Konten dari Pengguna

Dari Jalan Rusak ke Kampung Kopi: Ketika Anak Bicara Kawasan Transmigrasi

Sariffuddin

Sariffuddin

Mengajar statistik di Universitas Diponegoroe

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sariffuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Catatan Patriot Cilik di SD Soom, Senggi, Papua oleh Tim 16 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro
zoom-in-whitePerbesar
Catatan Patriot Cilik di SD Soom, Senggi, Papua oleh Tim 16 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro

Sari menggambar jalan beraspal, sebuah bus, dan bangunan yang ia sebut rumah sakit. Saat itu, ia masih duduk di kelas VI SD Negeri Tokelemo, Palolo, Sulawesi Tengah. Kami bertanya alasan ia menggambar rumah sakit. Sari bercerita bahwa ia dan keluarganya harus menempuh perjalanan lebih dari tiga jam ke Desa Tongoa untuk berobat.

"Kalau jalan bagus atau ada rumah sakit di sini, pasti orang-orang tambah senang,” ucapnya.

Sari tidak menggunakan istilah pelayanan dasar atau pusat pertumbuhan. Ia bercerita tentang pengalaman sendiri, tentang perjalanan melelahkan saat sakit dan fasilitas kesehatan yang tidak tersedia di kampungnya.

Di bangku lain, Tian, teman sekelas Sari, asyik menggambar sebuah bangunan kafe. Orang tua Tian sehari-hari membuka warung kelontong kecil dan mengolah biji kopi secara tradisional. Saat ditanya tentang gambar tersebut, ia menjawab penuh antusias.

"Aku ingin membuka pabrik pengolahan kopi dan kafe… kita juga bisa buat kampung kopi, Kak.”

Kopi dan kakao memang tumbuh subur di sekitar rumah warga. Kami kemudian bertanya siapa yang akan berkunjung ke tempat yang cukup jauh dari pusat kota itu, Tian dengan lugas menyebut bahwa tanaman anggrek yang tumbuh subur dapat menarik warga kota untuk datang ke kampungnya.

Tian mungkin belum mengenal istilah hilirisasi komoditas, pariwisata berbasis potensi lokal, lebih-lebih mampu menyusun dokumen perencanaan wilayah. Ia hanya melihat apa yang tumbuh di sekitarnya, apa yang dikerjakan orang tuanya, lalu membayangkan bagaimana potensi itu bisa membuat kampungnya lebih hidup.

Sari melihat fasilitas yang belum tersedia, sedangkan Tian melihat potensi yang sudah ada. Keduanya sama-sama berbicara tentang pembangunan, tapi bukan dengan bahasa orang dewasa.

Pembangunan dalam Bahasa Anak

Pengalaman dengan anak-anak ini kami temui melalui Catatan Patriot Cilik, salah satu kegiatan dari Tim Ekspedisi Patriot. Program ini mengajak anak-anak mengenali lingkungan, melihatnya melalui peta, kemudian menggambar kondisi kampung dan tempat yang mereka impikan. Kegiatan dimulai bersama 20 siswa di Palolo pada tahun 2025, kemudian menjangkau 20 siswa SD Negeri Soom di Senggi. Bulan depan, kegiatan ini direncanakan berlanjut bersama 20 siswa SD Inpres Senggi.

Setahun setelah kegiatan di Palolo, dinamika serupa kami temukan di pedalaman Papua. Natanael, siswa dari SP 2 Woslay, menggambar wilayahnya sebagai pertanian yang maju, sementara anak-anak lain menggambar beberapa fasilitas seperti lapangan sepak bola, tempat bermain bulu tangkis, hingga kolam renang.

Persoalan wilayah yang dibicarakan orang dewasa juga muncul dalam cerita anak-anak, meski dibahas dengan cara yang jauh berbeda. Orang dewasa di Palolo lebih banyak mendiskusikan batas wilayah, kepemilikan tanah, konflik agraria, hingga produktivitas pertanian. Sedangkan anak-anak menunjukkannya melalui jalan berbatu, jembatan rusak, genangan air hujan, kebun kosong, dan fasilitas yang mereka inginkan.

Pengamatan ini sempat menarik perhatian kepala desa setempat. Dalam percakapan santai setelah forum, ia menyampaikan bahwa persoalan yang selama ini dibicarakan orang dewasa ternyata juga dirasakan anak-anak melalui gambar mereka.

Bagi orang dewasa, jalan adalah bagian dari jaringan infrastruktur. Bagi Sari, jalan adalah perjalanan tiga jam saat sakit. Bagi perencana wilayah, kopi mungkin sebuah komoditas. Bagi Tian, kopi adalah sesuatu yang tumbuh di sekitar rumah, diolah orang tuanya, dan bisa menjadi pabrik sekaligus kafe. Gambar anak-anak ini bukanlah instruksi pembangunan, melainkan jendela untuk memahami bagaimana sebuah wilayah diobservasi dan dibayangkan oleh penghuninya.

Membaca Cerita Anak dengan Cara Berbeda

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan gagasan mengenai partisipasi anak. Laporan Analisis Situasi Partisipasi Anak dan Remaja serta Keterlibatan di Masyarakat Indonesia oleh UNICEF Indonesia mencatat adanya ruang partisipasi anak, antara lain melalui Forum Anak dan Musrenbang. Anak dapat menyampaikan gagasan bukan hanya secara lisan, tapi melalui tulisan, karya seni, maupun media lain yang mereka pilih.

Namun, hasil survei memperlihatkan bahwa hanya 13 persen remaja yang pernah benar-benar berpartisipasi di forum tersebut. Sebagian besar karena tidak tahu caranya, atau tidak pernah diundang. Dari sini terlihat bahwa keberadaan ruang partisipasi belum otomatis membuat anak-anak dapat menggunakannya. Bagi mereka yang ikut pun, forum formal belum tentu bisa menangkap apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan.

Anak-anak lebih mudah menunjukkan jembatan rusak daripada menjelaskan persoalan konektivitas. Mereka bisa menggambar kolam renang tanpa menyebut kebutuhan ruang rekreasi, dan ingin membuat kampung kopi tanpa mengenal istilah pengembangan ekonomi berdasarkan potensi lokal.

Catatan Patriot Cilik menjembatani celah tersebut dengan pendekatan visual. Anak-anak diajak berjalan menyusuri kampung, menunjukkan sesuatu di peta, lalu menggambar apa yang mereka lihat dan kampung yang mereka inginkan. Percakapan yang lahir dari proses ini menuntun kami pada cerita-cerita otentik tentang perjalanan berobat, mimpi mendirikan kedai kopi, dan harapan agar tanah pertanian di Woslay semakin subur.

Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Af’idatul Husniyah dalam Ngopi as Methodology tentang pengetahuan yang dapat tumbuh dari percakapan cair, bukan hanya wawancara formal. Catatan Patriot Cilik tentu bukan pengganti survei, FGD, Musrenbang, Forum Anak, ataupun data perencanaan. Pendekatan ini menawarkan satu cara tambahan untuk menghadirkan pengalaman dan aspirasi anak dalam pembangunan wilayah transmigrasi.

Anak-anak dan Masa Depan Wilayah

Proyek transmigrasi tidak selesai setelah jalan diaspal, rumah-rumah dibangun, atau target program terlaksana. Sebuah wilayah baru terus berubah bersama dengan orang-orang yang menetap di dalamnya.

Anak-anak yang sekarang duduk di bangku sekolah akan tumbuh bersama perubahan tersebut. Sepuluh tahun lagi, sebagian dari mereka mungkin sudah menjadi mahasiswa. Dua puluh tahun lagi, mereka mungkin sudah bekerja, membuka usaha, menjadi petani, guru, aparatur desa, atau mengambil keputusan tentang kampungnya.

Gambar-gambar mereka hari ini tidak harus menjadi desain pembangunan dua puluh tahun mendatang. Mendengarkan mereka adalah bentuk pengakuan bahwa mereka adalah subjek hidup di tanah sendiri. Mereka menggunakan jalan, pergi ke sekolah, melihat kebun dan sungai, merasakan jauh-dekatnya fasilitas, serta membutuhkan ruang untuk bermain.

Bu Supini, guru yang mendampingi Sari dan Tian, menuturkan bahwa anak-anak menjadi lebih berani bermimpi setelah ruang ekspresi itu dibuka. Mereka tidak hanya peka membaca persoalan dan potensi kampungnya, tapi juga mulai berani membayangkan tempat tinggal yang mereka inginkan.

Meski demikian, kami sadar pengalaman dan catatan dari beberapa sekolah ini belum cukup mewakili suara anak di seluruh kawasan transmigrasi. Perjalanan ini masih panjang. Namun, dari bilik-bilik kelas di Palolo dan Senggi itulah kesadaran seharusnya mengusik hati kita.

Jangan sampai dua dekade kita habis untuk merancang wilayah tanpa mendengar anak-anak yang kelak akan hidup dalam rancangan tersebut.

Ket: Nama orang-orang dalam tulisan disamarankan untuk menjaga privasi.