Jejak Kemanusiaan di Aceh Tamiang: Belajar Ketabahan dari Para Penyintas

- Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau - Aktivisis Sosial dan Masyarakat - Relawan Kemanusiaan dan Respon Tanggap Bencana
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rafi Mulyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sembilan bulan telah berlalu sejak kabar duka itu datang, pada 26 November 2025. Rangkaian bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrim meluluhlantakkan wilayah Aceh Tamiang, serta sebagian besar wilayah Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Dari Kota Pekanbaru, tim respon kebencanaan Dompet Dhuafa Riau berembuk, merapatkan barisan, dan memutuskan untuk memberangkatkan delapan orang relawan melalui jalur darat pada 3 Desember 2025.
Saya masih ingat betul suasana rapat kecil sebelum keberangkatan itu. Tidak ada yang berbicara panjang lebar. Semua orang sudah tahu tugasnya masing-masing, tapi ada semacam keheningan yang menandakan bahwa kami sedang bersiap menghadapi sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dipersiapkan. Bencana selalu begitu sebesar apa pun kesiapan logistik, hati tetap harus menyiapkan diri sendiri.
Perjalanan darat itu dipenuhi berbagai rintangan dan tantangan berat. Jalan yang ditempuh berjam-jam, pergantian pengemudi di tengah malam, dan obrolan-obrolan singkat di dalam mobil yang perlahan berubah dari candaan ringan menjadi diam yang panjang, seolah masing-masing dari kami mulai membayangkan apa yang akan kami temui di ujung perjalanan. Hingga akhirnya, pada 6 Desember 2025, kami berhasil menjejakkan kaki di tanah Aceh Tamiang.
Aroma tanah basah sisa endapan lumpur, pemandangan puing-puing bangunan dan kendaraan yang terseret arus, serta keheningan mencekam yang menyelimuti sisa-sisa amukan banjir bandang langsung menyambut indra kami. Suasana itu menghadirkan kejut batin yang nyata sebuah lanskap kerusakan yang mengisyaratkan betapa rapuhnya manusia di hadapan kekuatan alam. Saya berdiri sejenak di tengah reruntuhan itu, mencoba menata napas, mencoba meyakinkan diri bahwa saya datang bukan untuk terpaku pada kehancuran, melainkan untuk menjadi bagian kecil dari proses memulihkannya.
Berkoordinasi dengan tim yang lebih dulu tiba di lapangan, kami diarahkan menuju Gampong Mananggini, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Setibanya di sana, kami mendapati desa tersebut terisolir total akibat timbunan material banjir bandang yang memutus akses darat antar desa. Tanpa ragu, bersama tim, saya memutuskan untuk berjalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer membawa logistik demi menjangkau dan melakukan asesmen bagi masyarakat terdampak.
Lima kilometer itu bukan sekadar jarak. Di setiap langkah, saya melewati sisa-sisa kehidupan, melihat sebuah lemari es yang tersangkut di pohon, rumah yang hilang hanya sisa lantai, foto keluarga yang warnanya sudah pudar oleh air. Saya belajar, pada titik itu, bahwa kepedulian tidak selalu berbentuk kata-kata penghiburan. Kadang kepedulian hanya berarti hadir, berjalan, dan ikut merasakan beratnya beban yang dipikul orang lain, meski hanya sedikit dan sebentar.
Di tengah perjalanan yang melelahkan itu, langkah kami dipandu oleh seorang warga setempat yang akrab kami sapa Wak Epi. Beliau adalah sosok pertama yang kami jumpai di posko umum, berjalan dengan penerangan seadanya dan tanpa alas kaki, namun memancarkan semangat luar biasa untuk segera mengantarkan bantuan kepada warga desanya. Saya memperhatikan langkahnya yang mantap menyusuri jalan berlumpur itu, seolah tanah yang baru saja menghancurkan rumahnya tidak lagi punya kuasa untuk menghentikannya. Ada kesabaran yang tidak diucapkan dalam diri Wak Epi kesabaran yang lahir bukan dari ketiadaan rasa sakit, melainkan dari keputusan untuk terus melangkah meski rasa sakit itu belum reda.
Tak lama berselang, di tengah rute yang menantang, kami berpapasan dengan seorang gadis kecil, cucu Wak Epi, yang menyambut kedatangan kami dengan senyum begitu sumringah dan ceria. Tawanya memecah kesunyian dan beratnya suasana pascabencana. Saya berjongkok sejenak menyapanya, dan dari matanya yang polos itu saya menemukan sesuatu yang sulit saya jelaskan sebuah pengingat bahwa di tengah kehilangan sebesar apa pun, kehidupan tetap mencari caranya sendiri untuk tersenyum.
Semula, dalam benak saya, kedatangan kami ke tempat ini adalah untuk menguatkan, memberikan nasihat kesabaran, serta membesarkan hati para penyintas. Namun, interaksi sederhana bersama Wak Epi dan cucunya membalikkan sudut pandang saya secara drastis. Saya menyadari bahwa kamilah yang sebenarnya sedang belajar tentang arti ketabahan yang sesungguhnya dari mereka. Kemanusiaan, saya pahami malam itu, bukanlah relasi searah dari yang "memberi" kepada yang "menerima". Kemanusiaan adalah pertemuan dua kerentanan yang saling menguatkan kerentanan penyintas yang kehilangan rumah, dan kerentanan relawan yang datang dengan segala keterbatasannya sendiri.
Malam itu, setelah distribusi bantuan makan malam selesai dan asesmen kebutuhan utama warga tuntas dilaksanakan, kami kembali ke posko dengan membawa segudang renungan. Saya termenung sejenak, memandangi langit Aceh Tamiang yang gelap dan sunyi, dan mencoba merangkai kembali apa yang baru saja saya alami. Pengalaman di Gampong Mananggini mengajarkan saya bahwa esensi sejati dari seorang relawan bukanlah sekadar mendistribusikan logistik atau mencatat daftar kerugian material.
Lebih dari itu, hadir sebagai relawan berarti belajar mendengarkan dengan empati, membersamai dalam kesunyian, dan merendahkan hati. Penderitaan tidak boleh dieksploitasi sekadar untuk menumbuhkan rasa iba ia harus dihormati sebagai sebuah ujian martabat manusia, di mana kekuatan batin para penyintas justru menjadi cermin refleksi paling berharga bagi perjalanan hidup kita sendiri.
Di sanalah saya juga belajar arti kesabaran yang sesungguhnya bukan kesabaran menunggu bantuan datang, melainkan kesabaran untuk terus berjalan meski jalan telah hilang, kesabaran untuk tetap tersenyum meski rumah telah tiada, dan kesabaran seorang relawan untuk menahan diri agar tidak buru-buru menyimpulkan penderitaan orang lain hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Bencana mungkin merenggut tempat tinggal dan harta benda, tetapi ia tidak pernah mampu memadamkan semangat, ketulusan dan senyuman di wajah anak-anak Gampong Mananggini. Dari tanah Aceh Tamiang, saya pulang membawa jejak langkah yang berbeda bukan sekadar kenangan tentang perjalanan kemanusiaan, melainkan sebuah keyakinan baru bahwa kepedulian sejati selalu berakar dari kerendahan hati untuk saling menguatkan.
Dari sanalah saya memahami bahwa hikmah terbesar dari menjadi relawan kebencanaan bukan terletak pada seberapa besar bantuan yang berhasil kami salurkan, melainkan pada seberapa jujur kami bersedia diubah oleh pengalaman itu sendiri. Setiap lokasi bencana adalah ruang belajar yang tidak pernah mengajarkan hal yang sama dua kali. Ia mengajarkan bahwa penderitaan dan harapan bisa hadir bersamaan dalam satu wajah, bahwa kekuatan sejati sering kali lahir dari orang-orang yang kehilangan segalanya namun tetap memilih untuk bangkit, dan bahwa perjuangan kemanusiaan yang paling murni adalah perjuangan yang dilakukan tanpa pamrih, tanpa perlu disaksikan, dan tanpa mengharap balasan apa pun selain melihat senyum kembali hadir di wajah-wajah yang sempat diselimuti duka.
Sembilan bulan setelah kejadian itu, ketika saya menuliskan kembali kisah ini, saya sadar satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang, bahwa menjadi relawan bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita berikan, melainkan seberapa dalam kita bersedia belajar dari mereka yang justru kita datangi untuk dibantu.
