubuRead sendiri juga muncul secara organik ketika acara berlangsung di berbagai kegiatan online. Jadi kalau ditanya, siapa pencetusnya, tidak ada yang tahu. Istilah itu mengalir saja digunakan oleh siapa pun untuk kegiatan membaca secara online.

Barulah kemudian ketika pandemi sudah mereda dan kembali dibuka akses untuk melakukan berbagai kegiatan di tempat umum. Kemudian komunitas-komunitas literasi dan membaca, ketika bulan Ramadhan tiba, mengadakan NgabubuRead kembali di berbagai tempat dan kota. Dan dari situlah NgabubuRead kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan kecil yang kini semakin luas.

NgabubuRead dan Pesan Penting Membaca

Dalam perspektif agama, NgabubuRead dilakukan di bulan puasa bisa dikatakan memang memiliki relevansi. Karena dalam agama Islam, di bulan puasa pertama kali turun wahyu Al Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Ayat pertama yang turun pun perintah untuk membaca, yaitu Surat Al-'Alaq ayat 1-5. Yang dimulai dengan ayat pertama berbunyi "iqra'" yang berarti "bacalah."

Dalam banyak tafsir dijelaskan, jika membaca yang dimaksud pada ayat tersebut selain dalam arti tekstual seperti membaca kitab suci, kitab-kitab yang memuat pengetahuan agama dan umum, juga sebagai aktivitas membaca kontekstual, yaitu kehidupan di seluruh alam semesta. Saya kemudian menyaksikan, di titik itulah, tema yang diangkat pada NgabubuRead Ilmiah oleh The Conversation Indonesia dan Baca Bareng Jakarta di Margin Library sore itu mendapat korelasinya, karena mengangkat tema mengenai krisis iklim.

Para peserta membawa berbagai buku yang membahas isu krisis iklim, baik karya ilmiah maupun fiksi. Dari diskusi yang muncul, tampak bagaimana membaca dapat membuka kesadaran baru. Isu krisis iklim yang selama ini terasa jauh, perlahan menjadi lebih dekat dan nyata.

Saya pikir, itulah salah satu kekuatan membaca. Tidak selalu mengubah dunia secara langsung, tetapi mengubah kesadaran dan cara kita melihat dunia. Dan dari perubahan cara pandang dan kesadaran itulah, sering kali lahir kepedulian dan tindakan-tindakan kecil yang berarti.

Multimanfaat NgabubuRead

Mengikuti NgabubuRead untuk pertama kalinya, memberi saya pengalaman berharga sekaligus merasakan banyak manfaatnya.

Pertama, tentu saja pengalaman baru, menunggu waktu berbuka dengan membaca bersama, dan ternyata memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan kegiatan kegiatan ngabuburit pada umumnya.

Kedua, dapat banyak ilmu dan jadi tahu sejumlah buku bagus yang sedang hits dari buku bacaan yang dibawa peserta lain.

Ketiga, jadi banyak kenalan baru, baik dari panitia penyelenggara The Conversation Indonesia, Baca Bareng Jakarta dan Margin Library. Maupun dari para peserta yang datang dari mana-mana, dengan latar belakang yang beragam. Yang dipertemukan oleh satu kesamaan, kecintaan pada buku dan membaca.

Keempat, saya juga menjadi lebih mengenal berbagai komunitas literasi yang terlibat dalam acara ini, termasuk The Conversation Indonesia, Baca Bareng Jakarta dan Margin Library.

Dari sana saya mengetahui bagaimana media seperti The Conversation ternyata banyak menghadirkan tulisan-tulisan dari para akademisi dan pakar yang membahas berbagai isu aktual tentang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, budaya, politik, hingga isu-isu anak muda.

Saya jadi banyak tahu kegiatan Baca Bareng Jakarta langsung dari foundernya, Hestia Istiviani. Selain itu membuat saya juga berkesempatan berbincang dengan salah satu pendiri Margin Library beranama Tika. Dari percakapan itu, akhirnya jadi tahu, jika perpustakaan ini berdiri sejak tahun 2019. Didirikan oleh tiga anak muda, yaitu Tika dan kedua temannya. Bermula dari ide sederhana ingin membuka usaha yang menyenangkan, tidak terlalu mengejar profit, dijalankan dengan santai, tapi punya nilai positif untuk kepedulian anak-anak muda. Hingga kemudian tercetuslah Margin Library dari hobi mereka yang sama-sama suka membaca buku.

Saya pikir, masih ada banyak manfaat lain yang bisa didapatkan dari kegiatan NgabubuRead, yang dari tiap peserta, mungkin juga sangat variatif dan berbeda-beda. Seperti judul buku yang dibawa di acara yang sangat beragam dari peserta, namun semua sangat bermanfaat saat dibaca. []