Konten dari Pengguna

Terhubung Lewat Aksi: Saat Kepedulian Sosial Membentuk Mental Pemuda Berdaya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafi Mulyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto: Rafi Mulyawan Ekspedisi Arjuna Mandala Kampar Kiri Hulu
zoom-in-whitePerbesar
foto: Rafi Mulyawan Ekspedisi Arjuna Mandala Kampar Kiri Hulu

Kita hidup di zaman ketika manusia semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat. Satu sentuhan layar membuat kita bisa mengetahui kabar seseorang di tempat yang jauh, mengikuti berbagai isu sosial, bahkan menyaksikan bencana dalam hitungan detik. Namun, di tengah derasnya arus informasi itu, tidak sedikit anak muda yang justru merasa semakin sendiri, lelah, atau kehilangan arah.

Kita memiliki banyak ruang untuk berbicara, tetapi semakin sedikit waktu untuk benar-benar mendengarkan. Kita tahu begitu banyak persoalan di sekitar kita, tetapi sering kali berhenti pada rasa prihatin di layar. Kita melihat berita tentang kemiskinan, bencana, lingkungan yang rusak, anak-anak yang kehilangan ruang belajar, hingga berbagai persoalan sosial lainnya. Pertanyaannya kemudian sederhana: setelah melihat semua itu, apa yang kita lakukan?

Barangkali, salah satu persoalan anak muda hari ini bukan karena kita tidak peduli. Bisa jadi, kita hanya belum menemukan ruang untuk mengubah kepedulian menjadi tindakan.

Ketika Kepedulian Tidak Lagi Berhenti di Layar

Ada masa ketika kita merasa hidup hanya berputar pada diri sendiri. Mengejar pendidikan, pekerjaan, pencapaian, validasi, dan mencoba mengikuti kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial. FOMO membuat kita takut tertinggal dari orang lain, sementara tekanan untuk terlihat baik-baik saja sering membuat kita lupa bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya, untuk apa semua ini?

Di tengah pencarian itu, terjun ke ruang sosial bisa menjadi pengalaman yang mengubah cara kita memandang kehidupan, ketika kita datang ke masyarakat, kita menemukan bahwa kehidupan tidak selalu sesederhana apa yang terlihat di layar. Kita bertemu orang-orang yang mungkin memiliki keterbatasan, tetapi tetap mampu tersenyum. Kita mendengar cerita tentang perjuangan yang tidak pernah masuk media sosial. Kita melihat anak-anak yang tetap ingin belajar meskipun fasilitasnya terbatas. Kita bertemu keluarga yang sedang bangkit setelah bencana. Dari sana, kita belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang ingin kita capai, tetapi juga tentang apa yang bisa kita berikan.

Di lapangan, empati tidak lagi menjadi sekadar kata. Ia berubah menjadi pengalaman, menjadi penggerak perubahan tidak selalu berarti harus melakukan sesuatu yang besar. kadang perubahan dimulai dari hal yang sangat sederhana, membantu kegiatan masyarakat, mengajar anak-anak, membersihkan lingkungan, mendampingi kelompok rentan, menjadi relawan kebencanaan, atau sekadar mengajak teman untuk lebih peduli terhadap persoalan di sekitarnya.

Foto: Rafi Mulyawan Ekspedisi Arjuna Mandala Kampar Kiri Hulu

Anak muda tidak harus menunggu menjadi hebat untuk memberi manfaat. Kita tidak harus menunggu memiliki banyak uang, jabatan, atau pengalaman bertahun-tahun. Sebab masyarakat tidak selalu membutuhkan orang yang sempurna. Masyarakat membutuhkan orang yang mau peduli, mau hadir, dan mau bergerak.

Aksi sosial adalah bentuk kepedulian yang diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Ia bisa hadir dalam berbagai bentuk, sesuai dengan kemampuan dan ruang yang kita miliki. Ada yang menyumbangkan waktu, tenaga, pengetahuan, keterampilan, jaringan, bahkan sekadar kemauan untuk mendengarkan.

Bagi anak muda, ruang-ruang seperti ini menjadi tempat yang penting untuk mengubah energi, kreativitas, dan idealisme menjadi sesuatu yang bermanfaat. Di sanalah kita belajar bahwa menjadi muda bukan hanya tentang memiliki banyak mimpi, tetapi juga tentang keberanian untuk menjadikan sebagian dari mimpi itu berguna bagi orang lain.

Lapangan Mengajarkan Hal yang Tidak Selalu Ada di Ruang Kelas, ada banyak hal yang tidak bisa sepenuhnya dipelajari melalui buku. Salah satunya adalah bagaimana memahami manusia.

Ketika turun langsung ke masyarakat, kita belajar bahwa setiap persoalan memiliki cerita. Kita belajar untuk tidak terburu-buru memberikan solusi sebelum benar-benar memahami kebutuhan. Kita belajar bahwa membantu bukan berarti datang dengan merasa paling tahu, melainkan hadir dengan kemauan untuk mendengar dan belajar bersama.

Pengalaman seperti itu perlahan membentuk mental anak muda, Kita belajar resilience, karena tidak semua rencana berjalan sesuai harapan. Kita belajar kepemimpinan, karena di lapangan terkadang kita harus mengambil keputusan dalam keterbatasan. Kita belajar komunikasi ketika berhadapan dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Kita belajar mengelola konflik, bekerja dalam tim, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan seorang diri.

Lebih jauh lagi, kita belajar tentang kerendahan hati.

Sebab terkadang kita datang dengan niat untuk membantu, tetapi justru masyarakatlah yang mengajarkan kita tentang arti keteguhan, kesabaran, dan rasa syukur. Kita datang membawa tenaga, tetapi pulang membawa pelajaran. Kita datang ingin memberi, tetapi justru menerima begitu banyak makna.

Di situlah aksi sosial menjadi lebih dari sekadar aktivitas. Ia menjadi proses pembentukan diri.

Menjadi pemuda berdaya sebenarnya dapat dimulai dari sebuah proses yang sederhana, Peka melihat masalah, Berani mengambil peran, Belajar dan bekerja bersama, Beraksi secara nyata, lalu menciptakan dampak.

Kepekaan membuat kita mampu melihat persoalan yang sebelumnya mungkin kita abaikan. Keberanian membuat kita tidak hanya menjadi penonton. Kolaborasi mengajarkan bahwa perubahan tidak pernah lahir dari satu orang saja. Sementara aksi nyata membuat kepedulian memiliki bentuk dan manfaat yang dapat dirasakan.

Dalam proses itu, kita bukan hanya membantu orang lain. Kita juga sedang membentuk diri sendiri.

Mental tangguh tidak selalu lahir dari keberhasilan. Ia sering tumbuh dari perjalanan panjang ketika kita belajar menghadapi keterbatasan, kegagalan, perbedaan, dan ketidakpastian. Kepemimpinan tidak selalu dimulai dari sebuah jabatan. Ia bisa dimulai ketika seseorang berani berkata, “Saya akan ikut membantu.”

Dan keberdayaan tidak selalu berarti mampu melakukan semuanya sendiri. Justru pemuda yang berdaya adalah mereka yang mampu menggunakan apa yang dimilikinya untuk membuat orang lain ikut berdaya.

Anak Muda Membutuhkan Ruang untuk Bertumbuh, karena itu, anak muda membutuhkan lebih banyak ruang untuk berproses. Ruang untuk mencoba, gagal, belajar, bertemu orang baru, memahami persoalan masyarakat, dan menemukan makna dari apa yang mereka lakukan, ruang itu bisa hadir dalam komunitas, organisasi, gerakan sosial, kegiatan kerelawanan, maupun berbagai program pengabdian masyarakat.

Di Pekanbaru, salah satu ruang yang dapat menjadi tempat anak muda untuk belajar dan mengambil peran sosial adalah Dompet Dhuafa Volunteer (DDV) Riau. Bukan sekadar tempat untuk berkegiatan, ruang kerelawanan seperti ini dapat menjadi wadah bagi anak muda untuk bertemu dengan realitas masyarakat, mengembangkan kapasitas diri, membangun jejaring, bekerja dalam tim, sekaligus menghadirkan manfaat.

Foto: Rafi Mulyawan Ekspedisi Arjuna Mandala Kampar Kiri Hulu

Sebab pada akhirnya, kita tidak hanya membutuhkan generasi muda yang pintar berbicara tentang perubahan. Kita membutuhkan generasi yang bersedia turun tangan.

Mungkin kita belum mampu menyelesaikan semua persoalan. Tidak apa-apa, kita tidak harus melakukan semuanya. Kita hanya perlu memulai dari apa yang bisa kita lakukan hari ini.

Barangkali, di tengah dunia yang semakin ramai tetapi membuat banyak orang merasa sendiri, aksi sosial adalah salah satu cara kita kembali terhubung dengan manusia lain, dengan masyarakat, dengan lingkungan, dan pada akhirnya dengan diri kita sendiri.

Karena pemuda berdaya bukan mereka yang merasa mampu melakukan semuanya sendiri, tetapi mereka yang mampu menggunakan apa yang dimilikinya untuk membuat orang lain ikut berdaya, mari tidak hanya menjadi generasi yang menyaksikan perubahan. Mari menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.