Pascabencana: Sampai Kapan Trauma Anak-Anak Bertahan?

- State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau Student - Social and Community Activist - Humanitarian and Disaster Response Volunteer
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rafi Mulyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perahu mesin itu berangkat sebelum matahari sepenuhnya terbit. Di dalamnya, tenaga kesehatan, tim pendukung psikososial, duduk berdesakan di antara kotak logistik dan tas peralatan medis. Tiga hingga empat jam ke depan, sungai menjadi satu-satunya jalan menuju Desa Sekumur, sebuah titik isolasi di Aceh Tamiang yang terputus dari dunia luar sejak banjir bandang menerjang.

Pada hari kedua kehadiran tim di Sekumur, sebuah kegiatan sederhana namun krusial digelar Psychological First Aid (PFA), atau Dukungan Psikologis Awal. Berbeda dengan distribusi logistik yang bersifat fisik, PFA menyasar sesuatu yang lebih rapuh rasa aman, kepercayaan, dan ruang bagi anak untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam panduan Psychological First Aid: Guide for Field Workers menegaskan bahwa PFA bukanlah terapi klinis, melainkan bentuk dukungan manusiawi yang humanis mendengarkan tanpa menghakimi, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, dan menghubungkan penyintas dengan sumber dukungan sosial mereka. Prinsip ini penting sebab pada fase akut pasca bencana, intervensi psikologis yang terlalu dini dan bersifat memaksa (seperti debriefing psikologis formal) justru terbukti dalam beberapa penelitian dapat memperburuk kondisi, bukan meringankannya.
Pada kegiatan relawan dan tim , membagikan kertas dan pensil warna, lalu membiarkan anak-anak menggambar apa saja yang ada di kepala mereka. Gambar, dalam konteks trauma anak, bukan sekadar aktivitas pengisi waktu adalah bahasa yang lebih jujur daripada kata-kata.
Kemudian, dengan nada polos yang justru membuat siapa pun yang mendengarnya terdiam, ia bertanya:
"Apakah bisa kita membuat rumah lebih tinggi dari bukit-bukit agar kami tidak terdampak dari banjir lagi?"
Pertanyaan itu sederhana secara bahasa, namun sarat secara psikologis. Ia bukan sekadar pertanyaan tentang arsitektur atau mitigasi bencana. Ia adalah manifestasi dari rasa tidak aman yang mendalam, sebuah upaya kognitif seorang anak untuk mengendalikan kembali dunia yang baru saja terasa runtuh di bawah kakinya.
Dalam literatur psikologi trauma anak, fenomena ini dikenal sebagai upaya mastery atau penguasaan kembali atas situasi yang tidak terkendali. Anak-anak, yang secara kognitif belum memiliki kerangka penuh untuk memahami bencana alam sebagai peristiwa acak dan di luar kendali manusia, cenderung mencari solusi konkret sesuatu yang bisa "diperbaiki" sebagai mekanisme untuk meredakan kecemasan eksistensial yang mereka rasakan.
Pertanyaan paling mendesak setelah momen semacam itu adalah sampai kapan luka ini akan ada dalam diri anak tersebut?
Fase Respons Stres Akut (0–1 Bulan)
Segera setelah bencana, hampir seluruh anak yang terdampak menunjukkan gejala stres akutketakutan berlebihan, sulit tidur, menempel erat pada orang tua, hingga menangis tanpa sebab yang jelas. Menurut National Child Traumatic Stress Network (NCTSN), reaksi ini adalah respons neurobiologis yang wajar terhadap ancaman ekstrem, bukan indikasi gangguan mental permanen. Pada fase ini, sistem saraf otonom anak berada dalam mode "bertahan hidup" amigdala bekerja berlebihan sementara korteks prefrontal, yang bertanggung jawab atas regulasi emosi, belum sepenuhnya mampu meredam respons tersebut.
Fase Pemulihan Alami dan Resiliensi (3–6 Bulan)
Sejumlah studi longitudinal pasca bencana besar termasuk penelitian terhadap anak-anak penyintas Badai Katrina dan tsunami Aceh 2004 menunjukkan bahwa sebagian besar anak (diperkirakan 70–80 persen) mengalami penurunan gejala secara bertahap dalam rentang tiga hingga enam bulan, terutama jika mereka kembali ke rutinitas yang stabil, memiliki figur pengasuhan yang responsif, dan lingkungan sosial yang mendukung. Fenomena ini dikenal sebagai natural resilience kapasitas psikologis alami manusia, termasuk anak-anak, untuk pulih dari peristiwa traumatis tanpa memerlukan intervensi klinis intensif.
Namun, resiliensi ini bukan sesuatu yang otomatis. Ia sangat bergantung pada apa yang oleh psikolog perkembangan disebut sebagai protective factors faktor-faktor pelindung, terutama stabilitas relasi dengan pengasuh utama.
Fase Risiko Kronis: PTSD dan Trauma Berkepanjangan (Lebih dari 6 Bulan hingga Bertahun-tahun)
Bagi sebagian anak diperkirakan 15 hingga 30 persen tergantung tingkat keparahan bencana dan kerentanan individu gejala tidak mereda, melainkan mengkristal menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menemukan bahwa tanpa intervensi yang tepat, gejala PTSD pada anak dapat bertahan hingga bertahun-tahun setelah peristiwa awal, bahkan berlanjut hingga masa remaja dan dewasa dalam bentuk gangguan kecemasan, depresi, atau kesulitan membangun relasi interpersonal yang aman.
Anak-anak tidak memiliki kosakata orang dewasa untuk menyebut kecemasan mereka sebagai "kecemasan". Yang mereka miliki hanyalah gambar, pertanyaan sederhana, dan cara-cara kecil untuk mencoba mengendalikan dunia yang terasa runtuh. Tugas kita sebagai Relawan , tenaga kesehatan, psikolog, maupun sesama manusia bukan untuk menjawab pertanyaan itu secara harfiah, melainkan untuk mendengarnya sebagai apa adanya sebuah jeritan batin yang dibungkus kepolosan.
Di ujung perjalanan panjang menyusuri sungai menuju Sekumur, dan di ujung setiap kisah pemulihan anak-anak pasca bencana, ada dua nilai yang tak tertulis dalam jurnal ilmiah manapun, namun terasa hadir di setiap langkah tim relawan: keikhlasan dan kesabaran.
Keikhlasan mengajarkan bahwa pemulihan jiwa anak bukanlah proses yang dapat dipaksakan cepat selesai demi memenuhi target laporan kemanusiaan. Ia adalah proses organik yang membutuhkan waktukadang tiga bulan, kadang bertahun-tahun dan setiap fase perlu dihormati tanpa terburu-buru menuntut anak untuk "sudah baik-baik saja".
Kesabaran, di sisi lain, adalah nyawa dari setiap pendekatan psikososial yang benar. Ia hadir dalam diri relawan yang duduk berjam-jam mendengarkan anak bercerita lewat gambar tanpa menginterupsi, dalam diri orang tua yang berusaha pulih sendiri agar mampu menjadi tempat berlindung yang aman bagi anaknya, dan dalam diri seluruh masyarakat yang memilih untuk terus hadir bagi penyintas jauh setelah kamera media meninggalkan lokasi bencana.
Sebab pada akhirnya, luka batin anak-anak Sekumur dan anak-anak penyintas bencana di mana pun mereka berada tidak akan sembuh oleh bantuan logistik semata, melainkan oleh kehadiran yang konsisten, sabar, dan tulus dari orang-orang di sekitar mereka sebuah rumah yang bukan hanya lebih tinggi dari bukit secara fisik, melainkan rumah dalam arti yang lebih dalam rasa aman yang dibangun kembali, perlahan, dari reruntuhan
