Strategi Guru dalam Menanamkan Karakter Pancasila pada Peserta Didik

Mahasiswa Universitas Pamulang
Tulisan dari Rizky Apriyana Fadillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karakter yang tercermin dari dalam diri peserta didik merupakan hasil dari pendidikan karakter yang didapat dari sekolah dan rumah. Guru sangat berperan penting dalam membangun karakter peserta didik.
Dalam pembelajaran di sekolah guru tidak hanya menjelaskan tentang pelajaran-pelajaran teori melainkan juga mempraktekkannya dalam dunia nyata. Seorang guru harus kreatif dalam menanamkan karakter pancasila yang baik untuk muridnya. Seorang siswa akan mencerminkan karakter yang ada pada gurunya. Oleh karena itu seorang guru harus memberikan contoh karakter yang baik juga agar siswa termotivasi untuk memiliki karakter baik dalam dirinya.
Karakter pancasila merupakan karakter yang harus dimiliki para pemuda bangsa guna menjadi warga negara yang baik dan cerdas dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karakter pancasila meliputi nilai-nilai pancasila yang diterapkan dalam kehidupan. Dalam menanamkan karakter pancasila dalam diri peserta didik ada beberapa strategi yang dapat dilakukan guru yaitu
1. Nilai ketuhanan
Nilai ketuhanan yang terdapat dalam pancasila yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu menjalankan ibadah sesuai ketentuan syariat agama yang diyakini dan bersikap toleransi kepada pemeluk agama lain. Penerapan nilai ketuhanan sangat mencerminkan karakter yang baik untuk ditanamkan dalam diri peserta didik. Oleh karena itu, para guru menanamkan nilai ketuhanan dalam bentuk kegiatan seperti salat duha akbar, peringatan maulid nabi, serta kegiatan kerohanian yang lain.
2. Nilai kemanusiaan
Nilai kemanusiaan sangat berkaitan erat dalam kehidupan sehari-hari. Nilai kemanusiaan biasanya berupa sikap sopan santun, saling menghormati dan menghargai, sikap tolong menolong, dan lain sebagainya. Strategi yang dilakukan guru dalam menanamkan nilai kemanusiaan di antaranya seperti membiasakan sikap 5 S di sekolah yaitu sikap senyum, salam, sapa, sopan, dan santun kepada semua warga sekolah. Tidak hanya itu, guru juga dapat memberi sanksi tegas kepada para siswa yang bersikap tidak sopan, suka membully, dan berkelahi.
3. Nilai persatuan
Nilai persatuan merupakan nilai yang wajib dimiliki pemuda bangsa karena tanpa adanya persatuan dalam negara akan banyak terjadi perpecahan dan peperangan antar kelompok atau individu. Dalam menanamkan nilai persatuan biasanya guru menjelaskan berbagai keberagaman yang ada di Indonesia. Tak hanya itu dalam prakteknya biasanya seorang guru memberikan tugas kelompok untuk mempererat hubungan antar siswa. Piket kelas juga merupakan bentuk kegiatan yang bertujuan untuk menanamkan sikap Kerjasama dalam diri peserta didik.
4. Nilai kerakyatan
Nilai kerakyatan disini berkaitan erat dengan sikap siswa dalam bermusyawarah dalam menemukan soslusi dalam permasalahan. Seorang guru biasanya membuat grup diskusi kelompok atau perorangan serta memberi kasus permasalahan untuk di identifikasi dan di cari solusi dari permasalahan tersebut. Dalam kegiatan ini seorang guru melihat serta memberi penilaian kepada siswanya dari cara penyampaian argumen dan sikap menghargai pendapatnya.
5. Nilai Keadilan
Keadilan merupakan bentuk sikap yang harus dimiliki para peserta didik untuk menghindari kecemburuan dan permasalahan sosial. Dalam menanamkan nilai keadilan dalam diri peserta didik biasanya guru menjadi tauladan serta memberi contoh nilai keadilan dikehidupan sehari-hari seperti memberi sanksi kepada siswa yang melanggar peraturan sekolah, baik siswa tersebut anaknya kepala sekolah maupun anak orang kaya. Sanksi tersebut berlaku kepada seluruh siswa yang melanggar tanpa pandang latar belakang siswa tersebut.
Semua guru menginginkan anaknya sukses, anaknya berakhlak dan berkarakter baik dan anaknya cerdas. Dengan begutu setiap guru punya cara masing-masing dalam mendidik dan menanamkan nilai pancasila ke dalam diri peserta didiknya. Bagaianapun caranya, kita seorang guru memiliki tuntutan untuk memberi pengajaran terbaik kepada siswa-siswinya.
Nama Penulis: Risky Apriyana Fadillah
Mahasiswa Uiversitas Pamulang Prodi Pendidikan Ekonomi
