news-card-video
29 Ramadhan 1446 HSabtu, 29 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna

Mengenal Post-Truth dan Perkembangannya di Era Digital

Heru Wahyudi
Dosen di Prodi Administrasi Negara Universitas Pamulang
18 Juli 2023 11:14 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Heru Wahyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi fenomena Post-Truth yang mewabah di Era Digital (Sumber : indonesia.go.id)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fenomena Post-Truth yang mewabah di Era Digital (Sumber : indonesia.go.id)
ADVERTISEMENT
Perkembangan era digital yang semakin maju telah memunculkan fenomena yang sangat mengkhawatirkan, yaitu post-truth. Dalam konteks ini, fakta objektif menjadi kurang berpengaruh dalam membentuk pandangan masyarakat, karena emosi, keyakinan pribadi, dan narasi yang menguntungkan sering kali memiliki peran yang lebih besar dalam mempengaruhi persepsi daripada fakta yang dapat diverifikasi.
ADVERTISEMENT
Media sosial dan kemajuan teknologi memainkan peran sentral dalam penyebaran post-truth di era digital. Media sosial memberikan platform yang luas bagi penyebaran informasi, termasuk berita palsu atau hoaks.
Sayangnya, dalam beberapa kasus, berita palsu dapat menyebar lebih cepat daripada fakta yang sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh kemudahan berbagi informasi tanpa verifikasi yang memadai di media sosial.
Berita palsu di era digital memiliki dampak yang berbahaya. Masyarakat sering kali menghadapi kesulitan dalam membedakan antara informasi yang benar dan yang palsu. Bahaya ini semakin meningkat karena sulitnya membedakan video asli dan palsu. \
Teknologi telah memungkinkan pembuatan video palsu yang sangat meyakinkan. Karena itu, keterampilan literasi digital menjadi sangat penting dalam mengatasi efek negatif dari berita palsu.
ADVERTISEMENT
Dalam menghadapi perkembangan post-truth di era digital, sangat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan literasi digital. Literasi digital melibatkan kemampuan seseorang dalam menyaring dan menggunakan informasi dengan bijak menggunakan perangkat digital seperti internet.
Dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, pengguna perangkat digital harus mampu beradaptasi dan memahami dunia digital tersebut, baik sebagai produsen maupun konsumen.
Selain itu, penguatan pada aspek-aspek seperti pelatihan literasi digital bagi para pemimpin dalam dunia pendidikan juga perlu dilakukan. Dengan demikian, mereka dapat menjadi agen perubahan yang mampu membantu masyarakat dalam menghadapi tantangan post-truth di era digital.
Dalam kesimpulannya, perkembangan post-truth di era digital memiliki dampak terhadap cara masyarakat memperoleh dan memahami informasi. Oleh karena itu, sangat penting bagi individu untuk meningkatkan keterampilan literasi digital guna melawan efek negatif dari berita palsu.
ADVERTISEMENT
Dengan pemahaman yang baik tentang konsep post-truth dan perkembangannya di era digital, masyarakat dapat menjadi lebih kritis dan cerdas dalam menghadapi informasi yang mereka terima.

Post-Truth dalam Konteks Politik Indonesia

Ilustrasi politik identitas. Foto: Shutter Stock
Pengaruh fenomena post-truth terhadap politik Indonesia sangat signifikan dan berdampak pada opini publik serta ketahanan nasional. Berbagai hal perlu dipahami dalam konteks ini.
Dalam politik Indonesia, post-truth memiliki pengaruh yang serius. Hoaks politik yang tersebar di era post-truth dapat mengganggu stabilitas politik dan ketahanan nasional.
Penyebaran hoaks politik juga berpotensi memicu konflik sosial dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik. Bahkan, hoaks politik dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mempengaruhi opini publik dan memenangkan dukungan politik.
Dampak post-truth terhadap opini publik di Indonesia juga banyak dampaknya. Penyebaran hoaks politik mampu mempengaruhi opini publik dan memicu polarisasi di masyarakat.
ADVERTISEMENT
Media sosial menjadi salah satu sarana utama dalam penyebaran hoaks politik dan memengaruhi opini publik. Efek dari hoaks politik juga dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan sulit untuk diperbaiki.
Studi kasus pemilihan presiden tahun 2019 menjadi contoh nyata bagaimana post-truth mempengaruhi politik Indonesia. Penyebaran hoaks politik dalam pemilihan presiden dapat mempengaruhi opini publik dan memicu polarisasi di masyarakat. Media sosial juga menjadi platform penting untuk penyebaran hoaks politik dalam konteks pemilihan presiden tersebut.
Dalam menghadapi pengaruh post-truth dalam politik Indonesia, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan literasi digital dan menjadi kritis dalam menyaring informasi yang diterima. Keterampilan ini akan membantu individu dalam membedakan antara fakta dan hoaks politik.
ADVERTISEMENT
Selain itu, peran media dan institusi politik juga sangat penting dalam memerangi hoaks politik. Tindakan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas politik dan ketahanan nasional.

Post-Truth dan Media Sosial

Ilustrasi bermain sosial media. Foto: photobyphotoboy/Shutterstock
Media sosial telah menjadi salah satu faktor utama dalam penyebaran fenomena post-truth di era digital. Peran media sosial dalam penyebaran post-truth dan dampaknya terhadap persepsi kebenaran perlu dipahami dengan baik.
Media sosial memberikan kemampuan kepada pengguna untuk dengan cepat dan luas menyebarkan informasi tanpa melalui proses verifikasi yang memadai.
Selain itu, media sosial juga memberikan kebebasan kepada pengguna untuk memproduksi dan menyebarkan informasi tanpa batasan yang jelas. Hal ini memungkinkan penyebaran berita palsu dan hoaks politik menjadi lebih mudah dan cepat.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks persepsi kebenaran, media sosial dapat memperkuat persepsi kebenaran yang salah dan memperburuk polarisasi di masyarakat. Pengguna media sosial sering kali terjebak dalam filter bubble, di mana mereka hanya terpapar pada informasi yang sesuai dengan pandangan mereka. Hal ini memperkuat pemisahan opini dan memperdalam jurang pemahaman di antara kelompok yang berbeda.
Selain itu, media sosial juga dapat memperkuat efek backfire, di mana pengguna semakin mempertahankan pandangan mereka meskipun terpapar pada fakta yang bertentangan. Informasi yang salah atau hoaks yang tersebar di media sosial dapat mengakibatkan pengguna semakin memperkuat keyakinan mereka sendiri tanpa menghiraukan fakta yang jelas.
Dalam menghadapi pengaruh post-truth dan media sosial, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan literasi digital dan menjadi kritis dalam menyaring informasi yang diterima.
ADVERTISEMENT
Individu perlu mampu membedakan antara fakta dan informasi yang tidak dapat diverifikasi. Selain itu, peran media dan institusi politik juga menjadi kunci dalam memerangi hoaks politik dan menjaga stabilitas politik serta ketahanan nasional.

Penanggulangan Post-Truth di Era Digital

Ilustrasi informasi digital. Foto: Shutter Stock
Fenomena post-truth di era digital telah menjadi perhatian serius, dan penanggulangannya membutuhkan upaya yang terintegrasi dari berbagai pihak. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipahami dalam menghadapi post-truth di era digital.
Peran jurnalis sangat penting dalam memerangi hoaks politik dan post-truth dengan menyajikan fakta yang akurat dan terverifikasi. Jurnalis dapat membantu masyarakat dalam menyaring informasi yang diterima dan memperkuat keterampilan literasi digital.
Selain itu, mereka juga dapat membantu masyarakat dalam memahami kompleksitas isu politik dan sosial yang sering kali disederhanakan dalam narasi post-truth.
ADVERTISEMENT
Pendidikan jurnalis perlu ditingkatkan untuk memperkuat keterampilan literasi digital dan kritis dalam menyaring informasi. Mereka perlu memiliki kemampuan yang kuat dalam memverifikasi informasi dan menyajikan fakta yang akurat.
Selain itu, pendidikan jurnalis juga perlu memperkuat kemampuan dalam memahami kompleksitas isu-isu politik dan sosial serta menghindari penyederhanaan yang berlebihan.
Selain peran jurnalis, faktor-faktor lain juga memiliki peran penting dalam mengurangi efek post-truth. Pendidikan literasi digital perlu ditingkatkan agar masyarakat memiliki keterampilan yang kuat dalam menyaring informasi.
Peran media sosial dan perusahaan teknologi juga penting dalam memerangi hoaks politik dan post-truth melalui langkah-langkah seperti pengembangan algoritma yang dapat membatasi penyebaran berita palsu. Selain itu, institusi politik juga memiliki peran dalam memerangi hoaks politik dan post-truth guna menjaga stabilitas politik dan ketahanan nasional.
ADVERTISEMENT
Dalam menghadapi pengaruh post-truth di era digital, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan literasi digital dan kritis dalam menyaring informasi yang diterima. Peran jurnalis, media sosial, perusahaan teknologi, dan institusi politik juga penting dalam upaya penanggulangan hoaks politik dan post-truth.
Dengan pemahaman yang baik tentang konsep post-truth dan upaya penanggulangannya, masyarakat dapat menjadi lebih kritis dan cerdas dalam menghadapi informasi yang mereka terima.
Secara kesimpulan, penanggulangan post-truth di era digital memerlukan kerja sama dan koordinasi dari berbagai pihak. Peran jurnalis, media sosial, perusahaan teknologi, institusi politik, dan masyarakat saling terkait dalam upaya memerangi hoaks politik dan post-truth.

Fenomena Post-Truth di Era Digital dan Upaya Mengatasinya

Ilustrasi informasi digital. Foto: Shutter Stock
Fenomena post-truth di era digital telah menarik perhatian yang serius, dan berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi dampak negatifnya.
ADVERTISEMENT
Salah satu langkah penting adalah meningkatkan keterampilan literasi digital dan kritis dalam menyaring informasi yang diterima. Berikut adalah ringkasan tentang kesimpulan dari fenomena post-truth di era digital.
Post-truth adalah konsep yang merujuk pada situasi di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini dan pandangan masyarakat. Media sosial menjadi faktor utama dalam penyebaran post-truth di era digital. Penyebaran hoaks politik dapat berdampak negatif terhadap stabilitas politik dan ketahanan nasional.
Fenomena post-truth memiliki implikasi penting, antara lain memperburuk polarisasi dan persepsi kebenaran yang salah di masyarakat.
Oleh karena itu, pendidikan literasi digital dan kritis perlu ditingkatkan agar masyarakat memiliki keterampilan yang kuat dalam menyaring informasi. Selain itu, peran jurnalis, media sosial, perusahaan teknologi, institusi politik, dan masyarakat menjadi penting dalam memerangi hoaks politik dan post-truth.
ADVERTISEMENT
Dalam menghadapi pengaruh post-truth di era digital, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan literasi digital dan kritis dalam menyaring informasi yang diterima.
Upaya kolektif dari jurnalis, media sosial, perusahaan teknologi, institusi politik, dan masyarakat juga penting dalam memerangi hoaks politik dan post-truth demi menjaga stabilitas politik dan ketahanan nasional.
Kesimpulannya, fenomena post-truth di era digital memiliki dampak terhadap cara masyarakat memperoleh dan memahami informasi. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk meningkatkan keterampilan literasi digital dan kritis dalam menghadapi efek negatif dari post-truth.
Dengan pemahaman yang baik tentang konsep post-truth dan upaya penanggulangannya, masyarakat dapat menjadi lebih kritis dan cerdas dalam menghadapi informasi yang mereka terima.