Konten dari Pengguna

Tekanan Ganda Jadi Pria: Harus Kuat, Harus Peka, Harus Kaya

Ryan Marthin

Ryan Marthin

Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta yang memiliki minat tinggi dalam mengulas berbagai fakta dan peristiwa di dunia.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ryan Marthin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pria Frustasi (Sumber: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pria Frustasi (Sumber: Pixabay)

Menjadi pria di era sekarang bukan hanya sekadar soal tumbuh dewasa ataupun punya penghasilan tetap. Namun tuntutannya terlihat jauh lebih kompleks.

Seorang pria harus kuat, tapi juga peka. Harus sukses secara finansial, tapi jangan pamer. Harus bisa kontrol emosi, tapi tetap tegas dan tidak terlalu rapuh.

Banyak pemuda laki-laki saat ini hidup dalam tekanan yang saling bertolak belakang. Mereka dituntut jadi dewasa dalam versi yang berlebihan atau bahkan tidak manusiawi.

Pria Menghadapi Banyak Standar Baru (Sumber: Pixabay)

Laki-Laki dan Standar Baru yang Tidak Konsisten

Sejak kecil, sebagian besar pria tumbuh dengan narasi lama tentang maskulinitas yaitu tidak cengeng, harus tahan banting, dan pantang mengeluh. Tapi ketika dewasa, tunturan dunia sudah berbeda. Mereka membutuhkan pria yang terbuka, suportif secara emosional, dan tidak takut untuk mengungkapkan perasaan.

Namun masalahnya, proses untuk sampai ke titik itu tidak pernah diajarkan. Akibatnya, banyak laki-laki merasa terjebak di antara dua kutub: satu kaki di masa lalu yang keras, satu lagi di masa kini yang penuh tuntutan kesadaran diri.

Tuntutan Ekonomi dan Perasaan “Layak Dicintai”

Selain persoalan emosi, aspek finansial juga menjadi tekanan besar. Meski semakin banyak pasangan yang berbagi peran dalam hubungan, norma pria sebagai penyedia utama masih kuat. Dengan kata lain, ekspektasi terhadap pria untuk mapan demi menghidupi orang-orang di sekitarnya masih terus bertumbuh hingga kini.

Meskupun di media sosial ramai dengan narasi “laki-laki nggak harus kaya buat bahagia,” realita di lapangan berkata lain. Stabilitas finansial masih menjadi standar utama yang menentukan kelayakan seorang pria untuk memulai hubungan jangka panjang.

Tantangan terbesarnya adalah biaya hidup terus meningkat, pekerjaan tidak selalu stabil, dan tekanan untuk “mapan” datang dari banyak pihak seperti keluarga, pasangan, hingga standar media sosial.

Persona Ideal di Media Sosial

Banyak akun di media sosial TikTok, Instagram, atau X, yang sering membahas dan mempopulerkan gambaran pria ideal seperti produktif, estetik, cerdas secara emosional, dan tentunya sukses dalam karir. Tak hanya itu, istilah seperti “high value man” atau “alpha male” mulai menjadi standar baru, yang sayangnya sering kali sama tidak realistis seperti stereotip lama.

Banyak pria mulai merasa bahwa tidak akan ada versi maskulinitas yang cukup. Versi lama disebut toxic, veri baru terasa mustahil dicapai. Hal ini berujung pada rasa frustrasi, kecemasan, bahkan kehilangan arah.

Saatnya Menjadi Manusia, Bukan Hanya ‘Laki-Laki’

Sepertinya yang dibutuhkan pria hari ini bukan definisi baru tentang maskulinitas. Tapi izin untuk hidup menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang idak sempurna, tidak serba bisa, dan tidak harus selalu kuat sepanjang waktu.

Tekanan untuk memenuhi semua ekspektasi itu nyata, dan efeknya bisa sangat personal. Tapi tidak apa-apa jika seorang pria tidak selalu stabil. Tidak apa-apa jika ia masih belajar menjadi dewasa, bukan versi sempurna dari ‘laki-laki modern’.

Di tengah dunia yang terus berubah, menjadi manusia utuh jauh lebih penting daripada memenuhi standar yang terus bergerak.