Konten dari Pengguna

Mengenal Lebih Dekat Kelompok Riset Etnobotani

Sri Handayani

Sri Handayani

Humas Pemerintah BRIN

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sri Handayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Foto dok. Marwan S. Peneliti Perekayasa BRIN/koleksi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Foto dok. Marwan S. Peneliti Perekayasa BRIN/koleksi pribadi)

Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) merupakan salah satu dari delapan Pusat Riset (PR) di bawah Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). PREE adalah satuan kerja setingkat Eselon II, yang ditetapkan berdasarkan Peraturan BRIN No.9 tahun 2022 tentang tugas, fungsi, dan struktur Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, BRIN.

Pusat riset ini memiliki visi sebagai pusat rekomendasi kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan melalui riset dan inovasi yang berkelanjutan mengenai keanekaragaman hayati, ekosistem dan pengelolaannya, dan membawahi 17 (tujuh belas) Kelompok Riset dan 7 (tujuh). Ruang lingkup meliputi layanan jasa lingkungan Ecosystem Services, Species Ecology, Integrated Landscape Ecology, Molecular Ecology, Biodiversity Management, Climate Change, and Ethnobiology.

Ruang lingkup Ethnobiology dibagi menjadi 2 Kelompok Riset (KR), yaitu KR Etnobotani dan KR Etnoekologi. Dalam tulisan ini fokus pada pengenalan KR Etnobotani, dalam melakukan kegiatannya kelompok ini menjelaskan pengungkapan pengetahuan tradisional, kearifan lokal, dan kecerdasan lokal, terkait Sumber Daya Alam Hayati tumbuhan dan pengelolaan (level jenis) untuk meningkatkan nilai guna dan berkelanjutan.

Definisi etnobotani

Etnobotani berasal dari bahasa Yunani “ethnos” yang artinya etnik/suku bangsa/kelompok masyarakat lokal dan “botani” yang artinya tumbuhan. Etnobotani merupakan salah satu cabang ilmu Biologi yang mempelajari hubungan antara tumbuhan dan suatu masyarakat lokal atau etnis tertentu.

Awalnya hubungan masyarakat lokal dengan tumbuhan berkaitan dengan pemanfaatannya dalam memenuhi kebutuhan sehari hari, antara lain sebagai bahan pangan, sandang, papan/bangunan/ konstruksi, energi/kayu bakar, obat, ritual, tali temali, anyaman, permainan anak-anak, dan pewarna alami.

Studi etnobotani memberikan kontribusi sangat besar dalam proses pengenalan sumber daya alam pada suatu daerah melalui kegiatan pengumpulan kearifan lokal bersama masyarakat. Etnobotani dapat digunakan sebagai salah satu media mendokumentasikan pengetahuan lokal masyarakat dalam memanfaatkan tumbuhan dalam menunjang kehidupannya.

Studi etnobotani bermanfaat bagi manusia, lingkungan, dan juga perlindungan terhadap pengetahuan lokal atas jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan.

Ilmu etnobotani itu merupakan jembatan antara ilmu eksakta dan non eksakta. Bidang ilmu yang terkait dalam etnobotani antara biologi, geografi, antropologi, linguistik, sejarah, kesehatan, ekologi, sosial dan lain lain. Oleh karena itu dalam penelitian etnobotani tidak hanya satu kepakaran, namun harus berkolaborasi dengan kepakaran lainnya.

Sejarah perjalanan ilmu etnobotani Indonesia

Ilmu Etnobotani secara resmi diperkenalkan Indonesia pada saat peresmian Museum Etnobotani Indonesia (MEI) oleh Prof. Dr. Habibie pada tanggal 18 Mei 1982, dengan mengusung tema “Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia”. Saat itu MEI menempati lantai dasar Gedung Herbarium, Bogor.

Pada tahun 2016, MEI revitalisasi menjadi Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia dan selanjutnya direncanakan akan mengisi seluruh lantai gedung Herbarium.

Indonesia tidak hanya memiliki sumber daya alam hayati, juga kaya akan sumber daya manusia. Setiap etnis memiliki pengetahuan dan kearifan lokal tentang tumbuhan yang ada. Pengetahuan dan kearifan lokal tersebut berupa pemanfaatan, persepsi dan konsepsi tumbuhan serta lingkungan sekitarnya.

Seiring kemajuan teknologi informasi, industri dan transportasi yang dapat menjangkau hingga ke pelosok pedalaman merupakan salah satu penyebab erosi pengetahuan lokal berbagai negara berkembang antara lain Indonesia.

Penyebab lainnya adalah terjadinya perubahan iklim, lingkungan dan adanya penyakit baru yang berkembang yang secara tidak langsung sangat berpengaruh terhadap pengetahuan dan kearifan lokal etnis Indonesia.

Riset atau penelitian etnobotani

Riset etnobotani saat ini lebih diutamakan kegiatannya dalam pengungkapan dan pemanfaatan pengetahuan, kearifan dan kecerdasan lokal terhadap tumbuhan bahan pangan (antara lain rempah nusantara, malnutrisi dan buah-buahan lokal) dan obat (antara obat diabetes, imunomudalator) serta kosmetika tradisional.

Pendekatan tata ruang dalam riset etnoekologi merupakan suatu wadah kajian untuk dapat menggambarkan bagaimana interaksi manusia dengan alam, interaksi antar sesama manusia dan peran ilmu pengetahuan dan teknologi.

Etnoekologi kontribusi antara lain dalam mengembangkan kajian model pengelolaan keanekaragaman sumber daya hayati, perubahan lingkungan, strategi adaptasi mitigasi, dan ekosistemnya terhadap perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Peneliti ahli utama, Mulyati Rahayu Kelompok Riset Etnobotani, BRIN mengatakan bahwa riset atau penelitian etnobotani saat ini lebih diutamakan kegiatannya dalam pengungkapan pemanfaatan pengetahuan, kearifan dan kecerdasan lokal terhadap tumbuhan sebagai bahan pangan, obat, serta kosmetika tradisional.

Menurutnya, rencana target tahun 2022 bersama tim riset kelompok etnobotani akan berfokus pada pengungkapan keanekaragaman tumbuhan sebagai bahan obat yaitu obat diabetes (antidiabetes), imunomodulator dan kosmetik tradisional, dan pemanfaatan tumbuhan sebagai tanaman pangan (rempah, malnutrisi, buah lokal), dengan harapan ketergantungan akan beras dapat digantikan dengan sumber karbohidrat alternatif lainnya.

Hasil dari kegiatannya adalah tersedianya data ilmiah sumber daya hayati tumbuhan untuk pengembangan yang berkelanjutan, ujar peneliti senior ini saat ditemui ruang kerja Cibinong, Bogor. Namun demikian, kegiatan riset etnobotani sebaiknya berkolaborasi dengan berbagai kalangan seperti kelompok riset etnoekologi, peneliti kesehatan, dan peneliti nutrisi. Keterpaduan riset etnobotani dengan kelompok riset lainnya seperti tersebut diatas diharapkan dapat menyelaraskan kesenjangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan ekosistem yang terbatas.

Potensi bahan alam sebagai bahan baku produk perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung program pembangunan. Untuk itu, Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, BRIN melakukan sejumlah kegiatan riset untuk menggali potensi tersebut, antara lain pengembangan bahan baku obat dan kosmetika berbasis bahan alami lokal, sumber karbohidrat pengganti beras, kejayaan rempah nusantara dan buah-buahan lokal tetap berkelanjutan.

Diharapkan hasil akhir kegiatan riset etnobotani dapat menjadi gagasan sebagai solusi penanganan dan pencegahan serta pengembangan produk alami untuk mengatasi permasalahan obat (diabetes, imunomodulator), kosmetik, dan pangan (berbasis pengetahuan etnobotani nusantara).(sh).